Boikot BTS dan Stray Kids: Penolakan terhadap Kategori Asian Pop
Boikot Grammy Awards 2027 oleh BTS dan Stray Kids adalah aksi kolektif dua raksasa K‑pop yang menolak kategori Asian Pop karena dianggap memisahkan musisi Asia dari panggung pop utama dan merusak klaim inklusivitas penghargaan musik global. Langkah ini menjadikan Grammy bukan sekadar ajang penghargaan, melainkan medan perdebatan politik representasi budaya dan bahasa dalam musik arus utama.
The Recording Academy memperkenalkan kategori Best Asian Pop Music Performance sebagai bentuk penghargaan terhadap karya pop dari pasar Asia, mencakup K‑pop, J‑pop, dan C‑pop. Kategori ini disertai aturan penggunaan satu atau lebih bahasa Asia secara bermakna dan periode kelayakan 31 Agustus 2025 hingga 28 Agustus 2026. Meski menuai protes, CEO Harvey Mason Jr. menegaskan kategori Musik Pop Asia akan tetap dipertahankan untuk Grammy Awards 2027. Inilah titik ketegangan: ketika “penghargaan musik Asia” diformalkan, batas antara pengakuan dan segregasi menjadi kabur.

Alasan BTS dan Stray Kids: Dari Standar Ganda hingga Legitimasi Grammy
BTS boikot Grammy bukan soal kurang percaya diri, melainkan penolakan terhadap logika kategori Asian Pop yang memisahkan musik berdasarkan wilayah dan bahasa. Mereka menilai pengotakan semacam ini mencederai semangat inklusivitas dan menciptakan standar ganda dalam penilaian kualitas karya. BTS secara serentak menyatakan, “Kami tidak akan mengirimkan karya untuk dipertimbangkan dalam Grammy Awards 2027” sebagai bentuk protes terbuka. Pada Juli 2026, ketujuh member mengumumkan tidak akan mengirimkan musik untuk kategori apa pun di Grammy.
Stray Kids menyusul dengan cara lebih sunyi namun sama politis. JYP Entertainment mengonfirmasi bahwa mereka tidak mengirimkan karya apa pun sebelum batas waktu pengajuan 21 Agustus, meski beberapa rilisan seperti album Do It, lagu Divine, single peringatan 10 tahun Stay, dan mini album This & That sepenuhnya memenuhi periode kelayakan 31 Agustus 2025 hingga 28 Agustus 2026. Ironisnya, semua delapan anggota Stray Kids baru saja menjadi voting members Recording Academy. Mereka memilih berpartisipasi sebagai pemilih, tapi menahan katalog mereka sendiri dari nominasi. Ini sinyal jelas: legitimasi Grammy sedang diuji dari dalam.
BLACKPINK dan Aturan Bahasa: Ketika Regulasi Membatasi Kreativitas
Jika BTS dan Stray Kids menolak masuk, BLACKPINK tersandung di pintu. Mini album ketiga mereka, DEADLINE, dirilis pada 27 Februari 2026 dengan lima lagu. Namun, lagu JUMP keluar pada 11 Juli 2025, lebih awal dari periode kelayakan dan sudah diajukan untuk Grammy ke‑68. Empat lagu lain sepenuhnya berbahasa Inggris, membuatnya tidak memenuhi aturan kategori Asian Pop yang mensyaratkan penggunaan bahasa Asia secara bermakna dan otomatis menolak lagu yang seluruhnya berbahasa Inggris.
Aturan yang tampak teknis ini punya dampak politis: musisi Asia yang memilih menulis dalam bahasa Inggris demi menjangkau pasar global justru tersisih dari kategori yang konon dibuat untuk mereka. Rilisan solo Jennie, EP digital Fallen Angel, juga gugur karena ketentuan bahasa meski dirilis tepat pada 28 Agustus 2026, hari terakhir periode kelayakan. Ketika regulasi bahasa menjadi pintu gerbang, Grammy memaksa musisi Asia memilih antara ekspresi kreatif kosmopolitan dan identitas linguistik yang disertifikasi lembaga Barat. Itu kompromi yang tak semua artis mau terima.
Kategori Asian Pop: Pengakuan atau Segregasi Terselubung?
The Recording Academy mengklaim kategori Asian Pop lahir dari sesi dengar pendapat dengan komunitas musik Asia dan mendapat dukungan signifikan. Mereka menegaskan telah menerima jumlah pengajuan yang besar untuk kategori ini dan berencana merayakan para nomine di Grammy Awards ke‑69 pada 7 Februari 2027. Boikot BTS, Stray Kids, dan tersisihnya rilisan BLACKPINK menunjukkan bahwa sebagian suara Asia tidak merasa diwakili. Ketika kategori baru dibuat, tapi nama‑nama paling berpengaruh absen, pertanyaan pun muncul: apakah ini ruang kehormatan, atau “kandang” khusus yang mengunci musisi Asia di luar kategori Pop utama?
Absennya BTS dan Stray Kids diprediksi memengaruhi persepsi publik terhadap kategori pop Asia perdana ini; keduanya sebelumnya dipandang sebagai kandidat kuat penghargaan tersebut. Sementara itu, perdebatan tentang pemisahan musik berdasarkan bahasa dan wilayah makin tajam, dengan musisi lain seperti Hongjoong dari ATEEZ ikut menyatakan simpati pada sikap BTS. Yang dipertaruhkan bukan hanya satu piala, melainkan definisi “global” dalam industri musik. Selama kategori Asian Pop berdiri terpisah dari Pop utama, Grammy tampak mengakui bakat Asia sambil tetap menjaga pusat kekuasaan estetika di tempat lain.
Dampak Jangka Panjang: Masa Depan Penghargaan Musik Asia di Panggung Global
Grammy Awards ke‑69, yang akan mengumumkan nominasi setelah batas akhir pengajuan 16 November dan digelar di Crypto.com Arena pada 7 Februari 2027, kini menjadi ujian besar bagi reputasi Grammy. Dengan “penghargaan musik Asia” yang dikemas sebagai Best Asian Pop Music Performance, namun tanpa partisipasi BTS dan Stray Kids, kredibilitas kategori ini akan diukur bukan dari jumlah pengajuan, melainkan dari siapa yang memilih tidak hadir.
CEO Harvey Mason Jr. mengakui keputusan mempertahankan kategori tersebut tidak akan memuaskan semua pihak. Namun, jika Grammy ingin tetap relevan sebagai tolok ukur global, mereka perlu melampaui logika etalase khusus bagi Asia. Boikot BTS dan Stray Kids adalah sinyal peringatan: representasi bukan sekadar memberi ruangan baru, tetapi membuka akses yang sama ke panggung utama. Jika tidak, penghargaan musik Asia berisiko menjadi ornamen eksotis di rumah yang struktur kekuasaannya tak pernah berubah.






