Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Boikot Grammy Awards: Mengapa Kategori Asian Pop Dianggap Bermasalah

Boikot Grammy Awards: Mengapa Kategori Asian Pop Dianggap Bermasalah
Minat|Penyanyi/Band Pop

Asian Pop di Grammy: Pengakuan atau Pengkotakan Baru?

Kategori Asian Pop Grammy Awards adalah kategori penghargaan baru bernama Best Asian Pop Music Performance yang dirancang Recording Academy untuk mengapresiasi penampilan pop Asia—termasuk K-pop, J-pop, dan C-pop—dengan syarat penggunaan setidaknya satu bahasa Asia secara bermakna, sehingga lagu yang sepenuhnya berbahasa Inggris tidak dapat masuk kategori ini. Dari titik awal inilah kontroversi meletus. Di atas kertas, kategori musik Asia Grammy ini tampak seperti langkah maju: pengakuan formal bahwa pop Asia sudah menjadi kekuatan global. Namun, boikot dan penolakan dari nama terbesar K-pop menunjukkan bahwa cara pengakuan itu dinilai keliru. Alih-alih merayakan keberagaman, banyak pelaku industri khawatir kategori ini justru menciptakan tembok baru yang memisahkan artis Asia dari panggung utama Grammy Awards.

Boikot Grammy Awards: Mengapa Kategori Asian Pop Dianggap Bermasalah

BTS dan Stray Kids: Boikot Sebagai Perlawanan terhadap “Glass Ceiling”

Pusat badai kontroversi ini adalah keputusan BTS boikot Grammy dengan tidak mengajukan album terbaru mereka, ARIRANG, beserta lagu-lagunya untuk dipertimbangkan di Grammy Awards, keputusan yang diumumkan pada Juli melalui pernyataan resmi di akun para anggota. Mereka menilai kategori khusus Asian Pop berpotensi menciptakan “batasan kaca” baru yang membuat musisi K-pop semakin sulit menembus kategori utama seperti Record of the Year atau Album of the Year. Reuters mencatat bahwa ketidakpuasan terhadap kategori baru ini menjadi alasan utama keputusan tersebut. Stray Kids memilih langkah serupa, tidak mengirimkan karya mereka sehingga Recording Academy harus mengumumkan bahwa kategori tetap berlanjut meski dua nama besar K-pop menolak berpartisipasi. Sikap mereka jelas: jika musik pop Asia sudah mainstream, mengapa masih harus ditempatkan di ruang terpisah yang berlabel Asia?

Boikot Grammy Awards: Mengapa Kategori Asian Pop Dianggap Bermasalah

BLACKPINK di Luar Arena dan Respons Recording Academy

Di tengah polemik Grammy Awards Asian Pop, BLACKPINK juga berada di luar persaingan. Tiga nama besar—BLACKPINK, BTS, dan Stray Kids—resmi tidak masuk jajaran kandidat kategori Best Asian Pop Music Performance, meski dengan alasan berbeda. Absennya BLACKPINK mempertegas paradoks: kategori yang digadang-gadang sebagai panggung pop Asia malah kehilangan ikon-ikon terbesarnya. Recording Academy, lewat CEO Harvey Mason Jr., memilih bertahan. Ia menegaskan kategori Asian Pop Music Performance tetap hadir di Grammy Awards dan menyebut telah melakukan sesi dengar serta dialog dengan pelaku industri musik Asia. Menurut Mason, masukan paling dominan datang dari kreator musik yang mendukung kategori ini agar dipertahankan. Kutipan yang layak dicatat dari Mason adalah: "Kami yakin ini merupakan keputusan yang tepat bagi komunitas musik secara keseluruhan," meski ia mengakui tidak semua pihak akan merasa senang.

Aturan Bahasa dan Risiko Pengkotakan Identitas

Salah satu titik paling kontroversial dari kategori musik Asia Grammy ini adalah aturan bahasa: karya harus menggunakan setidaknya satu bahasa Asia secara bermakna, sehingga lagu yang sepenuhnya berbahasa Inggris otomatis tersingkir dari kategori. Aturan ini tampak logis jika tujuannya melindungi bahasa Asia agar tidak larut dalam dominasi Inggris. Tetapi dalam praktik industri global, banyak artis Asia memilih berbahasa Inggris untuk memperluas jangkauan mereka. Ketika Grammy Awards Asian Pop hanya membuka pintu bagi lagu dengan bahasa Asia, pesan tersiratnya berbahaya: artis Asia “layak” diakui sebagai Asian Pop, bukan sebagai pop global penuh. Di sinilah kekhawatiran BTS soal glass ceiling terasa masuk akal—bahkan ketika musisi Asia menguasai tangga lagu dunia, Grammy tetap memberi kotak khusus, seakan identitas geografis lebih penting daripada kualitas artistik.

Pengakuan Global vs Keadilan Representasi: Ke Mana Arah Grammy?

Di balik boikot BTS Grammy, absennya Stray Kids Grammy Awards, dan BLACKPINK yang tak masuk kategori Grammy, terdapat ketegangan yang jauh lebih besar: pertarungan antara pengakuan global dan keadilan representasi. Recording Academy berargumen bahwa kategori Asian Pop Music Performance adalah langkah penting untuk perkembangan komunitas musik secara luas. Namun dari sudut pandang banyak penggemar dan musisi, cara pengakuan itu terasa setengah hati—seakan Grammy mengakui pop Asia, tetapi enggan memposisikan mereka setara di kategori utama. Ironisnya, kategori yang dimaksudkan untuk merayakan musik Asia justru memicu boikot dan menyingkirkan nama-nama yang membuat pop Asia mendunia. Jika Grammy Awards ingin tetap relevan sebagai tolok ukur prestise global, langkah berikutnya harus lebih berani: bukan sekadar kategori khusus, tetapi pembukaan penuh pintu utama bagi artis Asia tanpa syarat geografis maupun bahasa.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!