Dua proyek, tahap yang berbeda
Pembangkit listrik dari sampah adalah fasilitas yang mengolah limbah menjadi energi, sekaligus membantu mengurangi sampah yang harus ditangani dengan cara lain. Namun, kemajuan PSEL Denpasar Raya dan PSEL Palembang saat ini berada pada tahap yang sangat berbeda. Denpasar masih membangun infrastruktur dasar, sedangkan Palembang telah menguji fasilitas dan mengalirkan listrik ke jaringan. Perbandingan ini menunjukkan kemajuan masing-masing proyek, bukan perlombaan dengan jadwal atau kapasitas yang seragam.
Peletakan batu pertama PSEL Denpasar Raya dilakukan Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan dan CEO Danantara Rosan Roeslani pada 8 Juli 2026. Pada awal November, progresnya mencapai 24 persen; angka itu mencakup penataan lahan dan pemasangan tiang pancang. Kunjungan Komisi III DPRD Bali pada 2 November bertujuan mengawasi jadwal serta mutu pekerjaan. Capaian tersebut dinilai cukup cepat untuk sekitar empat bulan pekerjaan fisik, meski hujan mulai menghambat pengeboran tiang pancang.

Palembang sudah memasok listrik, tetapi belum selesai
Kontrasnya terlihat di Palembang. Saat ditinjau Zulkifli Hasan dan Wali Kota Ratu Dewa pada 4 November 2026, fasilitas itu telah menghasilkan 18,6 MW dalam uji coba operasional—melampaui target awal 17,7 MW—dan listriknya sudah tersambung ke jaringan PLN. Produksi diperkirakan dapat mencapai 20 MW saat beban puncak. Ini capaian nyata, tetapi belum berarti operasi penuh: fasilitas masih memerlukan penyempurnaan, sementara commissioning ditargetkan rampung pada Desember 2026. Pemerintah kota menyebut progres pembangunan keseluruhan mencapai 98,5 persen dan menargetkan peresmian pada 8 Desember.
Sekitar 1.100 ton sampah per hari diangkut untuk mendukung operasional PSEL Palembang. Listriknya diperkirakan mencukupi kebutuhan 14.000 hingga 15.000 rumah tangga, sementara proyek diproyeksikan menyerap 500 hingga 1.000 tenaga kerja lokal. Angka tersebut memberi gambaran manfaat bagi warga, tetapi pasokan sampah dan kesiapan fasilitas tetap menentukan keberlanjutan hasilnya. Palembang masih membutuhkan tambahan armada pengangkut, sehingga operasi penuh bergantung bukan hanya pada teknologi, melainkan juga pada rantai pengumpulan sampah.
Jangan samakan kapasitas dan tenggat
Perbedaan utama bukan sekadar 24 persen berbanding 98,5 persen. Palembang sudah berada pada fase uji operasi dan commissioning; Denpasar masih mengerjakan lahan serta fondasi. Keduanya juga tidak boleh dinilai seolah memiliki skala atau tenggat yang sama. PSEL Denpasar Raya dirancang mengolah hingga 1.500 ton sampah per hari, sementara informasi tentang PSEL Palembang menekankan pasokan sekitar 1.100 ton per hari dan keluaran listriknya. Angka-angka itu mengukur hal berbeda, sehingga tidak cukup untuk menyimpulkan kapasitas listrik atau kinerja relatif kedua fasilitas.
Untuk Denpasar, target yang disampaikan adalah pembangunan rampung pada 2027 dan mulai beroperasi pada awal 2028. Kapasitas pengolahan 1.500 ton per hari diharapkan menangani sebagian besar dari sekitar 1.900 ton sampah harian Denpasar dan Badung; sekitar 400 ton sisanya tetap perlu dikelola dari sumber. Karena itu, PSEL bukan pengganti pemilahan. Warga dan pelaku usaha perlu terus memilah serta mengolah sampah sejak awal, sementara kontraktor harus menjaga mutu dan jadwal meski cuaca menghambat.
Kemajuan baru berarti jika operasinya terjaga
PSEL Palembang membuktikan bahwa listrik dari sampah dapat mulai mengalir sebelum fasilitas dinyatakan beroperasi penuh. Namun, capaian uji coba belum sama dengan operasi stabil. Penyelesaian commissioning pada Desember dan kesiapan pengangkutan sampah akan menjadi ujian berikutnya. Denpasar, pada sisi lain, perlu mempertahankan laju konstruksi dan memastikan sistem pengelolaan dari sumber berjalan berdampingan dengan fasilitas.
Kesimpulannya, Palembang telah mencapai tahap yang lebih maju dalam pengoperasian, sementara Denpasar masih membangun fondasi proyek yang ditargetkan melayani kebutuhan pengolahan sampah skala besar. Perbedaan itu wajar karena jadwal, desain, dan ukuran kedua proyek tidak identik. Ukuran keberhasilan akhirnya bukan angka progres semata, melainkan fasilitas yang aman, beroperasi sesuai rencana, memperoleh pasokan sampah yang terkelola, dan memberikan manfaat energi tanpa mengendurkan pengurangan serta pemilahan sampah.






