Progres 24 Persen Harus Dijaga
PSEL Denpasar Raya adalah fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik yang dibangun untuk mengolah sampah sekaligus menghasilkan listrik, sebagai bagian dari upaya menangani persoalan sampah di Bali. Hingga awal November 2026, pembangunannya tercatat mencapai 24 persen, sekitar empat bulan setelah peletakan batu pertama pada 8 Juli 2026. Capaian itu menjadi titik awal yang menjanjikan, tetapi belum cukup untuk mengendurkan pengawasan: target penyelesaian konstruksi pada akhir 2027 tinggal sekitar setahun lagi.
Pada 2 November 2026, Komisi III DPRD Bali bersama Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup meninjau lokasi proyek di Desa Pedungan, Denpasar Selatan. Kunjungan tersebut dimaksudkan untuk memeriksa kesesuaian jadwal dan spesifikasi, sekaligus mendorong kontraktor mempercepat pengerjaan fisik. Ketua Komisi III I Nyoman Suyasa menilai progres awal cukup baik, namun meminta kecepatan tetap diimbangi mutu. Sikap itu tepat: angka kemajuan hanya berarti jika pekerjaan berikutnya berjalan konsisten dan fasilitas siap beroperasi sesuai rencana.

Jarak Menuju Target 2028
Rencana induk menargetkan konstruksi tuntas pada akhir 2027 dan operasi komersial dimulai pada 2028. Dengan progres baru 24 persen, proyek masih harus melewati sebagian besar pekerjaan fisik dalam jadwal yang relatif ketat. Perbandingan ini membuat desakan DPRD lebih dari sekadar dorongan politik: keterlambatan pembangunan dapat menggeser manfaat yang ditunggu warga dan daerah. PSEL Denpasar Raya disebut belum menghadapi kendala besar, tetapi hujan mulai menghambat pekerjaan tertentu.
Pemasangan fondasi dengan metode bore pile memerlukan kondisi yang mendukung, sementara genangan dan cuaca basah berisiko memperlambat pengeboran. Karena itu, kontraktor perlu mengantisipasi musim hujan tanpa mengorbankan presisi struktur. PSEL adalah proyek teknis yang tidak boleh dikebut dengan mengabaikan kualitas, tetapi jadwal juga tak boleh dibiarkan meleset tanpa langkah koreksi. Keberhasilan proyek PSEL Bali pada akhirnya harus diukur dari dua hal sekaligus: fasilitas selesai tepat waktu dan berfungsi sebagaimana dirancang.
Solusi Penting, Bukan Jawaban Tunggal
Fasilitas ini dirancang mengolah hingga 1.500 ton sampah per hari. Denpasar dan Badung bersama-sama menghasilkan sekitar 1.900 ton per hari, sehingga kapasitas PSEL dapat menangani sebagian besar, tetapi tidak seluruhnya. Selisih sekitar 400 ton harian tetap perlu dikelola melalui upaya lain. Angka tersebut menunjukkan mengapa PSEL penting bagi pengolahan sampah Bali, sekaligus mengapa anggapan bahwa satu fasilitas akan menuntaskan krisis sampah terlalu sederhana.
Bagi warga dan pelaku usaha, manfaatnya akan bergantung pula pada kebiasaan memilah dan mengolah sampah sejak sumbernya. Pemerintah daerah menyatakan kelebihan sampah perlu ditangani dari sumber, dan pemilahan tetap diharapkan berjalan setelah fasilitas beroperasi. Dengan demikian, penanganan sampah Denpasar tak cukup bertumpu pada teknologi di Pedungan. PSEL dapat menjadi bagian penting dari solusi modern dan menghasilkan energi terbarukan, tetapi pengurangan beban melalui pengelolaan sehari-hari tetap menjadi tanggung jawab bersama.
Kesimpulan: Percepatan Harus Disertai Pengawasan
Progres 24 persen memberi alasan untuk optimistis, bukan untuk merasa aman. Target operasi penuh pada 2028 masih dapat dikejar jika kontraktor menjaga ritme pembangunan, mengantisipasi hujan, dan memenuhi standar teknis. DPRD Bali perlu terus mengawasi perkembangan nyata, bukan hanya menerima persentase kemajuan. Pada saat yang sama, pemerintah dan masyarakat harus memastikan pemilahan serta pengelolaan dari sumber tetap berjalan. PSEL Denpasar Raya layak disebut solusi penting bagi sampah Denpasar dan sekitarnya, tetapi keberhasilannya akan ditentukan oleh ketepatan waktu, kualitas fasilitas, dan kerja pengelolaan sampah yang melengkapinya.






