Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dugaan Perundungan di SMP Tangsel: 13 Siswa Jadi Korban

Dugaan Perundungan di SMP Tangsel: 13 Siswa Jadi Korban
Minat|Pengetahuan Parenting

Kasus Terungkap lewat Panggilan Guru BK

Perundungan siswa SMP adalah perlakuan berulang yang merendahkan, menakut-nakuti, atau menyakiti siswa lain, termasuk melalui paksaan dan pemerasan di lingkungan sekolah. Dugaan perundungan terhadap 13 siswa SMP negeri di Ciputat Timur, Tangerang Selatan, menunjukkan bahwa tindakan kakak kelas terhadap adik kelas dapat luput dari perhatian keluarga sampai sekolah membuka percakapan. Setiawan, salah satu orang tua, mengatakan keluarganya awalnya tidak mengetahui kejadian tersebut. Masalah mulai terungkap ketika ia dipanggil guru bimbingan konseling (BK) untuk membahas persoalan anaknya. Dari pertemuan itu, ia baru mengetahui bahwa anaknya diduga bukan satu-satunya korban. Menurut Setiawan, 13 siswa diduga mengalami perlakuan serupa dari kakak kelas, dan tiga di antaranya sempat dirawat di rumah sakit setelah diduga dipaksa mengonsumsi campuran bahan tertentu.

Dugaan Perundungan di SMP Tangsel: 13 Siswa Jadi Korban

Dugaan Paksaan dan Permintaan Uang

Keterangan yang disampaikan orang tua menggambarkan dugaan bullying kakak kelas yang tak hanya melibatkan paksaan mengonsumsi campuran tertentu. Setiawan juga mengaku mendapat informasi bahwa adik kelas dimintai uang jika dianggap melakukan kesalahan. Nominal yang disebut berkisar Rp5.000 hingga Rp10.000, sementara dalam kasus tertentu kabarnya mencapai Rp100.000, bergantung pada kesalahan yang dituduhkan kepada korban. Ia mengatakan anak-anak menyebut campuran itu terdiri antara lain dari cuka, bawang putih, dan kopi. Namun, kandungan campuran tersebut dan kaitannya dengan kondisi kesehatan siswa belum diverifikasi secara independen; Setiawan pun mengakui belum memiliki bukti autentik. Pembedaan antara dugaan, cerita yang diterima keluarga, dan fakta yang sudah teruji penting agar penanganan serius tidak berubah menjadi kesimpulan prematur. Di saat yang sama, klaim tiga siswa dirawat patut ditindaklanjuti dengan pemeriksaan dan penjelasan yang bisa dipertanggungjawabkan.

Rasa Takut Tak Berakhir di Ruang Kelas

Dampak bagi korban bullying sekolah tidak berhenti pada dugaan perlakuan fisik atau tekanan untuk menyerahkan uang. Setiawan mengatakan anaknya masih takut ketika berpapasan dengan kakak kelas yang diduga terlibat. Rasa takut itu membuat anaknya tidak nyaman beraktivitas di sekolah dan, menurut kekhawatiran orang tuanya, dapat mengganggu rasa aman saat belajar. Karena itu, respons sekolah semestinya dinilai bukan hanya dari ada atau tidaknya hukuman, tetapi juga dari langkah nyata untuk mencegah kontak yang mengintimidasi, melindungi identitas anak, dan menyediakan jalur pelaporan yang aman. Orang tua korban mempertanyakan belum adanya sanksi yang memberi kepastian. Kekhawatiran mereka layak dijawab dengan proses yang jelas dan adil, bukan dengan sikap yang membuat anak merasa melapor sia-sia. Tanpa perlindungan, korban bisa tetap membawa rasa takut ke ruang kelas meski dugaan kejadian sedang dibahas.

Sekolah Perlu Menjelaskan Langkah Berikutnya

Penyelesaian tidak cukup dengan satu pertemuan bersama orang tua, kepala sekolah, dan guru BK, yang menurut Setiawan belum memberi kepastian tentang sanksi. Ia meminta sekolah memastikan keamanan siswa dan menangani kasus secara konkret. Kepolisian menyatakan informasi yang beredar telah dicek melalui Bhabinkamtibmas, serta mendorong sekolah bersama UPTD PPA menghimpun keterangan secara menyeluruh. Orang tua dapat menyampaikan laporan resmi kepada Unit PPA/PPO Satreskrim Polres Tangerang Selatan jika menilai keterlibatan aparat diperlukan. Langkah itu penting untuk menguji keterangan, menjaga hak semua anak yang terlibat, dan menentukan tindak lanjut berdasarkan fakta. Kesimpulannya, dugaan perundungan ini menuntut penyelidikan yang cermat sekaligus perlindungan segera bagi para siswa. Sekolah perlu menyampaikan proses dan jaminan keselamatan dengan terbuka; menunggu sampai korban berani bicara sendiri bukanlah sistem pencegahan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!