Papua Selatan sebagai poros baru pengembangan pertanian
Pengembangan pertanian Papua Selatan adalah strategi pemerintah menjadikan wilayah ini sentra pangan yang menghubungkan produksi padi skala besar, program transmigrasi modern, dan kerjasama investasi asing, dengan tujuan mendorong lumbung pangan nasional di timur serta membuka jalan hilirisasi produk ekspor berbasis komoditas lokal. Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian pemerintah pusat terhadap Papua Raya—khususnya Papua Selatan—semakin eksplisit melalui program cetak sawah, optimasi lahan, dan Program Strategis Nasional (PSN) di sektor tanaman pangan. Namun poin pentingnya: arah kebijakan bukan hanya menambah luas lahan, tetapi mengikatnya dengan rantai pasok nasional dan peluang pasar luar negeri. Kita sedang menyaksikan sebuah taruhan besar: apakah sentra pangan Papua Selatan mampu naik kelas dari produsen bahan baku menjadi pemain ekspor yang menguntungkan dan adil bagi masyarakat lokal.
Investasi pertanian Tiongkok: peluang besar atau ketergantungan baru?
Agenda menjadikan Papua Selatan sebagai sentra pangan tak bisa dilepaskan dari kesiapan Tiongkok berinvestasi di sektor pertanian dan perikanan kawasan ini. Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo hadir dalam pertemuan di Jakarta dengan Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman dan Duta Besar Tiongkok Wang Lutong pada 23 Oktober 2025 untuk membahas investasi pertanian dan perikanan, sebagai tindak lanjut kunjungan menteri ke Tiongkok sebelumnya. Dalam ruang ini, "salah satu fokusnya adalah investasi pertanian untuk pengembangan sentra pangan dan perikanan di Papua Selatan". Rencana ke depan mencakup peninjauan investor pada November dan forum bisnis yang berpotensi menghadirkan ratusan hingga ribuan pengusaha Tiongkok di Jakarta pada Desember. Di atas kertas, ini adalah lonceng peluang: akses teknologi, modal, dan pasar. Tapi tanpa desain regulasi yang kuat, ia juga bisa berubah menjadi ketergantungan baru, di mana petani lokal hanya menjadi penyedia lahan dan tenaga kerja di rantai nilai yang dikendalikan investor luar.

Merauke: lumbung pangan nasional yang mulai dihitung serius
Jika Papua Selatan adalah kerangka besar pengembangan pertanian Papua, maka Merauke adalah tulang punggungnya. Sekda Papua Selatan Ferdinandus Kainakaimu menegaskan Merauke berpotensi sebagai lumbung pangan nasional, didukung lahan luas dan statusnya dalam PSN. Data yang dipaparkan tajam: target optimalisasi lahan (Oplah) 2025 mencapai 40.000 hektare di Merauke, dengan produksi bersih 205.231 ton beras dan gabah kering panen 426.828 ton dari lahan panen seluas 78.955 hektare. "Cadangan pangan menjamin stok cadangan beras pemerintah tetap di atas level aman sepanjang 2025". Angka ini tidak sekadar statistik; ia menunjukkan bahwa lumbung pangan nasional di timur sudah bekerja, meski belum maksimal. Perluasan sawah PSN dan Oplah diproyeksikan meningkatkan produksi hingga 2027, artinya Merauke bukan lagi cadangan, tetapi bagian utama kalkulasi stok beras nasional. Tantangannya: bagaimana pengembangan pertanian Papua di Merauke tetap menguntungkan petani lokal dan tidak tergelincir menjadi proyek angka tanpa kesejahteraan.

Telaga Sari dan sentra pangan Papua Selatan: dari lahan ke ekosistem
Kunjungan kerja Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara dan Dubes Tiongkok ke Kampung Telaga Sari, Distrik Kurik, yang didampingi Sekda Ferdinandus, adalah sinyal bahwa pengembangan lahan pertanian strategis mulai menyentuh titik-titik konkret di Papua Selatan. Telaga Sari dilihat bukan sekadar lahan kosong, melainkan embrio sentra pangan Papua Selatan yang bisa dihubungkan dengan investasi pertanian Tiongkok, transmigrasi modern, dan teknologi pertanian. Dukungan pengembangan kawasan transmigrasi, infrastruktur, irigasi, serta kerjasama investasi dan teknologi pertanian diposisikan untuk memperkuat ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat. Di sini, rencana pengembangan perkebunan dan lahan sawah harus dibaca sebagai pembangunan ekosistem: petani, penyuluh, koperasi, dan jalur distribusi ke gudang-gudang Papua. Tanpa ekosistem itu, ekspansi lahan akan berakhir sebagai deretan angka land clearing dan land leveling, bukan lumbung pangan nasional yang hidup.
Sentra pertanian Papua Raya dan pelajaran dari stok beras nasional
Pengembangan pertanian Papua tidak berhenti di Papua Selatan; Papua Pegunungan dan Papua Barat Daya juga mendapat dukungan untuk tanaman pangan, perkebunan, dan peternakan. Kepala Pusat Penyuluh Pertanian Eko Nugroho Damo Putra menegaskan bahwa konsentrasi penuh Menteri Pertanian di Papua Raya bertujuan membangkitkan semangat petani dan perekonomian warga. Hasil awalnya tampak pada level nasional: stok beras Bulog sekitar 5 juta ton, salah satu yang tertinggi dalam sejarah, disebut sebagai buah kerja bersama antara pemerintah pusat dan daerah. Ini pelajaran penting bagi proyek lumbung pangan nasional di Merauke dan sentra pangan Papua Selatan: sinergi dan koordinasi nyata mampu mengubah kebijakan menjadi stok beras yang aman. Ke depan, jika investasi pertanian Tiongkok, program PSN, dan penguatan penyuluhan berjalan selaras, Papua Raya berpeluang bukan hanya mengamankan stok nasional, tetapi menyuplai hilirisasi produk ekspor berbasis pangan dan perikanan. Kesimpulannya, taruhan besar ini layak diambil, tetapi keberhasilannya akan ditentukan oleh sejauh mana petani Papua ditempatkan sebagai subjek utama, bukan penonton pembangunan.






