Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Panic Attack Bukan Hilang Ingatan pada Korban Keracunan

Panic Attack Bukan Hilang Ingatan pada Korban Keracunan
Minat|Kesehatan Mental

Panic Attack Keracunan Bukan Sama dengan Hilang Ingatan

Panic attack keracunan adalah serangan kepanikan mendadak yang muncul setelah seseorang mengalami kejadian keracunan, ditandai gejala fisik dan emosional intens seperti sesak, gemetar, merasa akan mati, tanpa adanya kerusakan langsung pada jaringan otak, namun sangat memengaruhi cara korban memaknai dan mengingat pengalaman traumatis tersebut.

Kasus Febiona Purba menampar cara kita memahami kesehatan mental korban keracunan. Ia adalah satu dari 353 siswa di Berastagi yang mengalami gejala keracunan setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 13 Agustus 2026. Di tengah kepanikan, beredar kabar bahwa Febiona mengalami kehilangan ingatan hingga 70 persen. Klaim ini langsung mengunci persepsi publik: seolah keracunan otomatis merusak otak dan memori. Padahal, hasil pemeriksaan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) menyatakan tidak ditemukan gangguan fungsi otak maupun masalah memori pada dirinya. Di sinilah kekeliruan besar muncul: kita mencampuradukkan panic attack dengan gangguan memori psikologis permanen, lalu buru‑buru menyimpulkan ada kerusakan otak.

Hasil Pemeriksaan: Otak Normal, Trauma yang Bicara

Secara medis, cerita Febiona jauh lebih bernuansa daripada headline dramatis. Setelah sempat dinyatakan pulih namun kembali mengeluhkan gejala dan dikabarkan sulit berbicara, ia dirujuk dan menjalani perawatan di RSCM sejak 12 September 2026 bersama korban lain, Agnesia Paruliana Silitonga. Tim dokter melakukan pemeriksaan menyeluruh, mulai dari pemeriksaan fisik hingga elektroensefalografi (EEG) untuk merekam aktivitas listrik otak. Hasilnya tegas: tidak ada gangguan fungsi otak maupun kerusakan memori permanen pada Febiona.

Salah satu dokter menyatakan, “Berdasarkan hasil evaluasi komprehensif, tim medis menegaskan bahwa Febiona tidak mengalami hilang ingatan maupun kerusakan fungsi otak secara permanen”. Memori jangka pendek dan panjangnya dinilai baik, dan EEG tidak menunjukkan abnormalitas. Artinya, narasi hilang ingatan 70 persen runtuh. Yang muncul bukan kerusakan kognitif, melainkan respons paroxysmal non‑epileptiform event—serangan mendadak yang mirip kejang namun bukan epilepsi, serta gejala psikologis yang mengakar pada trauma pascainsiden keracunan.

Panic Attack: Gejala Nyata, Bukan Psikotik atau “Drama”

Dari sisi psikiatri, diagnosisnya jelas: Febiona mengalami serangan kepanikan hebat (panic attack) akibat tekanan psikologis setelah insiden keracunan. Ini adalah contoh nyata panic attack keracunan, ketika tubuh dan pikiran merespons ancaman dengan alarm berlebihan. Gejala seperti sesak, gemetar, pikiran kacau, hingga rasa terlepas dari realitas mudah disalahartikan sebagai gangguan psikotik, apalagi bagi orang luar yang hanya melihat permukaan. Tidak heran, kondisinya sempat diduga sebagai gangguan psikotik sebelum ditelusuri lebih dalam oleh tim psikiater.

Namun, pemeriksaan menunjukkan sesuatu yang menenangkan sekaligus menegur bias publik: tingkat kognitif dan orientasi Febiona sangat stabil; ia tahu di mana dirinya berada, hari dan tanggal, serta mampu menceritakan kronologi kejadian secara runut. Tidak ada disorientasi, tidak ada gangguan memori kerja. Dengan kata lain, gangguan memori psikologis yang diasumsikan masyarakat tidak terbukti. Yang ada adalah trauma yang memuncak menjadi serangan panik berulang. Menyebutnya “drama” atau “gila” bukan hanya keliru, tetapi juga menyakiti korban dua kali—oleh keracunan, lalu oleh stigma.

Pemulihan Trauma Keracunan: Menguatkan Kesehatan Mental Korban

Kabar baiknya, kondisi Febiona kini dinyatakan membaik. Bersama Agnesia, kesehatannya dilaporkan berangsur pulih dan menunjukkan peningkatan signifikan. Mereka ditempatkan di ruang perawatan yang memberi kenyamanan fisik sekaligus mendukung pemulihan psikologis. Ini sinyal penting: pemulihan trauma keracunan tidak berhenti pada stabilnya hasil laboratorium atau normalnya EEG; prosesnya harus menyertakan kesehatan mental korban secara sadar dan terencana.

Kasus ini mengajarkan bahwa memisahkan gejala fisik dan psikologis adalah langkah pertama untuk intervensi yang tepat. Tanpa pemahaman, panic attack keracunan mudah dicap sebagai kerusakan otak; tanpa edukasi, masyarakat akan terus mengulang narasi “hilang ingatan 70 persen” setiap kali melihat korban pingsan atau linglung. Korban butuh dukungan psikologis yang konsisten, ruang aman untuk menceritakan pengalaman, dan penjelasan jelas mengenai apa yang terjadi pada tubuh dan pikirannya. Kesehatan mental korban bukan pelengkap pelaporan medis; ia inti dari pemulihan martabat dan masa depan mereka.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!