Pengobatan Alternatif Palsu: Janji Kesembuhan yang Menjerumuskan
Pengobatan alternatif palsu adalah praktik yang mengatasnamakan doa, pijatan, atau ritual tradisional untuk menyembuhkan gangguan mental, tetapi sesungguhnya digunakan sebagai kedok untuk mengeksploitasi pasien, termasuk melakukan kekerasan seksual, dengan memanfaatkan kepercayaan, kebingungan, dan kondisi psikologis korban yang lemah.
Kasus di sebuah kecamatan di Gresik memperlihatkan dengan telanjang bagaimana pengobatan alternatif palsu bekerja sebagai pintu masuk kekerasan seksual predator. Janji kesembuhan dari depresi dijadikan modus seorang pria untuk melakukan kekerasan seksual terhadap para korbannya. Unit perlindungan perempuan dan anak menangkap NA (48), seorang dukun cabul yang diduga melakukan persetubuhan terhadap pasiennya dengan modus pengobatan alternatif. Di sini jelas: bukan sekadar "dukun bermasalah", melainkan predator yang sadar betul cara memanfaatkan keputusasaan pasien dan keluarganya.

Target Utama: Pasien Depresi dan Kondisi Mental Rentan
Pengobatan alternatif yang sehat seharusnya menghormati martabat pasien, tetapi dalam pengobatan alternatif palsu, pasien dengan depresi justru dijadikan sasaran empuk. Janji kesembuhan dari depresi diduga menjadi modus seorang pria di Ujung Pangkah untuk melakukan kekerasan seksual terhadap para korbannya. Polisi menegaskan, modus tersebut dilakukan dengan memanfaatkan kondisi korban yang mengalami depresi.
NA, warga Desa Sekapuk, ditahan setelah diduga memanfaatkan kondisi rentan pasien yang datang pada dirinya. Korban HB pernah berobat alternatif pada 2012 dan merasa membaik, sehingga keluarga kembali meminta bantuan NA ketika depresi korban kambuh setelah bercerai. Inilah pola berbahaya: kepercayaan lama dijadikan modal untuk mengulangi kontrol terhadap korban. Mereka yang mencari perlindungan pasien mental justru terjerumus ke tangan pelaku yang paham betul celah psikologis dan sosial yang bisa dimanipulasi.
Modus Dukun Cabul: Dari Doa, Pijatan, hingga Janji Nikah
NA tidak membuka praktik resmi, ia menerima pasien pengobatan alternatif berdasarkan getuk tular, tanpa pengawasan apa pun. Dalam proses pengobatan, tersangka melakukan meditasi, memberikan doa, dan pijatan kepada korban. Di permukaan, ini tampak seperti pengobatan tradisional biasa. Namun di balik itu, tersangka memanfaatkan kedekatan fisik dan emosional untuk mengaburkan batas antara terapi dan pelecehan.
Tersangka kemudian menjanjikan korban akan sembuh dari depresi jika bersedia menikah dengannya. Pada pengobatan kali ini, ia juga menjanjikan korban akan sembuh apabila bersedia menikah siri. Tersangka melakukan tipu daya dengan menjanjikan bahwa penyakit depresi korban akan sembuh jika mau menikah siri dengan tersangka. Janji pernikahan ini bukan sekadar tipu daya romantis; ini adalah alat kontrol yang mengisolasi korban dari penilaian keluarga dan lingkungan, hingga korban mengikuti ajakan keluar yang berujung pada persetubuhan di gubuk area persawahan.
Polanya Berulang: Indikasi Predator, Bukan Kebetulan
Kasus ini bukan insiden tunggal. Dari penyidikan, polisi menemukan dugaan adanya korban lain dengan modus serupa. Polisi menyebut korban diduga lebih dari satu orang dan menyatakan, "Diketahui bahwa ada korban kedua dengan modus serupa." Pola ini menunjukkan kekerasan seksual predator yang terorganisasi dalam kepala pelaku: memilih target rentan, membangun kepercayaan melalui pengobatan alternatif palsu, lalu menyerang ketika korban merasa bergantung.
NA kini ditahan di kantor polisi setempat, dijerat pasal terkait tindak pidana persetubuhan atau perbuatan cabul dengan ancaman penjara paling lama 12 tahun. Aparat masih mendalami dugaan korban lain dan memeriksa rangkaian perbuatan tersangka. Fakta bahwa lebih dari satu korban muncul dengan cerita yang selaras menunjukkan bahwa ini bukan "salah paham" dalam praktik pengobatan, melainkan pola kekerasan yang konsisten dan sadar.
Menghadapi Pengobatan Alternatif Palsu: Sikap Kritis adalah Benteng Pertama
Pelaku seperti NA memanfaatkan kekosongan layanan kesehatan jiwa yang mudah diakses dan stigma yang menempel pada pasien depresi. Pengobatan alternatif palsu menawarkan jalan pintas: doa, pijatan, sedikit ritual, lalu janji: sembuh asal mengikuti syarat-syarat pribadi sang "dukun". Ketika syarat itu berupa sentuhan intim, pernikahan siri, atau pertemuan di tempat sepi, kita tidak lagi bicara soal pengobatan, tetapi kekerasan seksual predator yang sengaja mengincar korban rentan.
Kita perlu menyebutnya apa adanya: dukun bermasalah tanda peringatan paling kuat adalah ketika ia menempatkan syarat-syarat yang menguntungkan dirinya secara seksual atau romantis, bukan menyarankan dukungan medis dan sosial yang jelas. Tanpa sikap kritis dari keluarga, masyarakat, dan aparat, pola ini akan terus berulang dengan nama pengobatan alternatif, sementara yang sesungguhnya berlangsung adalah perusakan martabat dan kesehatan jiwa korban yang sudah rapuh.






