Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Pelabuhan ke Kota: Pengelolaan Sampah Terpadu Menggerakkan Ekonomi Sirkular

Dari Pelabuhan ke Kota: Pengelolaan Sampah Terpadu Menggerakkan Ekonomi Sirkular
Minat|Asia Tenggara

Pengelolaan Sampah Terpadu: Fondasi Ekonomi Sirkular di Pesisir dan Kota

Pengelolaan sampah terpadu adalah pendekatan sistematis yang menghubungkan pemilahan dari sumber, pengumpulan terstandar, pengolahan organik dan anorganik, hingga pemanfaatan kembali material sebagai sumber nilai ekonomi, sehingga sampah tidak berhenti sebagai beban lingkungan tetapi berubah menjadi bagian dari ekonomi sirkular masyarakat yang melibatkan warga, pelaku usaha, dan pemerintah secara berkelanjutan. Pendekatan ini bukan lagi konsep akademis; ia sedang diuji langsung di jalanan Jakarta, di jaringan pengumpulan kemasan, hingga di kawasan pelabuhan Benoa. Intinya, sampah harus diperlakukan sebagai bahan baku, bukan musuh abadi. Tiga contoh program terbaru—Waste Station di Jakarta, Recycle for Good di Jawa Timur, Bali, dan NTB, serta program WISE Pelindo di Benoa—menunjukkan bahwa ketika pengelolaan sampah terpadu dijalankan serius, dampaknya melampaui kebersihan: ia mengubah relasi masyarakat dengan limbah dan membuka peluang ekonomi lokal.

Waste Station: Membawa Pemilahan Sampah ke Ruang Publik Jakarta

Pelajaran pertama datang dari kota: pemilahan sampah hanya akan menjadi kebiasaan jika fasilitasnya hadir dekat dengan kehidupan sehari-hari. PT Indofood Sukses Makmur Tbk bersama Rekosistem meluncurkan Waste Station Indofood di kawasan RDTX Place, Satrio, Jakarta sebagai titik pengumpulan sampah terpilah di area publik dengan potensi partisipasi masyarakat yang tinggi. Fasilitas ini sengaja ditempatkan di ruang yang ramai agar warga dan pengguna kawasan difasilitasi lebih mudah memilah dan menyetorkan sampah kemasan pascakonsumsi, yang kemudian dikelola secara bertanggung jawab. Secara target, Waste Station ini diproyeksikan menjangkau sekitar 500 pengguna dengan estimasi pengumpulan sampai 30 ton sampah per tahun, yang dipantau lewat sistem digital real-time. Kutipan penting di sini: "Kami ingin menghadirkan salah satu sarana yang dapat mendekatkan masyarakat dengan proses pemilahan dan pengumpulan sampah," ujar Head of Corporate Communication Indofood, Stefanus Indrayana. Program ini selaras dengan kebijakan pemerintah "Pilah Sampah Dari Sumbernya" dan menjadi bagian dari skema Extended Producer Responsibility, artinya produsen mulai mengambil peran nyata dalam mengurangi sampah pascakonsumsi.

Recycle for Good: Mengaitkan Daur Ulang dengan Mitigasi Sampah Laut

Jika Jakarta menguji kebiasaan di darat, program Recycle for Good menghubungkan darat dengan laut. SIG bersama para mitra memperluas program "Recycle for Good – Prevent Marine Litter" ke Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Bali hingga Desember 2028, melengkapi operasi yang sudah berjalan di Jakarta dan Jawa Barat. Program ini mengandalkan 389 lokasi jejaring pengumpulan limbah dan perangkat digital berinsentif untuk membuat daur ulang lebih mudah diakses dan terasa manfaatnya bagi rumah tangga. Ambisinya tidak kecil: kemitraan regional tersebut menargetkan pencegahan 10.000 ton limbah kemasan agar tidak bocor ke perairan terbuka dengan melibatkan 100.000 rumah tangga. Inisiatif ini juga dijalankan simultan di beberapa negara kawasan hingga akhir 2028, menandakan bahwa persoalan sampah laut adalah isu lintas batas yang menuntut penanganan terintegrasi dari hulu ke hilir, bukan sekadar aksi bersih-bersih pantai. Sampah kemasan ditarik kembali ke rantai pemrosesan material daur ulang, sehingga ekonomi sirkular masyarakat pesisir memperoleh sumber bahan baku dan mengurangi tekanan terhadap ekosistem laut yang menjadi penopang lingkungan dan stabilitas ekonomi nasional.

Dari Pelabuhan ke Kota: Pengelolaan Sampah Terpadu Menggerakkan Ekonomi Sirkular

Program WISE Pelindo: Pelabuhan Benoa Sebagai Motor Ekonomi Sirkular Lokal

Agenda ekonomi sirkular paling terasa ketika pelabuhan—gerbang logistik dan pariwisata—turun tangan mengelola limbahnya sendiri bersama warga sekitarnya. PT Pelindo (Persero) melanjutkan program pengelolaan sampah untuk mendukung ekonomi sirkular masyarakat di sekitar wilayah operasi Pelabuhan Benoa, Denpasar, melalui program solusi terintegrasi Waste Integrated Solution for Environment (WISE) di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu Banjar/BR Pesanggaran sejak Januari 2026. Program WISE Pelindo dilaksanakan dalam dua tahap dengan fokus pada penguatan fasilitas dan kemampuan masyarakat dalam menangani sampah. Tahap pertama, Januari–Mei 2026, mengelola 12.401 kilogram sampah organik dan 19.253 kilogram sampah anorganik—total sekitar 31,65 ton sampah. Dari pengolahan ini lahir 30 kilogram maggot melalui empat siklus budidaya yang kemudian dimanfaatkan untuk mendukung peternakan 100 ekor ayam petelur, dan lima jenis produk olahan limbah dari sampah anorganik. Kepala Sub Regional Pelindo Bali Nusra, Fariz Hariyoso, menegaskan bahwa pengelolaan sampah membutuhkan kolaborasi dan konsistensi, dan melalui WISE sampah diarahkan menjadi sumber nilai tambah bagi masyarakat, bukan sekadar dikurangi volumenya. Di tengah volume sampah Bali yang diperkirakan mencapai 3.800 ton per hari dan TPA utama yang sudah melebihi kapasitas, inisiatif ini adalah intervensi struktural yang sangat terlambat namun penting.

Dari Inisiatif Terpisah ke Jaringan Ekonomi Sirkular Masyarakat

Ketiga contoh di atas menunjukkan pola yang sama: begitu fasilitas dan insentif hadir, masyarakat tidak sulit diajak terlibat. Waste Station memudahkan warga kota memilah sampah dan melihat jalur daur ulangnya; Recycle for Good menghubungkan kebiasaan menyetor kemasan dengan perlindungan laut dan insentif sosial; program WISE Pelindo menjadikan sampah sebagai sumber pakan, produk olahan, dan pengetahuan baru bagi pengelola TPST dan pelajar di sekitar lokasi. Namun tantangan berikutnya adalah menghubungkan titik-titik ini menjadi jaringan yang saling menguatkan. Tanpa koordinasi lintas kota, pesisir, dan pelabuhan, manfaat ekonomi sirkular akan tetap lokal dan rapuh. Pelaku usaha yang sudah memulai—dari produsen kemasan hingga operator pelabuhan—perlu berani membuka data dan menyelaraskan standar pemilahan, pengumpulan, serta kualitas material daur ulang. Pemerintah daerah harus melihat program seperti WISE dan Waste Station bukan sebagai CSR sesaat, melainkan prototipe sistem layanan publik. Kesimpulannya tegas: masa depan ekonomi sirkular masyarakat di kawasan pesisir tidak akan ditentukan oleh kampanye kesadaran semata, tetapi oleh seberapa cepat pengelolaan sampah terpadu diadopsi sebagai infrastruktur dasar, setara pentingnya dengan air bersih dan listrik.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!