Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Diplomat Asing Belajar Ukir, Sekolah Menjaga Warisan Jepara

Diplomat Asing Belajar Ukir, Sekolah Menjaga Warisan Jepara
Minat|Pertukangan Kayu

Ukiran sebagai jembatan budaya

Diplomasi budaya adalah upaya memperkenalkan identitas dan warisan suatu daerah melalui pengalaman langsung yang memungkinkan pengunjung berinteraksi dengan tradisi setempat. Pada Rabu, 4 November 2026, diplomat dari 15 negara sahabat belajar ukir Jepara di SMPN 6 Jepara dalam rangkaian The Diplomatic Forum Jepara 2026, bukan sekadar menyaksikan demonstrasi.

Para delegasi melihat siswa mengukir kayu dan membatik, lalu mencoba mengukir sendiri sebelum mengunjungi Museum Ukir di lingkungan sekolah. Cara ini lebih berkesan daripada pengenalan yang berhenti pada penjelasan: mengukir menuntut perhatian pada bentuk, bahan, dan latihan, sehingga pengunjung mendapat gambaran nyata tentang keterampilan di balik karya. Batik pun hadir sebagai bagian dari kekayaan budaya yang diperkenalkan. Namun, nilai kunjungan ini tidak semestinya diukur hanya dari antusiasme sesaat para tamu; kekuatan utamanya terletak pada kesempatan menjadikan tradisi sebagai kegiatan belajar yang dapat diteruskan.

Diplomat Asing Belajar Ukir, Sekolah Menjaga Warisan Jepara

Sekolah dengan akar sejarah panjang

SMPN 6 Jepara bukan tempat yang dipilih tanpa alasan. Sekolah ini berawal dari Sekolah Teknik Ukir pada 1956, lembaga yang mengajarkan keterampilan perkayuan dan seni ukir tradisional. Meski kini berkembang menjadi sekolah menengah pertama, sekolah tetap mengenalkan ukir kayu dan batik kepada siswa.

Akar sejarah itu memberi kegiatan budaya ini bobot lebih dari sekadar acara penyambutan. Ada kesinambungan antara identitas sekolah dan keterampilan yang dipraktikkan para siswa di hadapan delegasi. Kepala sekolah Siti Rosiyanah merangkum tugas tersebut dengan pesan, “Teach, practice, and pass them on”. Pesan itu tepat, tetapi meneruskan warisan memerlukan lebih dari slogan: keterampilan perlu ruang latihan, pendampingan, dan tempat dalam pendidikan masa kini. Memperkenalkan ukiran bersama batik memberi siswa kesempatan melihat tradisi sebagai pengetahuan yang hidup, bukan benda masa lalu yang hanya dipajang di museum.

Diplomat Asing Belajar Ukir, Sekolah Menjaga Warisan Jepara

Regenerasi dimulai dari pengalaman belajar

Kesinambungan seni ukir bergantung pada adanya generasi yang mau mencoba, bertahan menghadapi kesulitan, lalu mengembangkan keterampilannya. Fadil, siswa kelas 9E, mulai belajar mengukir sejak kelas 8. Ia masih kesulitan membuat bagian ulir, tetapi tertarik terus menekuni seni tersebut. Pengalamannya memperlihatkan bahwa regenerasi perajin ukir tidak lahir seketika; prosesnya bermula ketika anak memperoleh kesempatan belajar dan alasan untuk terus berlatih.

Lala, siswa kelas 8A, mulai belajar membatik sejak kelas 7 dan ingin melanjutkannya pada masa mendatang. Dua pengalaman ini menunjukkan manfaat yang lebih dekat bagi siswa daripada sorotan diplomatik: keterampilan tradisional menjadi pilihan yang bisa mereka jajaki. Pengunjung asing yang ikut mencoba turut memberi perhatian pada proses belajar tersebut, tetapi ukuran keberhasilan yang lebih penting adalah apakah sekolah mampu menjaga praktik tetap berlanjut setelah kunjungan usai. Pengenalan kepada tamu dan generasi muda saling melengkapi, selama perhatian pada warisan tidak berhenti sebagai tontonan.

Dari kunjungan menuju kerja sama

Agenda delegasi berlanjut ke Pantai Bandengan, Octofest 2026, dan Dekranasda Jepara untuk mengenal pesisir, musik tradisional, potensi mebel dan kerajinan, serta produk unggulan industri kecil dan menengah. Rangkaian ini memperluas konteks ukiran dari ruang kelas ke lingkungan budaya dan industri yang menopangnya. Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Jepara, Ratib Zaini, berharap kunjungan tersebut membuka peluang kerja sama pendidikan lintas negara, termasuk pertukaran siswa dan guru.

Harapan itu layak ditindaklanjuti dengan kegiatan konkret: pertukaran pengetahuan, kesempatan berlatih, dan hubungan pendidikan yang memberi manfaat bagi siswa maupun pengajar. Diplomasi budaya akan lebih berarti bila menghasilkan jalur dukungan bagi pembelajaran, bukan hanya dokumentasi kunjungan. Pada akhirnya, SMPN 6 Jepara menunjukkan bagaimana sekolah dapat menghubungkan sejarah dengan masa depan. Seni ukir Jepara akan tetap hidup bukan semata karena dikenal tamu dari berbagai negara, melainkan karena generasi muda terus diberi ruang untuk belajar, berlatih, dan meneruskannya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!