Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Maestro Pengukir Jepara dan Pertaruhan Warisan Ukir Kayu

Maestro Pengukir Jepara dan Pertaruhan Warisan Ukir Kayu
Minat|Pertukangan Kayu

Seni Ukir Kayu Jepara: Warisan yang Hanya Hidup Jika Diperjuangkan

Seni ukir kayu warisan Jepara adalah tradisi pengolahan kayu yang mengubah sebatang kayu menjadi kisah, gerak, dan simbol kebudayaan lintas generasi, dikerjakan pengukir Jepara tradisional dengan keterampilan turun-temurun yang terus diuji oleh perubahan zaman dan tuntutan pasar modern.

Intinya, warisan ini tidak otomatis selamat hanya karena sering dipuji. Di balik keindahan setiap guratan, ada perjalanan panjang yang tak selalu mudah, dari latihan teknis hingga pergulatan ekonomi. Dua maestro kerajinan Jepara, Sutrisno dan Suhartono Kasari (keduanya 57 tahun), memperlihatkan bahwa pelestarian seni tradisional adalah keputusan sadar: memilih jalan yang lebih terjal demi menjaga jati diri budaya. Mereka bukan sekadar pengrajin, tetapi penjaga sebuah bahasa visual yang jika berhenti dipraktikkan, akan lenyap. Pertanyaannya bukan lagi apakah seni ukir kayu warisan ini indah, melainkan apakah kita bersedia memberi ruang agar ia tetap hidup dan relevan.

Sutrisno: Dari Desa Senenan ke Panggung Pameran dan Pasar Global

Kisah Sutrisno menunjukkan bahwa pengukir Jepara tradisional tidak cukup hanya mahir memahat; ia harus cerdas membaca zaman. Ia mulai mengenal seni ukir sejak usia sekitar 10 tahun, lalu menempuh sekolah kejuruan ukir hingga kuliah di Institut Seni Indonesia dan lulus pada 1996. Di kampus, ia tidak hanya belajar teknik, tetapi juga anatomi, ornamen, tahapan kerja, hingga manajemen seni.

Kini, Sutrisno mengelola Jepara Carver, bengkel sekaligus perusahaan di Desa Senenan yang menggarap relief, patung tiga dimensi, furnitur ekspor, hingga dekorasi interior. Sikapnya tegas: menjaga tradisi tak cukup dengan menghasilkan karya indah; seni ukir juga membutuhkan pengetahuan, pengelolaan usaha, dan kemampuan membangun pasar agar tetap punya tempat di tengah perubahan zaman. Dedikasinya diakui lewat penghargaan Maestro Artist Award dari Bupati Jepara pada 2026, tetapi penghargaan terpenting justru ia wujudkan dengan membuka workshop gratis bagi puluhan anak dan remaja, agar keterampilan berabad-abad tidak berhenti di generasinya.

Suhartono Kasari: Idealisme, Paku Gepeng, dan Pahat Buatan Sendiri

Jika Sutrisno bertumpu pada pendidikan formal dan manajemen usaha, Suhartono Kasari membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah. Ia mulai belajar mengukir saat kelas 5 SD dengan peralatan seadanya, bahkan pernah menggunakan paku yang digepengkan dengan batu sebagai pengganti pahat. Ketertarikannya menguat ketika ia sering menyaksikan Mbah Arsad, maestro ukir legendaris asal Demaan, bekerja sepulang sekolah.

Seiring waktu, ia mengembangkan karakter berkarya yang khas melalui relief naratif, miniatur, dan ukiran kecil yang menuntut ketelitian tinggi. Karya seperti Taman Laut, Perang Jawa, dan Karno Tanding menunjukkan bagaimana seni ukir kayu warisan bisa menjadi panggung cerita yang dinamis. Untuk mencapai detail halus, ia bahkan menempa sendiri sejumlah pahat khusus sesuai kebutuhan. Di sini tampak sisi lain pelestarian seni tradisional: kebebasan berekspresi dan keberanian tidak menjadikan permintaan pasar sebagai satu-satunya kompas. Tradisi bertahan bukan hanya lewat produk laku jual, tetapi juga lewat keberanian menjaga idealisme bentuk dan cerita.

Maestro Pengukir Jepara dan Pertaruhan Warisan Ukir Kayu

Museum Sasono Adhi Praceko: Kelas Ukir yang Membeku Menjadi Sejarah

Warisan seni ukir Jepara tidak hanya hidup di bengkel para maestro, tetapi juga di ruang kelas yang berubah menjadi museum. Sebagian warisan itu tersimpan di sebuah bangunan sekolah di SMP Negeri 6 Jepara, di Museum Sasono Adhi Praceko. Di sini, kayu-kayu yang dahulu disentuh tangan para siswa menjelma menjadi karya bernilai sejarah, sekaligus saksi perjalanan pendidikan ukir di Kota Ukir.

Di dalam museum, tersimpan koleksi ukiran dan arsip historis yang merekam perjalanan sekolah sejak masa kolonial Hindia Belanda, termasuk koleksi dari tahun 1932 yang menandai bahwa tradisi berkarya di lingkungan pendidikan ini telah berlangsung hampir seabad. Dinding dan ruang-ruang sekolah menjadi bagian dari perjalanan panjang lembaga pendidikan yang merintangi berbagai perubahan zaman, nama, dan fungsi. Museum Sasono Adhi Praceko menjadi ruang untuk menelusuri kembali sejarah tersebut, sekaligus menjembatani generasi baru dengan jejak para pendahulunya: bukti bahwa karya bersejarah dapat menjadi simbol kontinuitas budaya dan pendidikan, bukan sekadar pajangan nostalgia.

Maestro Pengukir Jepara dan Pertaruhan Warisan Ukir Kayu

Tantangan Zaman dan Masa Depan Pengukir Jepara Tradisional

Perjalanan Sutrisno dan Suhartono Kasari menunjukkan bahwa tidak ada satu jalan tunggal untuk menjaga tradisi; yang ada adalah kesamaan tekad untuk membuatnya tetap relevan. Kini, tantangan pelestarian bukan sekadar mempertahankan bentuk ukiran yang diwariskan leluhur. Tantangan lainnya adalah memastikan pengetahuan dan keterampilan itu tetap dipelajari, dikembangkan, dan dicintai generasi berikutnya.

Di satu sisi, pengukir Jepara tradisional perlu memahami cara membangun pasar agar karya menjangkau lebih banyak orang. Di sisi lain, mereka harus berani mempertahankan kedalaman cerita dan teknik agar seni ukir kayu warisan tidak tereduksi menjadi dekorasi tanpa ruh. Museum sekolah seperti Sasono Adhi Praceko memberi konteks sejarah, sementara bengkel-bengkel seperti milik Sutrisno memberi ruang praktik bagi anak dan remaja. Masa depan maestro kerajinan Jepara bergantung pada seberapa serius kita memandang ukiran bukan sebagai produk murah meriah, melainkan sebagai bahasa budaya yang layak dipelajari, dihargai, dan diwariskan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!