Pemeriksaan keselamatan menjadi ujian kesiapan
Keselamatan kapal adalah rangkaian perlengkapan, prosedur, dan kesiapan awak yang diperlukan untuk mencegah kecelakaan serta merespons keadaan darurat selama pelayaran. Menjelang Nataru, pemeriksaan di Merak dan pelabuhan sekitarnya penting bukan sekadar sebagai agenda rutin, melainkan sebagai ukuran apakah sistem penyeberangan siap menghadapi lonjakan penumpang.
Setelah kebakaran KMP Batumandi pada 20 Oktober 2026, Pangkalan TNI Angkatan Laut Banten memeriksa fasilitas penyeberangan di Pelabuhan Merak. Pengecekan yang disampaikan pada 31 Oktober itu ditujukan untuk memastikan keselamatan pelayaran sekaligus kesiapan kapal dan fasilitas pelabuhan menghadapi libur Natal dan Tahun Baru. Insiden tersebut membuat pemeriksaan terasa mendesak: kesiapan darurat harus terlihat pada kondisi peralatan dan catatan pemeliharaan, bukan hanya pada pernyataan operator.

Peralatan dan catatan kapal ikut diperiksa
Di kapal, perhatian diarahkan pada ketersediaan dan kondisi rompi pelampung, sekoci, rakit penolong, serta EPIRB—alat pemancar sinyal darurat. Petugas juga memeriksa sistem pemadam kebakaran CO2 Central di ruang mesin dan jurnal pemeriksaan serta pemeliharaan kapal. Pemeriksaan dokumen ini penting: perlengkapan darurat hanya berguna jika terawat, mudah dijangkau, dan awak memahami prosedur penggunaannya.
Komandan Lanal Banten Kolonel Laut (P) Wawan Subagyo Mardani turun langsung bersama KSOP Kelas I Banten, manajemen PT ASDP Indonesia Ferry, GAPASDAP, INFA & Port, Polairud Polda Banten, dan Biro Klasifikasi Indonesia. Keterlibatan operator, regulator, aparat, dan pemeriksa teknis memberi pemeriksaan pelabuhan cakupan yang lebih luas. Namun, sinergi itu baru berarti jika temuan ditindaklanjuti dan operator menjaga disiplin serta kesiapsiagaan awak.
Peninjauan lintas pelabuhan menguji akses dan fasilitas
Pada 5 November, Astamaops Polri Komjen Roycke Harry Langie dan Kakorlantas Polri Brigjen Aries Syahbudin bersama sejumlah pemangku kepentingan meninjau kesiapan pelabuhan di Bakauheni, Lampung, hingga Merak, Banten. Rombongan memulai survei di Bakauheni, lalu menuju BBJ Muara Pilu dan Wika Beton, sebelum melanjutkan ke BBJ Bojonegara dan Pelabuhan Pelindo Ciwandan di kawasan Merak. Cakupan ini menunjukkan bahwa penyeberangan Nataru perlu dinilai sebagai satu rangkaian perjalanan, bukan hanya kondisi kapal di satu dermaga.
Peninjauan melibatkan pula Kabag Ops Korlantas Kombes Turmudi, Direktur Utama Jasa Marga Rivan A. Purwantono, Direktur Utama Jasa Raharja Awaludin, serta pemangku kepentingan terkait. Fokusnya mencakup jalur akses, infrastruktur, dan fasilitas yang akan digunakan masyarakat. Menurut Roycke, tiga titik yang telah dilihat secara umum memenuhi standar, tetapi pengaturan teknis jalur masuk dan keluar masih dapat disesuaikan. Artinya, penilaian awal bukan alasan untuk mengendurkan persiapan.
Kesiapan harus terasa bagi pengguna
Roycke menyebut pengumpulan data dari peninjauan menjadi bahan untuk menyusun rencana operasi pengamanan Nataru. Kakorlantas juga menilai infrastruktur di kawasan Bakauheni lebih baik dibandingkan evaluasi dua tahun sebelumnya. Kemajuan itu patut dicatat, tetapi hasil akhirnya tetap harus diukur dari kelancaran akses, keteraturan arus masuk dan keluar, serta kemampuan petugas dan operator menangani keadaan darurat.
Bagi penumpang, pemeriksaan yang bermakna adalah pemeriksaan yang mengurangi risiko dan mencegah hambatan sebelum perjalanan padat dimulai. Lanal Banten berharap operator meningkatkan kedisiplinan, kewaspadaan, dan kesiapsiagaan; tanggung jawab keselamatan memang tidak bisa dibebankan pada satu lembaga saja.
Kesimpulannya, pemeriksaan kapal di Pelabuhan Merak dan peninjauan lintas pelabuhan merupakan langkah tepat setelah kebakaran KMP Batumandi sekaligus menjelang lonjakan perjalanan. Nilainya akan ditentukan oleh tindak lanjut atas temuan, perawatan perlengkapan, dan koordinasi nyata di lapangan. Itulah yang dapat membuat penyeberangan Nataru lebih aman, tertib, dan lancar bagi masyarakat.






