Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Ruang Antara Budi Pradono: Pengalaman Spiritual di Bawah Tanah

Ruang Antara Budi Pradono: Pengalaman Spiritual di Bawah Tanah
Minat|Desain Interior

LIMINAL: Arsitektur Eksperimental sebagai Ruang Hening Bawah Tanah

LIMINAL adalah instalasi arsitektur eksperimental berupa ruang hening di bawah permukaan tanah yang mengundang pengunjung memasuki pengalaman desain immersive sebagai perjalanan spiritual dan reflektif, bukan sekadar memandangi bangunan monumental formal di ruang publik modern.

Di Summarecon Bandung, LIMINAL berdiri—atau lebih tepatnya tersembunyi—sebagai ruang antara konsep yang menolak obsesi kota pada bentuk ikonik dan ketinggian. Alih-alih menonjol di cakrawala, Budi Pradono memilih menenggelamkan karyanya ke dalam tanah, mengundang orang turun, menunduk, dan berhenti. Ini bukan monumen, melainkan mute space: ruang publik yang sengaja meminimalkan kebisingan visual agar keheningan bisa terasa. Dalam lanskap kawasan terpadu yang penuh hunian, komersial, dan lifestyle, kehadiran sebuah ruang sunyi seperti ini adalah pernyataan keras: arsitektur ruang publik tidak harus memamerkan tubuhnya; ia bisa memilih menjadi pengalaman batin.

Ruang Antara Budi Pradono: Pengalaman Spiritual di Bawah Tanah

Ruang sebagai Perjalanan: Dari Cahaya, Bambu, hingga Keheningan

LIMINAL memaksa kita mengubah cara memahami arsitektur: bukan lagi façade untuk difoto, melainkan rangkaian peristiwa yang dialami tubuh dan pikiran. Pengunjung tidak datang untuk “melihat bangunan”, tetapi untuk berjalan, menuruni ruang, membaca perubahan cahaya, menyentuh material, dan mencicipi keheningan. Tiga bukaan berbentuk corong membawa cahaya alami ke ruang bawah tanah, membuat tiap kunjungan tak pernah persis sama karena waktu mengedit atmosfer melalui bayangan dan intensitas cahaya.

Pemilihan bambu petung lokal sebagai struktur utama bukan sekadar gestur estetis; ia menegaskan bahwa arsitektur eksperimental tidak harus identik dengan teknologi mahal dan material dingin. Bambu yang hidup dan berpori menghadirkan tekstur, aroma, dan skala yang akrab. Di tengah kota terpadu yang modern, keberanian kembali pada material lokal menjadikan LIMINAL semacam kritik halus pada ruang publik yang kian generik. Di sini, desain immersive bukan permainan gimmick interaktif, melainkan orkestrasi sederhana: tanah, bambu, cahaya, dan senyap.

Summarecon Bandung: Ekosistem Kreatif, Bukan Sekadar Kota Terpadu

Kehadiran LIMINAL di Dia.Lo.Gue dotHub, Summarecon Bandung, menunjukkan bahwa kota terpadu bisa menjadi ekosistem kreatif dan bukan hanya mesin hunian dan komersial. Menurut Executive Director Summarecon Bandung, Hindarko Hasan, ruang antara ini adalah bentuk komitmen untuk memperkuat ekosistem kreatif dan lifestyle kawasan. Di sini, arsitektur eksperimental ditempatkan sejajar dengan program musik, literasi, dan seni visual—bukan dipinggirkan sebagai dekorasi kota.

LIMINAL akan dikelola sebagai instalasi ruang publik oleh Dia.Lo.Gue Bandung dengan tiga poros program: BUNYI untuk musik dan pertunjukan, KATA untuk literasi dan pemikiran, serta RUPA untuk seni visual dan desain. Artinya, ruang antara ini disiapkan sebagai titik temu: antara pelaku seni, arsitek, penulis, musisi, dan publik. Dalam konteks Summarecon yang mengembangkan sembilan kawasan kota terpadu di berbagai area, strategi semacam ini menjadi penting untuk menghindari repetisi kota-kota kaku tanpa jiwa. Kota terpadu perlu lebih banyak ruang sunyi yang memancing dialog, bukan hanya ruang konsumsi.

ANTI-OBJECT ARCHITECTURE: Menghilangkan Monumen, Menghadirkan Relasi

LIMINAL bukan proyek tunggal; ia bagian dari pendekatan ANTI-OBJECT ARCHITECTURE yang melepaskan arsitektur dari obsesi menjadi objek dominan. Dalam pameran yang dibuka bersamaan dengan peresmian LIMINAL pada Sabtu 12 September di Circular Plaza, publik diajak mengikuti perjalanan pemikiran dan karya Budi Pradono. Di sini, arsitektur dilihat sebagai hubungan: antara manusia, lingkungan, material, dan konteks, bukan sekadar wujud fisik yang berdiri sendiri.

Pameran ANTI-OBJECT ARCHITECTURE memperkaya pengalaman desain kontemporer dengan menunjukkan bagaimana pendekatan eksperimental, kontekstual, dan berkelanjutan diterapkan dalam berbagai Budi Pradono karya. “Liminal menjadi sebuah perjalanan reflektif melalui penciptaan karya arsitektur berupa mute space atau ruang hening yang terkubur tanpa monumen—guna mengajak kita merenung, menghayati dunia, dan mengintrospeksi diri,” ujar Budi Pradono. Ini adalah kritik nyata pada kebiasaan menjadikan arsitektur sebagai selfie spot. ANTI-OBJECT mengusulkan sebaliknya: arsitektur yang menghilang sebagai objek agar pengalaman, relasi, dan kesadaran hadir lebih kuat.

Ruang Spiritual yang Membalik Cara Kita Berkota

Inti keberanian LIMINAL adalah menjadikan arsitektur sebagai pengalaman spiritual di tengah kota terpadu yang sibuk. Dirancang sebagai mute space di bawah permukaan tanah, ruang ini menawarkan kesempatan berhenti sejenak, merenung, dan melakukan introspeksi—sesuatu yang kerap absen dalam desain ruang publik modern. Dengan mengajak tubuh turun ke bawah, LIMINAL mengajari kita bahwa kedalaman pengalaman lebih penting daripada ketinggian bangunan.

Bagi arsitek, perencana kota, maupun publik umum, LIMINAL adalah ajakan untuk menilai ulang apa yang kita minta dari arsitektur: apakah ia hanya latar foto dan nilai properti, atau ruang untuk berpikir dan menghayati hidup. Di Summarecon Bandung, kehadiran ruang antara ini menandai pergeseran: kota terpadu bisa menjadi laboratorium arsitektur eksperimental yang sensitif terhadap konteks dan jiwa warganya. Jika lebih banyak ruang publik berani menjadi hening, mungkin kota-kota kita akan berhenti sekadar berisik dan mulai lebih manusiawi.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!