AI di Kelas: Dari Ancaman Teknologi Menjadi Asisten Guru
Pembelajaran berbasis AI adalah pendekatan pendidikan di mana guru memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan, seperti ChatGPT, Claude, dan Gemini, untuk merancang bahan ajar, media, serta aktivitas kelas yang lebih interaktif, efisien, dan disesuaikan dengan kebutuhan siswa, tanpa menggantikan peran manusia sebagai pendidik utama dan pengambil keputusan pembelajaran sehari-hari. Dalam beberapa tahun terakhir, perdebatan seputar guru manfaatkan AI sering terjebak pada rasa takut: murid menyontek, guru diganti mesin, kelas menjadi kering tanpa empati. Namun praktik di lapangan di Sleman menunjukkan gambaran yang berbeda. ChatGPT bahan ajar bukan dipakai sebagai jalan pintas malas, melainkan sebagai alat kerja profesional. Guru yang cerdas melihat AI sebagai cara mengurangi pekerjaan rutin, sehingga energi mereka bisa dialihkan ke hal yang lebih penting: membangun relasi, membimbing karakter, dan menumbuhkan rasa ingin tahu.

MAN 5 Sleman: Workshop AI yang Mengubah Cara Guru Menyiapkan Materi
Di MAN 5 Sleman, mahasiswa Praktik Kependidikan Universitas Negeri Yogyakarta mengadakan Workshop Artificial Intelligence bertema pengembangan AI untuk pembuatan materi ajar bagi guru, yang berlangsung pada Jumat, 4 September 2026, pukul 13.00–15.00 WIB. Acara dibuka oleh Kepala MAN 5 Sleman Mucharom dan menghadirkan Asa Wisesa Betari sebagai narasumber dari FBSB UNY. Fokusnya jelas: bagaimana pembelajaran berbasis AI bisa mendukung Pendidikan Berkualitas dalam kerangka SDG 4. Materi inti menyentuh hal paling praktis bagi guru: AI sebagai asisten, inovasi media pembelajaran kreatif berbasis AI, prompt engineering, dan perancangan administrasi digital. Di sini, ChatGPT, Claude, dan Gemini bukan sekadar nama platform, tetapi menjadi bagian dari strategi inovasi pendidikan digital untuk mempercepat penyusunan modul, ATP, dan kisi-kisi soal, sekaligus memantik diskusi interaktif di kelas.
Workshop ini punya pesan politik pendidikan yang kuat: pembelajaran berkualitas di era digital tidak mungkin tercapai bila guru dibiarkan bergulat sendirian dengan perubahan teknologi. Melalui pelatihan, guru MAN 5 Sleman didorong memahami bahwa AI adalah alat, bukan penentu isi kelas. Menariknya, sesi presentasi proyek guru selama 50 menit menunjukkan bahwa ketika diberi ruang, guru mampu menerjemahkan teknologi yang kompleks menjadi media ajar yang membumi dan dekat dengan kehidupan siswa. Narasi bahwa guru gagap teknologi dipatahkan oleh praktik ini: mereka belajar mengatur prompt, merancang administrasi berbasis AI, dan menyiapkan pemantik diskusi yang membuat siswa aktif. Inilah contoh konkret bagaimana guru manfaatkan AI untuk memperkuat, bukan melemahkan, kualitas pengajaran.
SIJA SMKN 2 Depok Sleman: AI sebagai Bengkel Ide Bahan Ajar Inovatif
Di Program Keahlian Sistem Informasi, Jaringan, dan Aplikasi (SIJA) SMKN 2 Depok Sleman, pemanfaatan Artificial Intelligence sudah menjadi bagian dari rutinitas persiapan pembelajaran. Dalam kegiatan Praktik Kependidikan, mahasiswa mengeksplorasi bagaimana guru SIJA memakai ChatGPT, Gemini, Canva AI, Microsoft Copilot, Claude, dan Gamma untuk mengembangkan materi ajar, melengkapi konten yang ada, membuat media interaktif, dan menyusun PPT. Dengan kata lain, ChatGPT bahan ajar di sini berfungsi sebagai bengkel ide. Sugiarto menjelaskan bahwa AI mempercepat pencarian referensi dan perumusan skenario praktik di bidang TIK yang selama ini memakan banyak waktu. Rr. Retna Trimantaraningsih menegaskan bahwa AI membuat persiapan materi lebih efisien, tetapi tetap harus dilengkapi dan disesuaikan oleh guru.
Yang menarik, para guru SIJA tidak menelan mentah-mentah hasil AI. Mereka sadar ada risiko informasi keliru dan isu keamanan data. Karena itu, setiap keluaran AI dibandingkan dengan URL relevan, diuji secara logika, bahkan diujicoba melalui praktik sebelum dijadikan bahan ajar. Sikap kritis ini penting: pembelajaran berbasis AI hanya akan berkualitas bila guru tetap memegang peran sebagai validator utama. Praktik di SMKN 2 Depok Sleman menunjukkan bahwa inovasi pendidikan digital tidak identik dengan pasrah pada algoritma. Justru sebaliknya, guru memanfaatkan AI untuk membuka banyak alternatif materi, lalu menyaring dan menyesuaikannya dengan karakter siswa vokasi yang membutuhkan contoh nyata, proyek, dan simulasi dunia kerja. Di sini, guru manfaatkan AI untuk menyatukan kecepatan teknologi dengan kebijaksanaan pedagogis.
AI, SDGs, dan Peran Strategis Guru di Era Pendidikan Digital
Baik di MAN 5 Sleman maupun SIJA SMKN 2 Depok Sleman, pemanfaatan AI dikaitkan langsung dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, terutama SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas. Ini bukan kebetulan. Di tengah percepatan teknologi, guru membutuhkan pelatihan AI untuk tetap relevan dan menyiapkan siswa menghadapi masa depan kerja yang semakin digital. Workshop dan praktik PK di Sleman menunjukkan dua hal penting: pertama, inovasi pendidikan digital hanya bermakna jika guru diberdayakan; kedua, kualitas pembelajaran meningkat ketika pekerjaan administratif dipangkas dan guru bisa lebih fokus mengajar, membimbing, dan membangun karakter. "Pemanfaatan AI dapat mendukung guru dalam mengembangkan bahan ajar secara lebih efisien sekaligus memberikan ruang bagi guru untuk lebih fokus pada penyesuaian materi dengan kebutuhan pembelajaran".
Ke depan, harapan yang muncul dari kedua sekolah ini cukup jelas: guru terus mengembangkan praktik pembelajaran berbasis AI secara bijak, menjadikan tugas berulang lebih ringan sehingga energi dapat dialihkan ke pendampingan siswa. AI tidak boleh menggeser sentuhan kemanusiaan guru, namun wajar jika ia menggantikan pekerjaan yang menghabiskan waktu tanpa nilai pedagogis. Ketika pembuat kebijakan berbicara tentang inovasi pendidikan digital, contoh di Sleman patut dijadikan rujukan. Bukan sekadar soal perangkat dan platform, tetapi tentang kultur baru: guru sebagai desainer pembelajaran, AI sebagai asisten, dan siswa sebagai subjek yang dididik agar kritis terhadap teknologi. Jika garis besar ini dipegang, pembelajaran berbasis AI bukan ancaman, melainkan lompatan kualitas pendidikan.






