Infrastruktur dasar yang menggerakkan ekonomi
Jalan dan irigasi pertanian adalah infrastruktur dasar yang menghubungkan kegiatan produksi dengan kebutuhan sehari-hari warga, dari mengairi tanaman hingga membawa hasil panen ke pasar. Di Kulon Progo, keduanya semestinya dipandang sebagai satu agenda ekonomi, bukan proyek yang berjalan sendiri-sendiri. Anggota DPRD Kulon Progo, Angga Pratama, mendorong pemerintah daerah memprioritaskan peningkatan kualitas jalan pada Jumat (30/10), dengan pemerataan akses perdesaan sebagai perhatian karena dampaknya langsung terasa pada kegiatan ekonomi warga. Dorongan ini tepat: jalan yang layak membantu petani dan pelaku UMKM memasarkan produk, sekaligus memudahkan warga mencapai tempat kerja, sekolah, fasilitas kesehatan, dan pasar. Namun, jalan yang baik tidak cukup bila lahan kekurangan air; irigasi yang terawat pun belum optimal bila hasil panen sulit diangkut. Produktivitas petani dan perputaran usaha lokal bergantung pada kesinambungan keduanya.
Jalan merata agar hasil panen dan usaha kecil bergerak
Pembangunan jalan Kulon Progo tidak seharusnya terkonsentrasi di kawasan yang sudah berkembang. Wilayah perdesaan yang aksesnya terbatas perlu masuk dalam urutan prioritas, terutama jalur penghubung antarkalurahan, akses menuju sentra pertanian, serta jalan ke fasilitas pelayanan publik. DPRD mendorong pemerintah menentukan prioritas perbaikan berdasarkan kebutuhan warga, bukan semata kemudahan pelaksanaan. Pemerataan penting karena kondisi jalan menentukan waktu dan kemudahan pengangkutan hasil panen, serta kelancaran distribusi produk UMKM. Ketika jalur rusak atau sulit dilalui, beban akses jatuh pada warga dan pelaku usaha yang paling bergantung pada konektivitas lokal. Perbaikan juga mesti diikuti pemeliharaan rutin. Menunggu kerusakan meluas bukan strategi hemat: penanganan yang terlambat berisiko membutuhkan anggaran lebih besar. Pengawasan dan masukan masyarakat dapat membantu pemerintah mengenali ruas yang paling mendesak.
Irigasi terawat menjaga kepastian musim tanam
Jalan memperlancar pengiriman, tetapi produktivitas petani juga bertumpu pada pasokan air yang teratur. Angga Pratama mendorong pemerintah daerah memberi perhatian lebih pada pembangunan dan pemeliharaan jaringan irigasi, yang penting bagi keberlanjutan pertanian, terutama saat musim kemarau. Saluran yang berfungsi baik memenuhi kebutuhan air tanaman; kerusakan atau distribusi yang tersendat dapat mengganggu jadwal tanam dan memengaruhi hasil. Karena itu, pembangunan baru saja tidak cukup. Pemerintah perlu memetakan saluran rusak, lokasi yang membutuhkan rehabilitasi, serta kawasan dengan kendala pengairan, lalu merawat jaringan yang sudah tersedia secara berkala. Petani dan kelompok tani sebaiknya dilibatkan dalam koordinasi, sebab merekalah yang berhadapan langsung dengan kondisi saluran. Tanpa perawatan, infrastruktur yang telah dibangun kehilangan manfaatnya bagi produksi dan pendapatan warga.

Satu agenda konektivitas dan produksi
Jalan dan irigasi perlu masuk dalam perencanaan yang saling melengkapi. Jalan yang menghubungkan sentra pertanian dengan pasar memperlancar distribusi hasil tani, sementara pengairan yang terjaga membantu petani mempertahankan produksi. Dampaknya melampaui lahan: kegiatan UMKM, mobilitas warga, dan ekonomi perdesaan ikut bergantung pada infrastruktur yang berfungsi. Angga menilai ketersediaan sarana pertanian yang memadai turut berpengaruh terhadap perekonomian daerah, sehingga dukungan bagi sektor ini perlu berjalan bersama peningkatan akses. Langkah berikutnya semestinya jelas: petakan kebutuhan jalan dan saluran, tetapkan prioritas berdasarkan kondisi lapangan, lalu pastikan pemeliharaan berlangsung setelah pembangunan. Warga juga perlu diberi ruang menyampaikan persoalan yang mereka temui. Kesimpulannya, pemerataan jalan tanpa irigasi yang andal hanya menyelesaikan separuh masalah; keduanya harus dirawat sebagai fondasi usaha tani dan ekonomi warga.






