Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Pramono Turun ke 44 Kecamatan, Tiga Masalah Warga Terpetakan

Pramono Turun ke 44 Kecamatan, Tiga Masalah Warga Terpetakan
Minat|Asia Tenggara

Rapat wilayah untuk membuka jalur masalah warga

Rapat Pramono adalah pertemuan bergilir di tingkat kecamatan yang mempertemukan pimpinan daerah dengan camat, lurah, dan organisasi perangkat daerah untuk mengungkap persoalan setempat serta mencari tindak lanjutnya. Gubernur Jakarta Pramono Anung memulai agenda ini pada Selasa, 3 November 2026, sebagai cara membawa masalah yang tertahan di tingkat wilayah langsung ke meja pengambil keputusan.

Rencana menjangkau 44 kecamatan Jakarta menjawab kelemahan birokrasi yang sudah lama dikeluhkan: laporan harus melewati banyak jenjang, sehingga gubernur bisa terlambat mengetahui persoalan yang masih berlangsung. Pramono juga ingin menghindari laporan yang hanya menyampaikan kabar baik. Niat turun langsung ini masuk akal, sebab penurunan laporan keluhan di JAKI tidak otomatis berarti masalah warga Jakarta telah selesai. Namun, kehadiran gubernur hanya bernilai jika informasi lapangan lebih terbuka dan keputusan rapat tidak kembali tersangkut dalam rantai koordinasi.

Forum ini, menurut Pramono, bukan pengganti musyawarah perencanaan pembangunan ataupun pembahasan dengan DPRD, melainkan ruang untuk membahas persoalan pemerintahan di kecamatan yang belum terangkat ke tingkat gubernur. Dengan melibatkan camat, lurah, wali kota atau bupati, sekretaris daerah, dan OPD terkait, rapat dirancang agar kendala bisa dibahas bersama pihak yang berwenang. Jakarta memiliki 44 kecamatan dan 267 kelurahan, sehingga target menuntaskan kunjungan dalam sekitar tiga bulan menuntut disiplin sekaligus kesinambungan.

Pramono Turun ke 44 Kecamatan, Tiga Masalah Warga Terpetakan

Kembangan menunjukkan persoalan yang harus ditangani

Rapat pertama di Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat, memperlihatkan bahwa agenda ini dapat menghasilkan daftar persoalan yang konkret. Tiga isu utama yang muncul ialah banjir, kemacetan, dan pengelolaan sampah—masalah sehari-hari yang langsung memengaruhi mobilitas, lingkungan, dan kenyamanan warga. Nilai rapat bukan pada banyaknya keluhan yang dicatat, melainkan pada apakah pemerintah menetapkan langkah yang bisa dipantau.

Untuk banjir, Pramono memutuskan pembangunan turap sepanjang 2,3 kilometer tetap dilanjutkan, disertai normalisasi saluran. Untuk mengurai kemacetan, Pemprov menyetujui rencana pelebaran Jalan Raya Joglo, dengan pekerjaan yang diperkirakan berlangsung hingga 2028 dan tidak seluruhnya selesai pada 2027. Sementara itu, kapasitas TPS3R Meruya Selatan belum termanfaatkan optimal: dari kemampuan 7,3 ton per hari, sampah yang diolah baru sekitar 3,5–4 ton. Pemprov membuka peluang kerja sama dengan pihak swasta untuk meningkatkan pengolahan.

Ketiga temuan itu juga menandai batas pendekatan rapat. Rencana turap, pelebaran jalan, dan peningkatan pengolahan sampah memberi arah, tetapi warga masih membutuhkan kepastian mengenai pelaksanaan dan hasil. Pramono menyatakan masalah yang diputuskan dalam rapat akan langsung ditindaklanjuti OPD terkait, tanpa menunggu seluruh kunjungan kecamatan selesai. Pernyataan itu perlu diuji lewat perkembangan di lapangan, bukan dianggap sebagai bukti bahwa persoalan telah beres.

Pramono Turun ke 44 Kecamatan, Tiga Masalah Warga Terpetakan

Ukuran keberhasilan: birokrasi berubah, masalah selesai

Peringatan anggota Komisi A DPRD DKI Kevin Wu tepat sasaran: pertemuan di kecamatan jangan berhenti sebagai tempat mengumpulkan laporan. Jika persoalan di kelurahan tidak sampai kepada gubernur, pemerintah perlu memeriksa apakah jalur pelaporan terlalu panjang, koordinasi antar-OPD lemah, atau laporan yang naik telah menyaring kenyataan. Turun langsung bisa membuka masalah, tetapi sekaligus menyingkap kegagalan sistem yang seharusnya sudah meneruskan informasi tanpa menunggu kunjungan gubernur.

Karena itu, setiap persoalan yang dibahas semestinya memiliki penanggung jawab, tenggat, dan cara bagi warga untuk memantau hasilnya. Kevin juga mengusulkan evaluasi berkala pada hari ke-30, ke-60, dan ke-90 setelah rapat. Ukuran tersebut lebih berguna daripada menghitung berapa kecamatan yang sudah dikunjungi: pemerintah dapat melihat apakah tindakan berjalan dan apakah jalur koordinasi perlu diperbaiki.

Kesimpulannya, rapat bergilir Pramono adalah langkah yang layak karena membawa pengambil keputusan mendekati persoalan, dimulai dari tiga isu jelas di Kembangan. Namun, kunjungan bukan pengganti birokrasi yang berfungsi. Agenda ini baru berhasil bila temuan menjadi pekerjaan dengan penanggung jawab dan tenggat, hasilnya terbuka bagi warga, dan evaluasi memperbaiki sistem agar keluhan berikutnya tidak perlu menunggu gubernur datang.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!