Agenda Besar BRIN: Riset Pertanian sebagai Motor Ekonomi
Riset pertanian BRIN adalah rangkaian inisiatif ilmiah yang menggabungkan inovasi pakan lokal, pengendalian hama wereng padi, dan kolaborasi dengan pelaku usaha serta petani untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis sektor agraria yang lebih mandiri, efisien, dan berkelanjutan. Di balik istilah teknis dan jargon kebijakan, arah besarnya jelas: menjadikan peternakan dan perberasan tidak lagi bergantung pada impor pakan atau semata pada pestisida, tetapi bertumpu pada ilmu pengetahuan dan sumber daya lokal. Pendekatan ini layak dibaca bukan sekadar sebagai program riset, melainkan sebagai strategi pembangunan ekonomi yang mengutamakan kemandirian peternakan dan perlindungan produksi padi. BRIN memilih bergerak di dua simpul kritis—pakan dan hama wereng—karena di sanalah rapuhnya pondasi pangan dan sekaligus peluang perbaikan paling besar.
Inovasi Pakan Lokal: Menjawab Titik Lemah Peternakan
BRIN menempatkan inovasi pakan lokal sebagai kunci kemandirian peternakan, dan itu bukan sekadar slogan riset. Melalui Seminar Nasional “Transformasi Bahan Pakan Lokal Menjadi Produk Bernilai Tambah di Industri Peternakan” yang diselenggarakan Pusat Riset Peternakan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan di Cibinong pada Senin (3/8), agenda ini diangkat sebagai isu strategis. Kepala Pusat Riset Peternakan, Santoso, menggarisbawahi bahwa persoalan paling mendasar peternakan adalah ketersediaan pakan yang berkelanjutan, sementara ketergantungan bahan baku impor membuat sektor ini rentan gejolak harga dan gangguan pasok global. Di sisi lain, negeri ini menyimpan limpahan biomassa perkebunan, limbah pertanian, dan hasil samping agroindustri yang selama ini kurang dimanfaatkan. Transformasi semua itu menjadi pakan berkualitas lewat riset jelas lebih masuk akal daripada terus menunggu kapal pakan impor.
Pendekatan nutrasetika yang diperkenalkan peneliti Dini Dwi Ludfiani memperlihatkan arah baru inovasi pakan lokal: rempah, tanaman herbal, vegetasi bawah perkebunan, limbah nanas, hingga bungkil kopra diolah bukan hanya sebagai sumber energi, tetapi juga sebagai sumber senyawa bioaktif untuk kesehatan dan produktivitas ternak. Dalam bahasa praktis, ini berarti pakan yang menekan biaya produksi, mengurangi penggunaan antibiotik, dan bahkan menurunkan emisi metana. Kutipan yang layak dicermati dari agenda ini adalah: “Pemanfaatan nutrasetika tidak hanya meningkatkan kesehatan dan produktivitas ternak, tetapi juga mampu menekan biaya produksi, mengurangi penggunaan antibiotik, serta mendukung sistem peternakan yang lebih berkelanjutan”. Jika hilirisasi inovasi ini ke industri berjalan, kemandirian peternakan bukan lagi wacana seminar, melainkan perubahan nyata di kandang-kandang rakyat.
Wereng Batang Cokelat: Musuh Kecil, Kerugian Besar
Di sisi tanaman pangan, hama wereng padi—khususnya wereng batang cokelat—adalah contoh klasik bagaimana serangga kecil bisa menghancurkan fondasi produksi. Peneliti Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Arlyna Budi Pustika, menyebut wereng bukan hanya merusak langsung, tetapi juga menjadi vektor virus kerdil rumput dan kerdil hampa. Dampaknya tidak main-main: rata-rata petani kehilangan sekitar 30 persen dari potensi hasil akibat serangan Organisme Pengganggu Tanaman, dan 20–25 persen di antaranya karena hama. Serangan wereng batang cokelat bahkan pernah meluas hingga ratusan ribu hektare dengan kehilangan produksi 1–2 ton gabah per hektare dan kerugian ekonomi mencapai triliunan rupiah. Ini bukan sekadar masalah teknis budidaya; ini ancaman langsung terhadap produktivitas padi dan pendapatan keluarga tani. Penyebabnya pun sistemik: penanaman padi terus-menerus, pestisida yang digunakan tanpa konsep, varietas yang tidak tepat, dan ekosistem yang timpang karena musuh alami tersingkir.

Pengendalian Terpadu: Teknologi Bertemu Kearifan Sawah
Jawaban BRIN terhadap hama wereng padi bukan menambah daftar insektisida, melainkan mendorong pengendalian wereng batang cokelat secara terpadu di tingkat petani. Melalui Workshop Pengendalian Hama Wereng Batang Coklat secara Terpadu di Desa Sidowayah, Klaten, pada Kamis (6/8), peneliti mengajak petani menerapkan kombinasi strategi: tanam serempak, rotasi tanaman, penggunaan varietas tahan wereng, pemantauan populasi, pemanfaatan agensia hayati seperti Metarhizium anisopliae dan Beauveria bassiana, serta insektisida kimia sebagai jalan terakhir ketika ambang ekonomi terlampaui. Karena insektisida yang dipakai berlebihan justru mempercepat resistensi wereng dan meruntuhkan efektivitas pengendalian. Di sini terlihat pergeseran penting: teknologi pertanian modern bukan berarti lebih banyak bahan kimia, tetapi lebih banyak data (monitoring populasi), kesepakatan sosial (tanam serempak), dan pemakaian musuh alami. BRIN bahkan mendorong penggunaan varietas padi tahan wereng seperti Inpari 47 WBC, Inpari Gemah, Inpari Digdaya, dan lainnya untuk menekan risiko serangan sekaligus mengurangi ketergantungan pestisida.

Kolaborasi dan Peluang Ekonomi dari Riset Pertanian BRIN
Benang merah dari dua agenda BRIN—pakan lokal dan pengendalian wereng—adalah kolaborasi lintas pelaku. Seminar pakan lokal menghadirkan narasumber dari pemerintah dan industri seperti PTPN IV, DPRD Sumatera Utara, PT Santi Energi Hijau, dan PT GeneCraft Labs untuk memperkuat ekosistem inovasi dan mempercepat hilirisasi hasil riset. Beragam perspektif ini diharap melahirkan rekomendasi strategis dan sinergi pemerintah, lembaga riset, kampus, dan dunia usaha dalam mengembangkan inovasi pakan berbasis sumber daya lokal. Di tingkat sawah, workshop wereng di Klaten menunjukkan wajah lain kolaborasi: peneliti turun langsung dan petani menjadi mitra penerap teknologi pengendalian terpadu. Jika kedua arus ini terus dipertemukan—laboratorium dan lahan, industri dan petani—maka riset pertanian BRIN memiliki posisi jelas dalam akselerasi ekonomi: mengurangi ketergantungan impor pakan, menekan kerugian panen, dan memperkuat ketahanan pangan yang berkelanjutan.








