Kolaborasi Riset BRIN dan Mitra Global Percepat Inovasi Pertanian dan Ketahanan Pangan

Kolaborasi Riset BRIN dan Mitra Global Percepat Inovasi Pertanian dan Ketahanan Pangan
Minat|Asia Tenggara

Kolaborasi riset pertanian sebagai tulang punggung ketahanan pangan baru

Kolaborasi riset pertanian adalah upaya terkoordinasi antara lembaga riset, universitas, pemerintah, dan sektor usaha untuk mengembangkan inovasi teknologi, praktik budidaya, dan sistem pangan yang terpadu agar mampu meningkatkan produktivitas, mengurangi kerentanan, dan memperkuat ketahanan pangan jangka panjang di tingkat lokal maupun regional.

Pendekatan ini kini menjadi strategi utama BRIN: mempertemukan kolaborasi riset pertanian lintas negara, fasilitas HPC ASEAN, dan inovasi ketahanan pangan dalam satu ekosistem yang saling menguatkan. Melalui Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP), BRIN memperluas kolaborasi riset internasional dengan penandatanganan MoU bersama Graduate School of Agricultural Science, Tohoku University, sebagai payung kerja sama riset dan inovasi pertanian-pangan, pertukaran pengetahuan, dan penguatan kapasitas SDM. Ini bukan sekadar seremoni, tetapi langkah politik ilmu pengetahuan: menjadikan riset sebagai instrumen langsung untuk mengamankan pasokan pangan dan menyiapkan transisi menuju ekonomi hijau dan biru.

Kolaborasi Riset BRIN dan Mitra Global Percepat Inovasi Pertanian dan Ketahanan Pangan

HPC ASEAN-Korea: mesin baru bagi inovasi ketahanan pangan regional

Jika dulu riset pertanian bergantung pada lahan percobaan, hari ini ia juga ditentukan oleh kapasitas komputasi. Fasilitas HPC ASEAN-Korea yang diperkenalkan BRIN kepada perwakilan negara ASEAN dirancang sebagai infrastruktur komputasi kelas dunia untuk penelitian berbasis data dan kecerdasan buatan di kawasan. Fasilitas HPC ASEAN ini membuka peluang pemodelan iklim, analisis genom, hingga optimasi sistem produksi pangan lintas negara secara jauh lebih cepat.

Menurut Nugroho Dwi Hananto, fasilitas ini akan dioperasikan dengan platform terbuka dan inklusif, lengkap dengan pusat data dan mekanisme berbagi data untuk mempercepat kolaborasi ilmuwan di ASEAN dan Korea. "Fasilitas HPC regional pertama yang dibangun untuk seluruh negara anggota ASEAN itu diharapkan mampu menjembatani kesenjangan teknologi, meningkatkan kolaborasi riset, dan mempercepat transformasi digital di kawasan". Namun, keberhasilannya akan bergantung pada disiplin pengelolaan data dan pelaporan luaran riset secara berkala kepada Komite Ilmiah yang sudah disiapkan sebagai bagian dari tata kelola ke depan.

Kolaborasi Riset BRIN dan Mitra Global Percepat Inovasi Pertanian dan Ketahanan Pangan

Inovasi pakan lokal: kemandirian peternakan sebagai pilar ketahanan pangan

Ketahanan pangan tidak mungkin kokoh jika peternakan terus bergantung pada pakan impor. BRIN membaca persoalan ini secara tegas: persoalan paling mendasar pembangunan peternakan adalah ketersediaan pakan, dan ketergantungan impor membuat sektor ini rentan terhadap fluktuasi harga, gangguan pasok, hingga dinamika geopolitik global. Jawaban yang diambil bukan sekadar menambah subsidi, melainkan mengubah struktur pasok melalui inovasi pakan lokal.

Melalui Seminar Nasional “Transformasi Bahan Pakan Lokal Menjadi Produk Bernilai Tambah di Industri Peternakan” yang digelar Pusat Riset Peternakan di Kawasan Sains dan Teknologi Soekarno, BRIN menjadikan forum tersebut sebagai titik temu peneliti, pemerintah, akademisi, dan dunia usaha untuk mempercepat hilirisasi inovasi pakan. BRIN menegaskan bahwa limbah pertanian, biomassa perkebunan, dan hasil samping agroindustri bisa diolah menjadi bahan pakan bernilai ekonomi tinggi dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi. Inovasi pakan lokal ini dinilai mampu mengurangi ketergantungan pada impor sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional melalui pemanfaatan sumber daya lokal yang berkelanjutan, serta menjadi langkah strategis menuju kemandirian peternakan dan peningkatan daya saing industri.

Kolaborasi Riset BRIN dan Mitra Global Percepat Inovasi Pertanian dan Ketahanan Pangan

Melawan hama wereng padi dengan teknologi terapan dan pengendalian terpadu

Ujung paling rapuh dari ketahanan pangan selalu ada di sawah. Hama wereng batang cokelat adalah salah satu ancaman utama bagi produksi padi dan menjadi vektor virus kerdil rumput serta kerdil hampa. Ketika hama ini meledak, tanaman bisa tumbuh kerdil, daun menguning, lalu mati kering (hopperburn), sehingga hasil panen turun tajam. Rata-rata petani kehilangan sekitar 30 persen dari potensi hasil akibat Organisme Pengganggu Tanaman, dengan kehilangan karena hama berkisar 20–25 persen.

BRIN tidak memilih jalan pintas insektisida semata. Dalam workshop di Klaten, peneliti mendorong petani menerapkan pengendalian hama wereng batang cokelat secara terpadu melalui tanam serempak, rotasi tanaman, penggunaan varietas tahan wereng, pemantauan populasi, pemanfaatan agensia hayati seperti Metarhizium anisopliae dan Beauveria bassiana, serta insektisida kimia sebagai opsi terakhir ketika hama melampaui ambang ekonomi. BRIN juga memperkenalkan Program Komputer Pengidentifikasi Wereng Batang Cokelat (YUKE-WBC) sebagai produk riset terapan untuk membantu deteksi wereng di lapangan, memperkuat strategi pengendalian berbasis data. Di sinilah teknologi digital dan praktik agroekologi bertemu untuk menjaga produktivitas padi secara berkelanjutan.

Kolaborasi Riset BRIN dan Mitra Global Percepat Inovasi Pertanian dan Ketahanan Pangan

Penutup: ekosistem inovasi terpadu untuk ketahanan pangan yang lebih tangguh

Benang merah dari berbagai inisiatif BRIN jelas: ketahanan pangan tidak bisa dipisahkan dari kolaborasi riset pertanian yang terhubung, fasilitas HPC ASEAN yang kuat, dan kemandirian peternakan berbasis pakan lokal. Kolaborasi internasional dengan Tohoku University dirancang untuk memperluas jejaring riset dan mengembangkan kolaborasi di bidang pertanian dan pangan yang mendukung pembangunan berkelanjutan.

Inovasi pakan lokal memperkuat fondasi peternakan, sementara strategi pengendalian hama wereng padi yang terpadu menutup celah kerawanan di sawah. Di tingkat regional, fasilitas HPC ASEAN-Korea memberi mesin komputasi yang dibutuhkan untuk simulasi, prediksi, dan analisis kebijakan pangan canggih. Ke depan, kunci keberhasilan terletak pada konsistensi: disiplin data, pelaporan hasil riset, dan keberanian menjadikan sains sebagai landasan kebijakan. Tanpa itu, fasilitas dan MoU hanya akan menjadi simbol; dengan itu, ia bisa menjadi lompatan nyata menuju sistem pangan yang lebih adil, tangguh, dan berkelanjutan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!