Alisfest: Festival Pendidikan Sekolah sebagai Laboratorium Karakter
Alisfest adalah sebuah festival pendidikan sekolah yang memadukan kompetisi, kegiatan keagamaan, dan aksi sosial lintas jenjang untuk menguatkan pengembangan karakter siswa, prestasi akademik, dan nilai spiritual dalam satu ekosistem pembelajaran lintas jenjang yang terintegrasi. Di tengah kegaduhan debat kurikulum dan standar ujian, Alisfest 2026 menawarkan jawaban praktis: pendidikan karakter tidak cukup diajarkan di kelas, ia harus dihidupkan melalui pengalaman bersama. Digelar oleh Al-Azhar Kelapa Gading pada 18–21 Agustus 2026, Alazka Islamic Festival ini menjadi ruang di mana semangat kemerdekaan dan Spirit of Islam dipraktekkan, bukan hanya dislogankan.
Blessing of Freedom, Spirit of Islam: Tema yang Menuntut Tindakan
Mengusung tema “Blessing of Freedom, Spirit of Islam”, Alisfest 2026 sengaja diletakkan di persimpangan dua momentum besar: Tahun Baru Islam 1 Muharram dan Milad Alazka ke-38. Ini bukan kebetulan seremonial, melainkan pernyataan sikap bahwa kemerdekaan harus diisi dengan akhlak, tanggung jawab, dan prestasi. Menurut Ketua Yayasan, Irsan Nurfaqih Sjamhudi, Alisfest adalah momentum untuk memaknai kemerdekaan sekaligus memperkuat karakter, akhlak, dan potensi generasi muda. Dikemas dalam suasana peringatan Kemerdekaan RI ke-81, festival ini memadukan upacara simbolik dengan praktik nyata nilai keislaman, sehingga siswa belajar bahwa kebebasan bukan urusan slogan, tetapi cara mereka menggunakan ilmu, empati, dan kepedulian dalam kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran Lintas Jenjang: TK hingga SMA/MA dalam Satu Ekosistem
Salah satu kekuatan Alisfest adalah pembelajaran lintas jenjang yang nyata, bukan sebatas jargon. Peserta datang dari TK hingga SMA/MA, mencakup sekolah-sekolah di Jabodetabek dan berbagai daerah. Anak usia dini berlatih keberanian dalam lomba mewarnai dan adzan, sementara siswa yang lebih besar mengasah nalar dan literasi keislaman melalui Musabaqah Hifzhil Qur’an, Da’i Cilik, Cerdas Cermat Agama, dan penampilan seni. Di sisi lain, workshop, bedah buku, dan bazar UMKM mengajarkan bahwa ilmu, kreativitas, dan kemandirian ekonomi juga bagian dari pengembangan karakter siswa yang utuh. Ketika jenjang berbeda bertemu dalam satu festival, terbentuklah ekosistem di mana adik belajar dari kakak, guru belajar dari murid, dan sekolah belajar dari komunitas. Inilah pembelajaran lintas jenjang yang selama ini jarang diberi ruang serius.
Prestasi dan Nilai Spiritual: Kompetisi yang Mengakar pada Akhlak
Alisfest menolak dikotomi antara prestasi dan nilai spiritual. Kompetisi MHQ, Da’i Cilik, adzan, hadroh, hingga Cerdas Cermat Agama dirancang bukan sekadar mencari juara, tetapi memperkuat iman, akhlak, dan kepercayaan diri. Ketua Panitia, Wiwi Wiarsih, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah ruang untuk mengembangkan bakat, kreativitas, literasi keislaman, kepemimpinan, serta memperluas syiar Islam. Di sinilah festival pendidikan sekolah menunjukkan fungsinya yang paling penting: membuktikan bahwa pengembangan karakter siswa bisa berjalan seiring dengan pencapaian prestasi. Penampilan seni memberi ruang ekspresi, sementara kajian akbar bertema “Remaja Merdeka, Akhlaknya Juara” menancapkan pesan kuat bahwa kemerdekaan tanpa akhlak berisiko melahirkan generasi cerdas tetapi kehilangan arah.
Kepedulian Sosial dan Lingkungan: Spirit Islam yang Membumi
Alisfest membuktikan bahwa kepedulian tidak boleh berhenti di panggung upacara. Pada hari pembukaan, Alazka Care menyerahkan bantuan kepada 10 siswa SLBN 4 Jakarta Utara berupa perlengkapan sekolah, dua kursi roda, dan beasiswa uang tunai. Tindakan konkret ini menegaskan bahwa pengembangan karakter siswa harus menyentuh empati pada kelompok yang lebih terbatas aksesnya. Di level kebiasaan sehari-hari, sekolah mendorong warga belajar untuk mengurangi plastik sekali pakai, menggunakan tumbler, dan menjaga kebersihan lingkungan. Menurut Irsan, kepedulian kepada sesama dan lingkungan bukan slogan, melainkan karakter yang ingin ditanamkan. Jika festival pendidikan sekolah mampu mengikat kompetisi, syiar Islam, dan aksi sosial seperti ini, maka ia layak dipertahankan sebagai agenda tahunan yang mempengaruhi cara generasi muda memaknai kebebasan dan kebermanfaatan. Pada akhirnya, pendidikan yang terintegrasi seperti Alisfest-lah yang paling dekat dengan kebutuhan masa depan.






