Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Rempah ke Piring: Festival Gastronomi Mengangkat Warisan ke Panggung Dunia

Dari Rempah ke Piring: Festival Gastronomi Mengangkat Warisan ke Panggung Dunia
Minat|Estetika Memasak

Gastronomi sebagai perjalanan rasa, cerita, dan ekonomi

Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) adalah rangkaian festival dan forum yang menjadikan gastronomi sebagai pintu untuk menghubungkan rasa, cerita, identitas budaya, dan ekonomi berkelanjutan, dengan cara mempertemukan pemerintah, pelaku industri, chef, akademisi, dan komunitas agar warisan kuliner Nusantara dapat naik kelas menjadi pengalaman wisata, peluang bisnis, serta narasi gastronomi Indonesia global yang relevan bagi panggung dunia. Inti WIG bukan sekadar memamerkan makanan, melainkan menegaskan bahwa sepiring kuliner adalah simpul antara sejarah, bahan baku lokal, dan masyarakat yang menggantungkan hidup pada rantai pangan. Ketika rangkaian dibuka di Pura Mangkunegaran, Solo, lalu berlanjut ke Yogyakarta, arah gerak festival jelas: membawa kekayaan dari akar lokal menuju pasar yang lebih luas tanpa memutus identitas. Pilihan formatnya pun politis dan strategis. Alih-alih menggelar festival kuliner internasional tanpa konteks, WIG menggarisbawahi bahwa gastronomi Indonesia global harus berdiri di atas dokumentasi budaya, narasi yang kuat, dan skema ekonomi gastronomi berkelanjutan yang menguntungkan produsen kecil maupun pelaku pariwisata.

Dari Rempah ke Piring: Festival Gastronomi Mengangkat Warisan ke Panggung Dunia

Forum WIG Talks: Dari identitas ke mesin ekonomi

WIG Talks di Grand Hotel De Djokja bukan forum basa-basi; ia dirancang sebagai dapur gagasan yang mengubah warisan kuliner Nusantara menjadi mesin ekonomi gastronomi berkelanjutan. Sebanyak 22 pembicara hadir dalam lima sesi diskusi dan satu sesi ulasan buku, dengan peserta melampaui target awal 300 orang—angka yang menunjukkan lapar akan cara baru memaknai kuliner sebagai kekuatan sosial-ekonomi. Forum ini mempertemukan pemerintah, pelaku industri, chef, praktisi, akademisi, komunitas, hingga pelaku seni, menegaskan bahwa ekosistem gastronomi tidak bisa bergerak sendirian. Di sesi pembuka bertajuk "Gastronomy as Identity and Industry: Indonesia's Socio-Economic Engine", kebijakan budaya, pariwisata, dan pembangunan daerah dibahas dalam satu meja, mengaitkan rasa dengan penataan kota pusaka, rute wisata berbasis pengalaman, pengarsipan komunitas, dan distribusi nasional. Kekuatan forum ini ada pada sikapnya yang tegas: gastronomi bukan hobi eksotis, tetapi identitas yang harus dicatat, diwariskan, dan disusun menjadi strategi industri. Tanpa itu, impian gastronomi Indonesia global akan berhenti pada slogan, bukan pada manfaat konkret bagi UMKM dan masyarakat di dapur-dapur kecil.

Artisan Market: Laboratorium ekonomi rasa yang berkelanjutan

Jika forum WIG Talks mengolah gagasan, Artisan Market adalah panggung nyata di mana gagasan itu diuji melalui produk dan transaksi. Selama 2–4 Oktober, 21 tenant dari kawasan Joglosemar dan Jakarta hadir bersama 13 kolaborator yang menggelar lokakarya, sesi berbagi, dan demo memasak; kegiatan tiga hari ini ditargetkan menarik hingga 1.300 pengunjung. Di meja-meja kecil itu, beras aromatik, rempah pilihan, keju artisan berstandar internasional, teh, kopi Nusantara, dan jamu tradisional dengan sentuhan modern menunjukkan bahwa ekonomi gastronomi berkelanjutan bukan teori. Keberagaman produk memperlihatkan kreativitas pelaku usaha mengolah bahan baku lokal menjadi produk bernilai tambah, sekaligus membuktikan bahwa rantai nilai bisa diperpanjang tanpa mengorbankan cerita. Sikap kuratorial yang menonjol adalah keberpihakan pada produsen lokal: pemerintah mempertemukan produsen, UMKM, industri, dan konsumen agar gastronomi tidak berhenti sebagai warisan, melainkan berkembang menjadi aktivitas ekonomi yang memberi manfaat luas. Inilah bentuk festival gastronomi yang layak ditiru: memberi ruang eksperimen pasar, bukan sekadar panggung foto makanan.

Storytelling dan identitas: Menjual rasa lewat cerita, bukan tren sesaat

Salah satu sikap paling penting yang tampak di WIG adalah keyakinan bahwa gastronomi hanya akan bertahan di panggung global bila dibangun di atas cerita yang terdokumentasi. Di forum, GKR Bendara menekankan bahwa wisata gastronomi di Yogyakarta tidak cukup menyajikan makanan, tetapi harus menghadirkan latar cerita, pengalaman budaya, dan keberlanjutan sumber pangan lokal. Contoh tentang kuliner manis Yogyakarta yang berakar dari keberadaan sekitar 19 pabrik gula pada masa Sultan Hamengkubuwono VII menunjukkan bagaimana rekam sejarah dapat dijadikan daya tarik, bukan beban. Pendekatan serupa diterapkan pada kuliner langka seperti nasi golong gilig dan dawet sambal: rasa yang unik dikaitkan dengan narasi, sehingga kejutan di lidah diimbangi pemahaman di benak. Sikap ini penting bagi ambisi gastronomi Indonesia global; tanpa cerita, kuliner Nusantara akan mudah direduksi menjadi tren eksotis yang singkat umurnya. Dengan mengaitkan hidangan adat seperti rendang dengan filosofi dan penataan kota pusaka, WIG mendorong pelaku daerah untuk menjadikan kuliner sebagai jembatan antara sejarah, ruang kota, dan ekonomi wisata. Ini bukan sekadar romantisisme; ini strategi brand jangka panjang bagi warisan kuliner Nusantara.

Dari Solo ke Yogyakarta: Menggagas perjalanan wisata berbasis rasa

Rangkaian WIG yang dibuka di Pura Mangkunegaran, Solo, lalu berlanjut ke Yogyakarta menegaskan ambisi membangun wisata berbasis rasa, bukan sekadar destinasi foto. Kementerian Pariwisata berpandangan bahwa wisata gastronomi tidak berhenti ketika makanan tersaji di meja; di baliknya ada perjalanan wisatawan mengenal bahan pangan, menyaksikan proses memasak, bertemu masyarakat, dan memahami cerita hidangan. "Tujuan akhirnya bukan sekadar membuat orang mencicipi makanan Indonesia. Kita ingin rasa menjadi alasan orang melakukan perjalanan," ujar Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, yang membuka WIG Talks di Yogyakarta pada 2 Oktober. Pernyataan ini menggeser fokus dari promosi menu ke desain rute perjalanan yang menghubungkan pasar, kebun, dapur rumah, dan ruang cerita. Melalui forum, Artisan Market, dan kunjungan ke produsen pangan lokal, WIG menunjukkan bentuk konkret ekonomi gastronomi berkelanjutan: perjalanan wisata yang memperluas pasar produk lokal sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat di sepanjang rantai gastronomi. Kesimpulannya jelas: jika ingin warisan kuliner Nusantara berada di panggung dunia, kita harus berani memposisikan rasa sebagai alasan bepergian, bukan sekadar bonus dalam itinerary.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!