Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Rp12,1 Triliun untuk LRT Kelapa Gading-Manggarai, Tapi Layanannya Masih Terseok

Rp12,1 Triliun untuk LRT Kelapa Gading-Manggarai, Tapi Layanannya Masih Terseok
Minat|Asia Tenggara

LRT Kelapa Gading-Manggarai: Ambisi Besar, Realitas Pahit

LRT Kelapa Gading-Manggarai adalah proyek kereta ringan perkotaan sepanjang sekitar 12,2 kilometer yang menghubungkan Kawasan Kelapa Gading dengan Manggarai, dibangun sebagai bagian dari strategi pengembangan transportasi massal kota untuk mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi dan memperkuat integrasi moda transportasi publik.

Rute ini resmi beroperasi pada Rabu, 16 September 2026, dan diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto. Sejak itu, LRT Kelapa Gading-Manggarai dipromosikan sebagai salah satu tulang punggung baru transportasi massal Jakarta, dengan waktu tempuh sekitar 30 menit dari Kelapa Gading ke Manggarai yang dinilai jauh lebih cepat dibandingkan moda lain. Tarif awal diberi diskon hanya Rp8 untuk masa peresmian hingga 24 September 2026, lalu diberlakukan tarif flat Rp5.000 per perjalanan mulai 25 September 2026. Di atas kertas, kombinasi waktu tempuh cepat dan tarif terjangkau ini seharusnya menjadi senjata utama untuk menarik pengguna kendaraan pribadi beralih ke transportasi publik. Masalahnya, kertas dan lapangan ternyata masih belum sejalan.

Kualitas Layanan LRT: Tiket Macet, Stasiun Belum Penuh, Penumpang Padat

Dengan investasi sekitar Rp12,1 triliun, publik berhak berharap bahwa kualitas layanan LRT sudah siap sejak hari pertama. Kenyataannya, keluhan bermunculan. Masalah mesin tap in-tap out menjadi salah satu sorotan utama; di tengah antusiasme masyarakat memakai transportasi publik, sistem ticketing LRT Jakarta masih perlu dievaluasi oleh PT Jakarta Propertindo (Jakpro) selaku pengelola."Seiring dengan berlangsungnya operasional awal LRT Jakarta, kami terus melakukan evaluasi terhadap penggunaan sistem ticketing sebagai bagian dari upaya penguatan pelayanan," ujar VP Corporate Secretary Jakpro, Muhamad Alfin Rinaldyansyah.

Masalah tidak berhenti di tiket. Jakpro mengakui masih ada sejumlah stasiun yang belum beroperasi, sehingga kereta belum dapat berhenti di semua titik pada rute Kelapa Gading-Manggarai. Pembukaan stasiun dilakukan bertahap dengan alasan keamanan dan kenyamanan, namun bagi penumpang ini berarti akses yang setengah matang. Di sisi lain, antusiasme tinggi—terutama akhir pekan—berubah menjadi kepadatan, memaksa operator membatasi kuota penumpang hingga 140 orang per perjalanan secara situasional dan menambah rangkaian kereta untuk mengurangi penuh sesak. Dengan kapasitas satu rangkaian mencapai 270 penumpang, pembatasan ini menegaskan bahwa sistem belum menemukan ritme layanan yang stabil.

Integrasi Moda Transportasi: Janji Terkoneksi, Pengalaman Masih Terputus-putus

LRT Kelapa Gading-Manggarai tidak berdiri sendiri; proyek ini dirancang sebagai simpul dalam jaringan transportasi massal yang lebih luas, dengan integrasi moda transportasi lain sebagai kunci. Gubernur Pramono Anung memerintahkan agar Transjakarta dan Mikrotrans melayani seluruh 11 stasiun di rute ini, serta mengaktifkan kembali semua halte Transjakarta yang bersinggungan dengan LRT. Secara konsep, ini adalah langkah penting untuk membangun integrasi moda transportasi yang mempermudah perpindahan antarmoda dari LRT ke bus.

Namun integrasi di atas kertas berbeda dengan integrasi yang dirasakan penumpang. Saat sebagian stasiun LRT saja belum sepenuhnya beroperasi, keterhubungan dengan Transjakarta dan Mikrotrans otomatis menjadi timpang. Jalur yang semestinya memudahkan perpindahan justru memaksa penumpang beradaptasi dengan pengaturan sementara: stasiun belum dibuka, akses harus memutar, dan informasi perubahan layanan sering tertinggal dari fakta di lapangan. Dengan kata lain, integrasi moda transportasi masih terasa sebagai rangka kosong yang belum diisi dengan layanan konsisten dan mudah dipahami pengguna.

Tarif Terjangkau Bukan Obat Mujarab Jika Layanan Pincang

Pemerintah provinsi memasang tarif flat Rp5.000 per perjalanan untuk LRT Kelapa Gading-Manggarai setelah masa uji coba dengan tarif khusus Rp8. Di tengah masalah transportasi publik yang kronis, angka ini jelas dirancang agar LRT terasa terjangkau bagi warga dan mampu bersaing dengan moda lain. Waktu tempuh 30 menit di jalur sepanjang 12,2 kilometer semakin memperkuat narasi bahwa LRT adalah pilihan cepat dan murah.

Tetapi tarif terjangkau tidak otomatis mengubah perilaku pengguna kendaraan pribadi jika kualitas layanan LRT tertinggal. Gangguan ticketing, stasiun yang belum berfungsi penuh, dan pembatasan penumpang membuat pengalaman naik LRT terasa tidak pasti. Dengan investasi infrastruktur Jakarta yang begitu besar di proyek ini, publik wajar mempertanyakan mengapa sistem pendukung—dari mesin tiket, jadwal, hingga kapasitas kereta—tidak disiapkan dengan standar yang sama. Pada akhirnya, warga tidak hanya menilai dari harga tiket, tetapi dari seberapa mudah, lancar, dan dapat diprediksi perjalanan dari pintu rumah hingga pintu tujuan.

Investasi Raksasa, Pekerjaan Rumah Panjang

LRT Kelapa Gading-Manggarai dengan investasi sekitar Rp12,1 triliun adalah simbol ambisi besar investasi infrastruktur Jakarta untuk berpindah ke transportasi massal modern. Jalur ini menjadi pondasi bagi pengembangan lanjutan, termasuk rencana pembangunan rute Manggarai–Dukuh Atas yang akan dimulai paling lambat Januari 2027 dan ditargetkan selesai pada Agustus 2028. Di atas kertas, ini akan memperluas konektivitas dan memperkuat jaringan transportasi massal di pusat kota.

Namun sebelum menambah jalur baru, pekerjaan rumah di rute yang sudah ada harus diselesaikan. Jakpro sendiri mengakui bahwa selain memastikan kereta berjalan, mereka harus menjamin kesiapan sistem pendukung, mulai dari ticketing, stasiun, kapasitas kereta, hingga kelancaran perjalanan. "Dengan investasi yang mencapai Rp12,1 triliun, persoalan seperti sistem ticketing, kesiapan stasiun, kapasitas kereta, hingga kelancaran perjalanan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kualitas layanan LRT Jakarta," kata Alfin. Artinya, kesuksesan LRT tidak cukup diukur dari selesainya konstruksi, tetapi dari seberapa layak ia digunakan sejak penumpang tap in hingga mereka keluar di stasiun tujuan. Tanpa itu, LRT berisiko menjadi monumen mahal yang tidak mengubah kebiasaan warga.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!