Pola kemacetan dua hari berturut-turut
Rute macet Semarang–Solo adalah rangkaian ruas dan simpang yang tersendat karena pekerjaan jalan, pengaturan arus, serta kepadatan rutin, sehingga pilihan jalur perlu disesuaikan dengan tujuan dan waktu perjalanan. Perbandingan pembaruan 21 dan 22 Oktober menunjukkan pola yang tak banyak berubah: di Semarang, Piere Tendean tetap ditutup, sedangkan di Solo, Jurug C tetap padat. Perbedaan utamanya ada pada kendala lain di Solo: Juanda disebut menyempit pada 21 Oktober, sementara laporan 22 Oktober menyoroti Yos Sudarso sisi barat yang masih ditutup untuk revitalisasi hingga Desember 2026. Bagi pengendara, ini berarti jangan mengandalkan rute lama tanpa memeriksa titik hambatan pada hari keberangkatan. Kemacetan Jurug C paling perlu diperhitungkan saat jam sibuk sore, sementara penutupan Tendean membuat perjalanan menuju Balai Kota dan Tugu Muda perlu dialihkan.
Jembatan Jurug C tetap menjadi titik berat di Solo: pada pukul 16.00–17.00 WIB, waktu tempuh melintasinya bisa meningkat dua kali lipat.

Semarang: penutupan tetap, hambatan tersebar
Piere Tendean ditutup pada kedua pembaruan. Penutupan berada di lingkar Taman Signature atau Parikesit, pada arah menuju Balai Kota dan Tugu Muda, dan dijadwalkan berlangsung hingga 28 Oktober 2026 untuk pekerjaan drainase. Pengendara dari Jalan Pemuda sebaiknya memilih jalan memutar, bukan berharap akses segera dibuka. Jalur alternatif Semarang Solo yang disebut untuk titik ini adalah Jalan Pandanaran, lalu menuju Jalan Mgr Soegijapranata atau Jalan Sultan Agung. Sementara itu, perbaikan rel di Jalan Madukoro menerapkan buka-tutup satu sisi dan membuat akses ke Bandara Ahmad Yani tersendat; Jalan Arteri Utara menjadi alternatif yang disarankan.
Kepadatan Semarang tidak berhenti di dua lokasi tersebut. Kedungmundu Raya, Kaligawe Raya, Majapahit yang masih dibetonisasi, Siliwangi, dan Simpang Kalibanteng juga disebut padat merayap. Karena itu, pengalihan rute perlu mengikuti tujuan: Arteri Utara lebih relevan bagi perjalanan ke bandara, sedangkan Pandanaran dan jalan sambungannya lebih masuk akal untuk menuju pusat kota.
Solo: Jurug C konsisten padat, titik proyek bergeser
Di Solo, Jurug C padat pada 21 maupun 22 Oktober. Namun, rincian kendala lain berubah dalam sorotan laporan: pada 21 Oktober, Jalan Ir Juanda di Jebres mengalami penyempitan akibat peningkatan jalan dan rawan tersendat saat jam pulang kerja. Pada 22 Oktober, perhatian beralih ke Jalan Yos Sudarso sisi barat, dari Simpang Nonongan sampai Simpang Coyudan, yang masih ditutup untuk revitalisasi hingga Desember. Arus dari selatan ke utara ditutup sementara, sementara arah Nonongan menuju Coyudan masih dapat dilalui. Proyek tersebut ditargetkan rampung akhir tahun dan menggunakan anggaran lebih dari Rp 11 miliar dari APBD 2026.
Untuk menghindari kepadatan di sekitar Juanda, pengendara dapat mempertimbangkan Jalan Dr Radjiman. Bagi perjalanan dari barat menuju Jalan Slamet Riyadi, alternatif yang disebut ialah Jalan Dr Radjiman atau Simpang Gendengan; dari timur, pilih Jalan Bhayangkara–Sriwedari atau Jalan Dr Radjiman Laweyan. Pilih jalur berdasarkan arah asal, bukan sekadar mengikuti satu rute memutar untuk semua tujuan.
Pilih alternatif berdasarkan tujuan
Perbandingan jalur alternatif menunjukkan tidak ada satu jalan memutar yang cocok untuk semua perjalanan. Di Semarang, Pandanaran menuju Mgr Soegijapranata atau Sultan Agung membantu pengendara dari Jalan Pemuda yang hendak ke Balai Kota, sedangkan Arteri Utara lebih sesuai untuk menghindari hambatan Madukoro menuju bandara. Di Solo, Dr Radjiman menjadi pilihan untuk menghindari Juanda atau mengarah ke Slamet Riyadi; pengendara dari timur juga dapat memakai Bhayangkara–Sriwedari atau Dr Radjiman Laweyan. Jangan menyamakan pengalihan akibat penutupan dengan jalan pintas yang pasti lebih cepat: jalur alternatif pun dapat ramai, terutama menjelang jam pulang kerja.
Kesimpulannya, pantau dua titik yang paling konsisten—Piere Tendean di Semarang dan Jurug C di Solo—lalu sesuaikan rute dengan hambatan tambahan hari itu. Periksa pula apakah kendala yang berlaku adalah penyempitan Juanda atau penutupan Yos Sudarso. Keputusan berangkat lebih awal dan memilih alternatif berdasarkan arah perjalanan lebih berguna daripada bertahan pada rute kebiasaan.






