Pendidikan pesantren perlu menjawab perubahan zaman
Pengembangan santri adalah upaya memperkuat pengetahuan, kecakapan, karakter, dan kesempatan berkontribusi agar lulusan pesantren dapat menghadapi perubahan zaman sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat. Karena itu, dukungan pemerintah daerah semestinya tidak berhenti pada pernyataan seremonial: pendidikan pesantren perlu membekali santri dengan ilmu dan teknologi tanpa memisahkannya dari nilai agama dan akhlak. Di Kalimantan Utara, pemerintah provinsi menyatakan dukungan bagi pengembangan pesantren demi meningkatkan kualitas sumber daya manusia berbasis keagamaan. Komitmen itu disampaikan Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Setdaprov Kaltara, Muh. Rosyit, saat menjadi inspektur upacara Hari Santri di Pesantren Al-Hayat pada 22 Oktober 2026. Pesan yang dibacakan membawa tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Arah ini tepat: santri kuasai teknologi, tetapi kemajuan itu harus berjalan bersama akhlak santri agar kecakapan baru juga disertai tanggung jawab.
Pesantren memiliki fungsi sebagai lembaga pendidikan, pusat dakwah, dan wadah pemberdayaan masyarakat. Ketiga peran itu menuntut pendidikan yang bukan hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membantu santri menerapkannya dalam kehidupan bersama. Akses pada pembelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi akan lebih bermakna jika disertai penguatan karakter dan peluang berlatih berkontribusi. Inilah ukuran penting keberhasilan dukungan daerah: apakah santri memperoleh bekal yang relevan dan ruang untuk menggunakannya, bukan sekadar apakah sebuah program diumumkan.

Dari mimpi besar menuju peran pembangunan
Di Kapuas Hulu, peringatan Hari Santri menjadi panggung untuk menegaskan bahwa santri bukan hanya penjaga tradisi, melainkan juga bagian dari pembangunan. Sebanyak 1.200 santri mengikuti peringatan di halaman gedung Satap Kapuas Hulu pada 22 Oktober 2026. Bupati Fransiskus Diaan menyebut mereka berperan membangun sumber daya manusia yang unggul, berakhlak mulia, dan berdaya saing, serta mengajak mereka berani bermimpi besar dan terus belajar. Dorongan itu penting karena cita-cita tidak akan menjadi kontribusi tanpa pendidikan, kedisiplinan, dan kesempatan untuk berkiprah. Bupati juga mengingatkan santri agar membawa nilai perjuangan, keikhlasan, dan disiplin sebagai bekal menghadapi masa depan. Pesan tersebut menempatkan akhlak bukan sebagai pelengkap, tetapi sebagai landasan bagi ilmu dan pengabdian.
Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu menyatakan akan memperkuat sinergi dengan pesantren, ulama, tenaga pendidik, dan masyarakat untuk meningkatkan kualitas pendidikan serta membuka ruang bagi santri untuk berkembang. Langkah berikutnya harus membuat ruang itu terasa nyata: lulusan pesantren perlu didukung agar dapat menunjukkan kemampuan di berbagai bidang. Jika tidak, seruan untuk bermimpi besar berisiko tinggal sebagai slogan. Sebaliknya, ketika dorongan belajar diikuti dukungan pendidikan dan kesempatan berperan, santri dapat ikut merancang masa depan daerah, bukan hanya mewarisi tradisinya.
Dukungan daerah perlu berujung pada kesempatan nyata
Pesan dari Kaltara dan Kapuas Hulu saling melengkapi: yang satu menekankan bekal ilmu, teknologi, dan akhlak; yang lain mengajak santri mengambil tempat dalam pembangunan. Keduanya memandang pendidikan pesantren sebagai investasi sosial, bukan urusan internal lembaga semata. Peringatan Hari Santri 2026 di Kaltara juga mengingatkan fungsi pesantren dalam pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Dengan demikian, pengembangan santri semestinya menghubungkan pembelajaran di pesantren dengan kebutuhan masyarakat sekitar. Kecakapan digital dan ilmu pengetahuan membuka pilihan, sementara nilai agama dan akhlak membantu santri menggunakan kemampuan itu secara bertanggung jawab.
Komitmen dukungan perlu diteruskan lewat koordinasi Pemprov Kaltara dengan perangkat daerah terkait dan Kantor Wilayah Kementerian Agama. Di Kapuas Hulu, sinergi dengan pesantren dan tenaga pendidik menjadi jalur untuk meningkatkan mutu pendidikan serta membuka ruang berkembang. Ukuran kemajuannya bukan banyaknya janji, melainkan apakah santri mendapat pembelajaran yang sesuai perubahan zaman dan kesempatan mengabdi. Pemerintah daerah dapat membantu memastikan kedua hal itu berjalan beriringan, sehingga kemajuan teknologi tidak mengikis karakter dan pendidikan agama tidak membatasi cita-cita.
Kesimpulannya, dukungan daerah terhadap santri akan bernilai ketika menggabungkan ilmu, teknologi, akhlak, dan peran sosial dalam satu arah yang konsisten. Santri perlu didorong untuk bermimpi besar sekaligus diberi pendidikan dan ruang untuk mewujudkannya. Dengan perpaduan itu, pesantren dapat terus menjaga nilai keagamaan sambil menyiapkan generasi yang mampu ikut membangun masyarakat.






