Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Mesin Tekstil Tua, Surplus Ekspor yang Terancam

Mesin Tekstil Tua, Surplus Ekspor yang Terancam
Minat|Asia Tenggara

Surplus Ekspor Bukan Jaminan Daya Saing

Mesin tekstil Indonesia yang sudah uzur merujuk pada kondisi fasilitas produksi tekstil dan produk tekstil yang rata-rata berusia lebih dari dua dekade, sehingga menghambat produktivitas, efisiensi energi, dan kualitas output, dan pada akhirnya melemahkan daya saing industri tekstil di pasar global meskipun kinerja ekspor saat ini masih menunjukkan surplus yang tampak meyakinkan. Di atas kertas, sektor kimia, farmasi, dan tekstil mencatat surplus perdagangan sekitar US$1,45 miliar sepanjang Januari–Juli, dengan ekspor yang lebih besar daripada impor. Namun angka surplus itu menipu rasa aman: ia menutup mata dari fakta bahwa mesin tekstil Indonesia sudah tua, boros, dan kalah canggih dibanding teknologi modern dari negara pesaing. Jika hanya terpaku pada surplus hari ini, kita berisiko mengabaikan erosi daya saing yang pelan namun pasti. Surplus ekspor tekstil surplus bisa berubah menjadi defisit bila modernisasi terus ditunda.

Target Pertumbuhan Tinggi, Mesin Masih Abad Lama

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029, dan memperkuat sektor industri kimia, farmasi, dan tekstil sebagai salah satu tumpuan utamanya. Menteri Perindustrian menegaskan sektor ini strategis untuk nilai tambah, ekspor, investasi, dan penyerapan tenaga kerja, termasuk industri tekstil dan produk tekstil, kulit, serta alas kaki. Di triwulan II, tekstil dan pakaian jadi tumbuh 6,36 persen, sementara industri kulit dan alas kaki tumbuh 11,30 persen. Secara makro, ini tampak sehat. Tapi di lantai pabrik, ceritanya lain: banyak mesin tekstil Indonesia berusia lebih dari 20 tahun, dengan performa yang makin jauh dari teknologi produksi yang dipakai negara pesaing seperti Tiongkok. Ironisnya, kita menginginkan daya saing industri tekstil kelas dunia, tetapi masih mengandalkan mesin era lama yang tidak didesain untuk kompetisi global hari ini.

Modernisasi Teknologi Tekstil: Bukan Pilihan, Melainkan Wajib

Pernyataan Menteri Perindustrian bahwa “permasalahan mesin-mesin industri tekstil yang sudah tua harus segera ditangani” adalah pengakuan jujur bahwa jantung produksi kita bermasalah. Tanpa pembaruan teknologi, industri menghadapi risiko kehilangan efisiensi dan makin sulit mengejar produktivitas negara pesaing. Modernisasi teknologi tekstil berarti lebih dari sekadar mengganti mesin; ia mencakup investasi pada otomasi, sistem kontrol digital, dan integrasi data agar proses dari serat hingga pakaian bisa lebih cepat, hemat energi, dan konsisten kualitasnya. Kemenperin mulai mendorong restrukturisasi mesin dan peralatan TPT serta membuka akses Kredit Industri Padat Karya sebagai jalan pembiayaan. Namun selama investasi teknologi masih dianggap beban, bukan instrumen bertahan hidup, daya saing industri tekstil akan terus tergerus oleh produk impor yang lebih murah dan berkualitas.

Energi, Bahan Baku, dan Risiko Ketertinggalan Struktural

Masalah mesin tekstil Indonesia tidak berdiri sendiri; ia berkelindan dengan persoalan energi dan bahan baku. Biaya energi, khususnya gas, masih menjadi penentu utama kemampuan industri bertahan. Kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu dirancang untuk menopang industri, tetapi sejumlah pelaku baru menerima sekitar 60–70 persen dari alokasi gas yang sudah ditetapkan. Artinya, sekalipun mesin diperbarui, pabrik masih bisa tersendat bila pasokan gas tidak pasti dan infrastrukturnya lemah. Wakil Menteri Perindustrian menekankan perlunya langkah konkret hingga 2029, termasuk target berapa persen kebutuhan bahan baku yang dipenuhi dari pasokan domestik. Tanpa rencana energi dan bahan baku yang jelas, modernisasi teknologi tekstil akan berjalan pincang. Kita berisiko memiliki mesin baru yang bekerja di ekosistem lama: pasokan gas timpang, bahan baku tidak pasti, dan kebijakan yang belum menyatu.

Mengunci Daya Saing Ekspor Sebelum Surplus Menguap

Kemenperin sudah menempatkan industri tekstil sebagai tulang punggung penyerapan tenaga kerja, dengan target kenaikan dari 3,95 juta menjadi 4,07 juta pekerja pada 2029. Peningkatan tenaga kerja ini hanya masuk akal bila daya saing industri tekstil ikut naik, bukan turun. Modernisasi mesin tekstil Indonesia, penguatan akses pembiayaan, restrukturisasi peralatan, dan perlindungan pasar domestik adalah paket kebijakan yang tepat arah, tetapi belum tentu cukup jika tidak dijalankan cepat dan konsisten. Saat ini sektor kimia, farmasi, dan tekstil masih menyumbang surplus perdagangan, namun capaian itu sudah dibayangi tekanan produk impor dan teknologi produksi negara pesaing yang lebih maju. Jika modernisasi teknologi tekstil kembali ditunda, kita bukan hanya kehilangan peluang PDB dan ekspor, tetapi juga mengorbankan jutaan pekerja industri padat karya yang menggantungkan hidup pada pabrik berteknologi usang.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!