Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

24 Kampus Perkuat Jejaring Akademik dengan VNU Hanoi

24 Kampus Perkuat Jejaring Akademik dengan VNU Hanoi
Minat|Asia Tenggara

Internasionalisasi Pendidikan Tinggi: dari Slogan ke Kolaborasi Nyata

Internasionalisasi pendidikan tinggi adalah proses sistematis ketika perguruan tinggi membangun kolaborasi lintas negara dalam pengajaran, riset, mobilitas akademik, dan kemitraan kelembagaan, bukan sekadar tampil di panggung konferensi, tetapi menciptakan program bersama yang memberi manfaat konkret bagi dosen, mahasiswa, peneliti, dan masyarakat. Di sinilah makna kunjungan akademik delegasi yang merepresentasikan jejaring 24 perguruan tinggi ke Vietnam National University (VNU) Hanoi: ini bukan wisata intelektual, melainkan uji lapangan atas keseriusan kolaborasi universitas Indonesia Vietnam yang selama ini banyak berhenti di tataran retorika. Kehadiran mereka sebagai bagian dari The 3rd International Sandbox Conference sekaligus peluncuran International Conference on Accounting, Management and Economic Resilience menunjukkan bahwa konferensi diposisikan sebagai pintu masuk, bukan tujuan akhir internasionalisasi.

Peran FAME Indonesia: Komunitas Kolaboratif, Bukan Broker MoU

Kunjungan ke VNU Hanoi memperlihatkan ambisi FAME Indonesia kerjasama lintas negara yang lebih berani: menjadi komunitas akademik kolaboratif, bukan sekadar penyelenggara konferensi. Prof. Yuliansyah menegaskan, “FAME is a collaborative academic community connecting universities, academics, researchers, and practitioners in the fields of Accounting, Management, and Economics.” Pernyataan ini penting karena menggeser logika kerja sama dari seremoni ke ekosistem. Delegasi perguruan tinggi yang dibawa FAME jelas diarahkan membuka ruang kolaborasi dalam pendidikan, penelitian, publikasi ilmiah, pengabdian kepada masyarakat, serta kemitraan kelembagaan di tingkat internasional. Dengan kata lain, FAME mengambil posisi sebagai penghubung strategis yang mengikat aktor-aktor kampus dalam jejaring akademik Asia Tenggara yang lebih terstruktur, meski jejaring itu masih dalam fase awal dan belum sepenuhnya teruji.

MoU Bukan Finish Line: Tekanan pada Program Konkret

Agenda kunci dalam kunjungan ini adalah pendorongan penandatanganan MoU antara VNU Hanoi dan sejumlah perguruan tinggi, mulai dari politeknik hingga universitas negeri dan swasta. Tetapi Dr. Dani Amrul Ichdan secara terang menolak budaya MoU sebagai tujuan akhir: “For us, an MoU is not simply a document. It should be the beginning of real collaboration.” Sikap ini layak diapresiasi, sekaligus menjadi komitmen yang kelak harus diuji. FAME mendorong agar MoU diterjemahkan ke student and staff mobility, joint research, joint publications, pengabdian, seminar, dan kegiatan akademik lain yang terukur dampaknya. Di titik ini, internasionalisasi pendidikan tinggi dipertajam: keberhasilan tidak lagi diukur dari jumlah penandatanganan, melainkan dari kualitas dan konsistensi program kolaboratif yang benar-benar berjalan di lapangan.

Unigoro dan Makna Internasionalisasi bagi Kampus Daerah

Kehadiran Universitas Bojonegoro (Unigoro) dalam delegasi menunjukkan bahwa internasionalisasi bukan monopoli kampus besar di kota utama. Bagi Unigoro, agenda ini diposisikan sebagai upaya memperluas jejaring akademik sekaligus memperkuat posisi perguruan tinggi di tingkat global, dengan manfaat langsung bagi dosen, mahasiswa, penelitian, publikasi, dan pengembangan institusi. Pernyataan perwakilan Unigoro, Dr. Saiful Anam, yang berharap kunjungan ini memberi kemajuan dan manfaat positif bagi internasionalisasi kampusnya, menggambarkan aspirasi perguruan tinggi daerah untuk keluar dari isolasi akademik. Namun tantangan berikutnya jelas: apakah kampus-kampus seperti Unigoro mampu menindaklanjuti peluang kolaborasi universitas Indonesia Vietnam menjadi program berkelanjutan, atau kembali terjebak pada siklus foto kenangan dan laporan kegiatan. Internasionalisasi yang bermakna menuntut investasi waktu, tenaga, dan keberanian mengubah cara kerja akademik sehari-hari.

Dari Hanoi ke Ekosistem Global: Peluang dan PR Kolektif

Kunjungan ke VNU Hanoi membangun perspektif baru bahwa internasionalisasi pendidikan tinggi perlu diukur dari kemampuan membangun jejaring, menghasilkan kolaborasi, dan menciptakan program berdaya guna, bukan dari frekuensi tampil di forum global. Melalui jejaring FAME Indonesia dan kemitraan dengan institusi pendidikan tinggi di Vietnam, perguruan tinggi di dalam negeri diharapkan semakin aktif mengambil bagian dalam ekosistem akademik global. Secara strategis, ini membuka peluang jangka panjang bagi terbentuknya kemitraan akademik yang lebih erat antara dua sistem pendidikan tinggi yang tengah tumbuh pesat. Namun peluang itu datang bersama pekerjaan rumah: memastikan keberlanjutan program, mengatasi kesenjangan kapasitas antar kampus, dan menjaga agar kolaborasi universitas Indonesia Vietnam tidak timpang atau simbolik belaka. Jika komitmen pada kolaborasi nyata dipenuhi, Hanoi bisa menjadi titik awal transformasi, bukan sekadar destinasi konferensi periodik.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!