Ulos In Innovation: Saat Kota Medan Berpikir Seperti Kota Global
Medan Fashion & Culture Festival bertema “Ulos In Innovation” adalah inisiatif pemerintah kota yang menjadikan kain ulos tradisional sebagai pusat strategi pengembangan fesyen berbasis warisan budaya Batak, dengan memadukan pelestarian nilai tradisi dan inovasi desain tekstil modern untuk menjangkau konsumen lokal dan global melalui satu panggung yang terkurasi. Medan tidak sedang menggelar festival seremonial; kota ini sedang menguji apakah wastra lokal bisa naik kelas menjadi komoditas gaya hidup dunia. Pemerintah Kota Medan melalui Dinas Pariwisata resmi menggelar festival ini di Atrium Sun Plaza pada 13–18 Oktober, menjadikannya ruang publik terbuka yang memaksa ulos berhadapan langsung dengan selera pasar urban. Pilihan lokasi dan format menunjukkan ambisi: ulos harus keluar dari kotak “kain adat” dan masuk ke rak fashion kontemporer.

Rico Waas: Ulos Bukan Sekadar Kain, Tapi Identitas dan Modal Ekonomi
Sikap Wali Kota Rico Waas jelas: ulos adalah warisan budaya Batak yang menyimpan sejarah, identitas, dan nilai budaya lintas generasi, sekaligus peluang nyata untuk menembus pasar fesyen dunia. Ketika ia menyebut harga kain lokal tradisional “sesungguhnya tidak terhingga” karena akar budayanya, itu bukan pujian kosong, melainkan pernyataan politik kebudayaan yang menempatkan wastra sebagai aset strategis kota. Dengan menyebut ulos, kain Melayu, Karo, Minang, Riau hingga batik sebagai kekayaan yang “mewah”, Rico sedang membangun narasi bahwa Medan punya portofolio tekstil yang layak dipertarungkan di panggung global. Namun ia juga mengingatkan: sebelum bicara dunia, pasar dalam negeri harus belajar bangga dan rutin memakai karya desainer lokal. Tanpa konsumen lokal yang setia, mimpi global hanya akan menjadi slogan festival.

Festival Fesyen Medan: Laboratorium Inovasi Desain Tekstil Berbasis Tradisi
Medan Fashion & Culture Festival bekerja seperti laboratorium: kekayaan wastra Nusantara dipadukan dengan kreativitas desainer dalam karya busana modern, menjadikan ulos sebagai bahan eksperimen utama inovasi desain tekstil. Delapan desainer lokal dan dua desainer nasional dilibatkan, dengan sekitar 20 peserta per hari dan lebih dari 40 model tampil di panggung setiap malam, masing-masing sesi diisi dua desainer lokal. Angka ini penting karena menunjukkan skala ekosistem kreatif yang sedang dibangun, bukan sekadar pertunjukan satu-dua nama besar. Peragaan busana, talkshow tentang ulos dan kriya, kompetisi anak dan remaja, hingga penampilan artis lokal dan nasional menjadikan festival ini ruang belajar bersama: pengrajin memahami kebutuhan pasar, desainer memahami batas dan potensi motif tradisional, sementara publik diajak melihat ulos sebagai fashion statement, bukan hanya kain upacara.
Dari Pengrajin ke Desainer: Rantai Nilai Baru Ulos Tradisional
Di balik panggung yang gemerlap, festival ini sedang membentuk rantai nilai baru bagi kain ulos tradisional. Ulos yang dulu berputar di lingkaran adat kini diarahkan menjadi bahan baku industri fesyen yang melibatkan pengrajin kain, penyedia bahan, desainer, hingga konsumen akhir. Kepala Dinas Pariwisata M. Odi Anggia Batubara menegaskan bahwa industri fesyen selalu menciptakan efek ganda: desainer butuh pengrajin, pengrajin butuh bahan, dan semua pihak bergantung pada respon pasar. Dengan menyediakan booth produk UMKM seperti tas dan fashion, festival ini memberi panggung konkret bagi pelaku kecil untuk menguji produk mereka di pasar yang lebih luas. Jika konsisten, strategi ini bisa mengubah ulos menjadi sumber penghidupan yang lebih stabil bagi pengrajin, sekaligus memperkuat posisi Medan sebagai kota yang mengaitkan warisan budaya Batak dengan peluang ekonomi kreatif jangka panjang.
Langkah Lanjut: Ulos Harus Menjadi Kebiasaan, Bukan Sekadar Tema Festival
Pertanyaan pentingnya: apa yang terjadi setelah lampu panggung festival padam pada 18 Oktober? Pemerintah kota sudah memberi sinyal bahwa hasil Medan Fashion & Culture Festival ditargetkan hadir di Mustika Deli pada tahun anggaran berikutnya, sebagai langkah lanjutan memperkuat jaringan fesyen dan melahirkan talenta yang siap bersaing di tingkat nasional dan internasional. Ini arah yang tepat, tetapi belum cukup. Tanpa kebiasaan sehari-hari memakai ulos dalam bentuk busana modern, semua inovasi desain tekstil akan berhenti di katalog acara. Kota Medan perlu menjadikan ulos bagian dari dress code kantor, gaya anak muda, hingga souvenir resmi kota. Jika strategi festival, kebijakan, dan kebiasaan publik bertemu di satu titik, ulos tidak hanya akan “siap” menantang pasar global, tetapi juga punya basis sosial yang kuat ketika akhirnya melangkah ke sana.






