Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Tiga Desainer Tenun Lokal Menantang Panggung Global

Tiga Desainer Tenun Lokal Menantang Panggung Global
Minat|Pertunjukan Busana

Tenun Lokal Indonesia Bukan Lagi Pemain Figuran

Tenun lokal Indonesia adalah kelompok tekstil tradisional yang ditenun secara manual di berbagai daerah, mengandung motif, teknik, dan filosofi khas, yang kini sengaja diolah ulang menjadi busana modern untuk memenuhi standar fashion internasional Nusantara, sekaligus mendorong tekstil tradisional ekspor agar bernilai ekonomi dan relevan di pasar global masa kini.

Panggung IN2MOTIONFEST x JMFW 2026 membuktikan satu hal: tenun tidak lagi pantas ditempatkan sebagai aksesoris folklor, tetapi sebagai inti identitas modest fashion profesional yang siap bersaing di fashion internasional Nusantara. Dengan tema ekosistem modest fashion yang terintegrasi dan ambisi mengubah merek lokal menjadi bisnis global, ajang ini melibatkan lebih dari 300 desainer, brand, UMKM, dan anggota IKRA, plus tamu mancanegara dari India hingga Filipina. Ini bukan sekadar peragaan busana; ini deklarasi bahwa wastra adalah strategi ekonomi. Jika desainer berani mengolah warisan dengan bahasa desain global, tenun lokal Indonesia bisa bergeser dari komoditas souvenir menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi.

Nina Nugroho: Tenun Makassar Masuk Ruang Rapat

Nina Nugroho mengambil posisi tegas: busana Muslimah profesional harus menjadi medium identitas budaya, bukan sekadar seragam kantor yang rapi. Melalui koleksi TANA DOANG – Heritage in Motion di IN2MOTIONFEST x JMFW 2026, ia mengolah delapan tampilan yang memadukan karakter profesional, potongan modern, dan nilai tradisi dari tenun Makassar. Tenun Lagosi dan Tenun Sarung Sengkang bukan ditempel sebagai ornamen, tetapi dijadikan struktur utama desain, dari long outer, jaket, coat, hingga cape yang siap dipakai di ruang rapat dan forum internasional.

Pilihan dua wastra Makassar ini strategis. Tenun Lagosi membawa narasi harmoni dan identitas budaya, sementara Sarung Sengkang memuat filosofi Siri’ na Pacce tentang harga diri dan integritas. Dengan tailoring tegas, permainan motif bunga, garis, dan kotak, Nina mengirim pesan politik yang halus: perempuan profesional Muslimah berhak tampil premium tanpa melepas akar budaya. Ia menolak tenun dipenjara di acara adat; tradisi harus bergerak, atau ia akan ditinggalkan pasar. Harapannya jelas, “busana ini bisa digunakan oleh perempuan profesional Muslimah untuk kegiatan kantor yang lebih premium,” sebuah pernyataan yang menggeser tenun dari nostalgia ke kebutuhan sehari-hari.

Tiga Desainer Tenun Lokal Menantang Panggung Global

Tifa Kaisty: Tenun Riau dan Ambisi Ekspor

Jika Nina fokus pada ruang kerja, Tifa Kaisty Salsabila menatap langsung ke pasar ekspor. Sebagai desainer JMFW 2026 asal Riau, ia menjadikan tenun daerah sebagai tulang punggung koleksi Puan Pesisir, terinspirasi dari sejarah pesisir Riau sebagai titik temu budaya Melayu, Tionghoa, India, Arab, dan Eropa. Alih-alih terjebak romantisme tradisi, Tifa mengemasnya dalam siluet sederhana, klasik, dan elegan, ditajamkan detail bunga tiga dimensi dan tenun Riau bermotif bunga dan wajik.

Strateginya jelas: membuat tenun lokal Indonesia mudah diterima pasar nasional dan internasional tanpa kehilangan akar. Partisipasinya di JMFW 2026 ia gunakan sebagai pintu memperluas jangkauan pasar, dari konsumen domestik hingga pembeli ekspor. Di sinilah tenun Riau berhenti menjadi kain seremonial dan mulai berfungsi sebagai produk tekstil tradisional ekspor yang dirancang dengan selera global. Dengan menggabungkan referensi lintas budaya ke dalam satu narasi visual, Tifa menunjukkan bahwa warisan Melayu tidak rapuh; ia cukup lentur untuk berdialog dengan selera pembeli Timur Tengah, Asia, atau Eropa tanpa kehilangan jati diri.

Erina Ichwan: Dari Ruang Redaksi ke Runway Internasional

Berbeda dari dua desainer lain, kekuatan Erina Ichwan bukan hanya di rancangan, tetapi di kemampuan bercerita. Berangkat dari dunia jurnalistik dan organisasi profesi, ia membawa label ERINA GALLERY ke panggung IN2MOTIONFEST x JMFW 2026 sebagai bagian dari parade modest fashion internasional di JICC Senayan. Dijadwalkan tampil di Parade 6 pada 15 Oktober pukul 14.30–16.00 WIB, ERINA GALLERY 5 menjadi salah satu penutup di antara 11 brand terpilih.

Erina paham bahwa tanpa narasi kuat, wastra mudah direduksi menjadi motif cantik tanpa konteks. Pengalamannya di IPJI NTB membentuk prinsip bahwa wastra harus punya otoritas cerita, dan itu ia terjemahkan dalam manajemen usaha yang menghubungkan Tenun Sasambo, songket Sukarara, dan kekayaan wastra NTB dengan kebutuhan pasar modest fashion modern. Ajang ini ia gunakan untuk membangun jejaring bisnis, memperluas pengenalan produk berbasis budaya lokal, dan membuka peluang kerja sama lintas daerah serta mancanegara. Dengan lebih dari 300 desainer dan brand terlibat, kehadiran Erina menegaskan bahwa desainer perempuan dari daerah pun berhak mengambil posisi di peta fashion internasional Nusantara, bukan sekadar menjadi penonton.

Tiga Desainer Tenun Lokal Menantang Panggung Global

Dari Runway ke Kontrak Dagang: Apa Langkah Berikutnya?

Pertanyaan pentingnya: setelah lampu runway padam, apa yang tersisa? IN2MOTIONFEST x JMFW 2026 tidak berhenti di peragaan busana. Penyelenggara menyiapkan Wastra Business Matching, pameran perdagangan, dan pemetaan tren fashion 2027–2028 untuk membuka akses kemitraan bisnis dan memperluas distribusi produk. Di sinilah strategi tiga desainer ini diuji: apakah tenun Lagosi, Sengkang, Riau, Sasambo, dan songket Sukarara siap masuk katalog buyer global sebagai tekstil tradisional ekspor, bukan sekadar koleksi editorial?

Jawabannya bergantung pada konsistensi mereka menjaga keseimbangan antara warisan dan standar fashion internasional. Nina sudah menunjukkan bagaimana modest fashion profesional bisa mengangkat filosofi Siri’ na Pacce tanpa terlihat kostum. Tifa membuktikan tenun Riau sanggup berbicara dalam bahasa desain lintas budaya. Erina membangun jembatan antara wastra NTB dan ekosistem bisnis global. Kesimpulannya, jika desainer lain mengikuti jejak ini—menguasai desain, narasi, dan jejaring—maka tenun lokal Indonesia tidak lagi sekadar identitas kultural, tetapi aset ekonomi strategis yang menghubungkan kampung penenun dengan pasar dunia.

Tiga Desainer Tenun Lokal Menantang Panggung Global

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!