ISEF sebagai Gerbang UMKM ke Ekosistem Halal dan Pasar Global
Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) adalah festival ekonomi dan keuangan syariah yang dirancang sebagai ekosistem terintegrasi untuk memperkuat rantai nilai halal, memperdalam pasar keuangan syariah, mengoptimalkan keuangan sosial syariah, dan memperluas inklusi melalui transformasi digital, sekaligus membuka akses pasar nasional dan internasional bagi UMKM yang bergerak di produk halal dan fesyen muslim. ISEF ke-13 dibuka resmi oleh Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti dan Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo di Jakarta International Convention Center pada 14 Oktober dan berlangsung hingga 18 Oktober. Ini bukan sekadar pameran, tetapi panggung seleksi: siapa UMKM yang siap naik kelas ke pasar halal global, siapa yang masih bertahan di zona nyaman lokal. Dengan lebih dari 1.000 pelaku industri halal terlibat, UMKM akses pasar ISEF menjadi uji nyali sekaligus uji kualitas.
Strategi BI Lampung dan Riau: Dari Binaan Lokal ke Panggung Nasional
KPw BI Lampung membawa 10 UMKM binaan dan mitra ke ISEF, menampilkan kopi, teh artisan, keripik, kriya, hingga fesyen muslim berbasis wastra khas Lampung. Sementara BI Riau mengikutsertakan 9 UMKM unggulan dengan produk aneka keripik, olahan nanas, bumbu masakan, dan busana muslim berbahan kain tradisional. Puluhan pelaku ini tidak dikirim untuk sekadar mengisi stan; mereka dikirim sebagai duta rantai nilai halal daerah. Fokusnya jelas: UMKM akses pasar ISEF harus bertransformasi dari pemain lokal menjadi pemasok produk halal ekspor yang siap memenuhi permintaan konsumen muslim lintas negara. Pemerintah sendiri menegaskan bahwa penguatan industri halal dan UMKM, serta perluasan ekspor dan kerja sama internasional adalah jalur utama menjadikan ekonomi syariah Indonesia sumber pertumbuhan baru. Tanpa keberanian membawa UMKM ke arena nasional, visi itu hanya akan berhenti di dokumen perencanaan.
Fesyen Muslim dan Wastra Daerah: Senjata Identitas di Pasar Global
Di sektor fesyen muslim global, BI regional tampak paling agresif. Lampung mendorong kain tapis dan batik Lampung sebagai wastra daerah yang punya nilai budaya dan potensi ekonomi, termasuk melalui partisipasi tiga desainer dan perajin di pameran serta peragaan busana IN2MOTION yang menyasar pasar nasional dan internasional. Riau mengirim Thiffa Qaisty dan ANFIHA ke Indonesia International Moslem Modest Fashion Festival (IN2MOTIONFEST), menampilkan busana muslim berbahan kain tenun khas Riau yang mendapat apresiasi audiens. Di sini terlihat strategi yang cerdas: fesyen muslim global bukan hanya soal tren, tetapi soal identitas. Wastra daerah dijadikan pembeda yang sulit ditiru pesaing luar. Ketika laporan State of the Global Islamic Economy menempatkan ekonomi syariah Indonesia di peringkat keempat dunia, fesyen muslim berbasis wastra lokal adalah cara paling konkret untuk mengisi posisi itu dengan produk nyata, bukan sekadar angka.
Produk Halal dan Ekonomi Syariah: Dari Sertifikasi ke Daya Saing
Keikutsertaan UMKM di ISEF tidak akan berarti tanpa fondasi sertifikasi dan ekosistem keuangan syariah yang kuat. BI Riau, bersama BPJPH, pemerintah daerah, dan akademisi, memfasilitasi ratusan sertifikat halal melalui skema self declare dan reguler, serta sertifikasi juru sembelih halal dan rumah potong unggas sepanjang tahun. Langkah serupa juga dilakukan BI Lampung dengan fasilitasi 100 sertifikat halal UMKM self declare, enam sertifikat reguler, 32 juru sembelih halal, dan satu rumah potong unggas. Ini bukan administrasi belaka; tanpa sertifikasi, produk halal ekspor hanya akan berhenti di pintu masuk pasar global. Di tingkat makro, rantai nilai halal tumbuh 5,5% year-on-year pada triwulan II, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional, menunjukkan bahwa ekonomi syariah Indonesia sudah bergerak. Pertanyaannya: apakah UMKM siap memanfaatkan momentum ini, atau membiarkan pertumbuhan dinikmati pemain besar saja?
Sinergi Keuangan Syariah dan UMKM: Menentukan Masa Depan Pasar Halal
ISEF menjadi laboratorium sinergi antara lembaga keuangan syariah, pemerintah, dan UMKM. Bank sentral meluncurkan Islamic Financial Market Code of Conduct, indeks Zakat Core Principles 2.0, dan program beasiswa internasional untuk memperkuat pasar keuangan syariah, tata kelola zakat, serta pengembangan SDM. Di level daerah, BI Riau menegaskan sinergi berkelanjutan dengan KDEKS, pemerintah daerah, perbankan, dan pihak lain untuk penguatan industri halal, pemberdayaan pesantren, dan perluasan akses ekonomi syariah. "Penguatan ekonomi dan keuangan syariah di Riau terus diperkuat melalui penguatan ekosistem industri halal, pemberdayaan kemandirian ekonomi pesantren, hingga optimalisasi keuangan sosial syariah secara inklusif," ujar Kepala Perwakilan BI Riau Panji Achmad. Ke depan, BI Lampung juga berkomitmen melanjutkan sinergi serupa. Kesimpulannya tegas: tanpa koneksi langsung antara keuangan syariah dan UMKM lokal, mimpi menjadi pusat ekonomi syariah dunia akan berhenti sebagai slogan. Dengan ISEF sebagai panggung, saatnya UMKM berhenti sekadar hadir dan mulai menuntut akses pembiayaan, pendampingan ekspor, dan jejaring global yang nyata.






