Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Takut Menulis Jadi Percaya Diri di Smandel

Dari Takut Menulis Jadi Percaya Diri di Smandel
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Coaching Menulis Siswa: Saat Ketakutan Gen Z Diubah Jadi Keberanian

Coaching menulis siswa adalah program pendampingan terstruktur yang mengajarkan teknik menulis langkah demi langkah, memberi umpan balik berulang, dan membangun komunitas belajar agar pelajar, termasuk generasi Z, berani mengekspresikan ide secara tertulis dengan jelas, runtut, dan percaya diri dalam berbagai bentuk tulisan, dari narasi media sosial hingga esai akademik. Di SMAN 8 Jakarta, lebih dari 300 siswa kelas XI mengikuti sesi pertama Coaching Writing Skill bertema “Mahir Literasi, Jadi Gen Z Jago Nulis”, sebuah angka yang menunjukkan betapa besar kebutuhan mereka akan bimbingan sistematis untuk kemampuan menulis SMA. Program ini bukan sekadar acara ekstrakurikuler, melainkan sinyal bahwa sekolah menyadari menulis tidak bisa dibiarkan menjadi bakat alamiah; ia perlu dilatih secara sadar dan kolektif agar literasi Gen Z tidak berhenti pada konsumsi konten, tetapi naik kelas menjadi produksi gagasan.

Dari Takut Menulis Jadi Percaya Diri di Smandel

Mengapa Pelatihan Menulis Terstruktur Jadi Kebutuhan Mendesak

Pemicunya jelas: seleksi perguruan tinggi kini mewajibkan esai, terutama bagi mereka yang melirik kampus luar negeri. Tanpa kemampuan menulis yang kuat, siswa berprestasi akan tersandung di tahap yang tampak sederhana—menyusun cerita tentang diri dan gagasannya. Di sini pelatihan menulis terstruktur menjadi pembeda. Kepala sekolah menegaskan tujuan praktisnya: keterampilan menulis yang langsung berguna ketika menghadapi tes masuk perguruan tinggi, baik di dalam maupun di luar negeri. Orang tua, lewat komunitas Fokus28, membaca keresahan yang sama dan memilih bertindak, bukan mengeluh. Mereka mengundang dua dosen Institut Media Digital Emtek, Suradi dan Frisca, untuk memandu siswa menyulap ide riset menjadi well-structured report yang bisa dibaca dan memberi dampak bagi orang lain. Ini bukan kursus kilat, tetapi upaya sadar membangun literasi Gen Z dengan standar akademik yang jelas.

Dari Takut Menulis Jadi Percaya Diri di Smandel

Kolaborasi Sekolah–Orang Tua: Ekosistem Literasi Berprestasi

Yang menarik dari inisiatif di Smandel adalah cara ekosistem dibangun: sekolah tidak bekerja sendirian, dan orang tua tidak sekadar menuntut. Persatuan orang tua Fokus28 menggagas pelatihan, komite sekolah mendukung, kepala sekolah membuka acara, guru hadir, dan ratusan siswa serta orang tua ikut menyimak. Ini bentuk konkret ekosistem literasi berprestasi: ada visi bersama, ada sumber daya, ada ruang berkarya. Ketua Fokus28 menekankan bahwa ide sehebat apa pun akan mandek jika tidak mampu dituliskan secara runtut dan tepat. Sementara Koordinator Tim Akademik 28, Ikma Hartanti, menegaskan bahwa kemampuan menulis sudah selayaknya menjadi fondasi bagi siswa untuk menjabarkan ide dan temuan penelitian dalam tulisan yang bagus. Kolaborasi seperti ini mengirim pesan keras: literasi Gen Z bukan tanggung jawab kurikulum semata, tetapi proyek sosial yang menuntut keterlibatan keluarga.

Dari Takut Menulis Jadi Percaya Diri di Smandel

Teknik Terukur, Praktik Berkelanjutan: Cara Nyata Menaikkan Percaya Diri

Pelatihan menulis terstruktur di Smandel tidak berhenti pada ceramah motivasi. Pada pertemuan pertama dari tiga rangkaian sesi, fasilitator memetakan minat dan kemampuan menulis siswa kelas XI, sekaligus menggali ide dari lingkungan terdekat: sekolah, rumah, hingga dinamika pertemanan, untuk karya fiksi maupun nonfiksi. Mereka mengingatkan bahwa sebelum menulis, siswa perlu memperkaya pengetahuan lewat membaca, diskusi, dan mengamati sekitar, bahkan tingkah polah teman dan guru. Di akhir sesi, setiap peserta ditantang menulis satu paragraf tentang acara itu, latihan sederhana namun terukur yang mengubah teori menjadi praktik. Pendekatan ini yang pelan-pelan menumbuhkan percaya diri: siswa belajar bahwa tulisan tidak lahir dari ilham dadakan, melainkan dari proses, dan proses bisa diulang. Dengan ritme tiga pertemuan, coaching menulis siswa diarahkan menjadi kebiasaan, bukan sekadar pengalaman sesaat.

Dari Takut Menulis Jadi Percaya Diri di Smandel

Ketika Gen Z Sudah Berkarya, Sekolah Wajib Mengimbangi

Fakta paling tajam dari sesi ini: sejumlah siswa kelas XI sudah menghasilkan karya, dari cerpen dan esai hingga buku yang diterbitkan resmi. Nama-nama seperti Ajeng, Gael, Fahad, dan teman-temannya menunjukkan bahwa kemampuan menulis SMA bukan mimpi jauh; sebagian Gen Z sudah sampai di sana. Salah satu contoh, buku nonfiksi Innovation in Motions: From Ideas to Impact karya Ajeng Salma Layla Amira, telah terbit dengan hak cipta resmi dari DJKI Kementerian Hukum RI (No. 001282505 tertanggal 13 Juni 2026) dan diklasifikasikan dalam kode DDC 608 (Inventions and Patents) pada sistem Dewey Decimal Classification Edisi 23. Prestasi seperti ini seharusnya memicu sekolah untuk menyediakan lebih banyak ruang publikasi, misalnya melalui situs yang memuat liputan dan tulisan siswa, sebagaimana harapan kepala sekolah. Kesimpulannya tegas: ketika Gen Z sudah mulai melompat, ekosistem literasi harus ikut menyiapkan landasan yang kokoh, bukan dibiarkan berjalan sendiri.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!