Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Takut Menulis ke Mahir Literasi di Sekolah Menengah

Dari Takut Menulis ke Mahir Literasi di Sekolah Menengah
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Coaching menulis siswa: dari ketakutan ke kecakapan

Program coaching menulis siswa di sekolah menengah adalah rangkaian pelatihan literasi terstruktur yang mengajarkan teknik menulis runtut, jelas, dan sistematis, agar Gen Z yang akrab dengan media digital tetapi sering kesulitan menyusun gagasan di atas kertas dapat mengubah rasa takut menulis menjadi kepercayaan diri menghasilkan teks naratif, esai, dan karya ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik maupun bermanfaat bagi publik.

Kasus SMAN 8 Jakarta menunjukkan bahwa menulis tidak lagi bisa diperlakukan sebagai pelajaran sampingan. Lebih dari 300 siswa kelas XI mengikuti pelatihan Coaching Writing Skill bertema “Mahir Literasi, Jadi Gen Z Jago Nulis” selama sekitar dua jam sebagai sesi perdana. Ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi langkah strategis program literasi sekolah untuk mengatasi rendahnya kemampuan menulis Gen Z yang sering lebih fasih menggulir layar gawai dibanding mengembangkan argumen di kertas. Ketika esai menjadi syarat masuk perguruan tinggi dan reputasi akademik banyak ditentukan tulisan, sekolah yang masih mengabaikan pelatihan literasi terstruktur sesungguhnya sedang meninggalkan siswanya sendirian di medan kompetisi.

Dari Takut Menulis ke Mahir Literasi di Sekolah Menengah

Desain pelatihan literasi terstruktur: dari ide ke laporan rapi

Program Coaching Writing Skill di SMAN 8 dirancang sebagai pelatihan literasi terstruktur, bukan sekadar motivasi singkat. Sesi pertama dari tiga rangkaian pertemuan difokuskan memetakan minat dan kemampuan menulis siswa kelas XI, termasuk mereka yang sudah menerbitkan puisi, cerpen, hingga buku. Dua dosen dari Institut Media Digital Emtek, Suradi dan Frisca, membekali siswa dengan keterampilan menulis akademik dan mengarahkan mereka menggali ide dari lingkungan terdekat: sekolah, rumah, hingga pertemanan. Pendekatan ini menghubungkan keseharian Gen Z dengan disiplin penulisan ilmiah, sehingga menulis tidak terasa asing.

Kunci pelatihan ini ada pada penekanan bahwa ide bagus tidak berhenti di kepala. Panitia menegaskan harapan agar research ideas berkembang menjadi well-structured report yang dapat dibaca, dipahami, dan memberi manfaat nyata bagi orang lain. Dalam praktiknya, ini berarti siswa belajar menyusun kerangka, mengurutkan argumen, dan mengemas data menjadi teks yang runut. Ketika fasilitator berdialog langsung dengan ratusan siswa, menanggapi pertanyaan tentang cara memulai cerpen, menulis berita TV, hingga menulis esai, pelatihan menulis terstruktur ini bergerak dari teori ke problem nyata di kelas. Inilah bentuk coaching menulis siswa yang layak disebut serius.

Dari Takut Menulis ke Mahir Literasi di Sekolah Menengah

Kolaborasi sekolah–orang tua: membangun ekosistem literasi, bukan acara tahunan

Yang membedakan program literasi sekolah ini dari pelatihan musiman adalah ekosistemnya. Penggagas Coaching Writing Skill bukan hanya pihak sekolah, tetapi persatuan orang tua siswa bernama Fokus28. Acara dibuka kepala sekolah, dihadiri guru, komite sekolah, pengurus Fokus28, murid kelas XI, dan para orang tua. Artinya, peningkatan literasi siswa ditempatkan sebagai tanggung jawab bersama, bukan proyek satu unit kurikulum. Di era ketika esai menjadi syarat masuk banyak perguruan tinggi, termasuk di luar negeri, kepala sekolah menegaskan bahwa keterampilan menulis akan membantu siswa menghadapi tes lanjutan studi.

Ketua Fokus28 menyoroti kenyataan pahit: di era digital, ide sebesar apa pun tidak akan berdampak jika tidak disampaikan melalui tulisan yang runtut, jelas, dan tepat. Dengan kata lain, orang tua menuntut sekolah tidak berhenti pada slogan “gemar membaca dan menulis”, tetapi menyediakan pelatihan nyata. Kolaborasi seperti ini mendorong lahirnya target jangka panjang, misalnya keinginan sekolah memiliki website berisi liputan dan tulisan siswa sebagai ruang publikasi dan pembuktian kualitas literasi mereka. Ekosistem ini mengirim pesan kuat ke siswa: menulis adalah budaya bersama, bukan tugas individu yang bisa diabaikan.

Dari Takut Menulis ke Mahir Literasi di Sekolah Menengah

Dampak langsung bagi kemampuan menulis Gen Z

Pelatihan ini sudah menunjukkan dampak konkret pada kemampuan menulis Gen Z. Dalam sesi awal, beberapa siswa mengaku telah menulis cerpen, esai, laporan riset lomba, bahkan buku; nama-nama seperti Gael, Fahad, Ajeng, dan lainnya diangkat sebagai contoh bahwa teman sebaya mereka mampu berkarya. Salah satu bukti menonjol datang dari Ajeng Salma Layla Amira dengan buku nonfiksi Innovation in Motions: From Ideas to Impact yang terbit pada Februari 2026. Kisah nyata seperti ini jauh lebih meyakinkan daripada slogan: mereka menunjukkan bahwa peningkatan literasi siswa adalah sesuatu yang terukur, bukan harapan abstrak.

Dampak lain yang tidak kalah penting adalah perubahan cara siswa memandang menulis. Pertanyaan yang muncul bukan lagi “mengapa harus menulis?”, melainkan “bagaimana memulai menulis?”, “bagaimana membuat cerpen yang baik?”, hingga pertanyaan teknis tentang format berita untuk TV. Pergeseran jenis pertanyaan ini menandakan loncatan dari rasa takut ke rasa ingin tahu. Ketika siswa memahami bahwa kemampuan menulis akan menentukan akses mereka ke perguruan tinggi, baik di dalam maupun di luar negeri, menulis berubah dari beban tugas menjadi investasi masa depan. Di titik inilah coaching menulis siswa mulai bekerja sebagai alat mobilitas sosial, bukan sekadar tugas Bahasa Indonesia.

Dari Takut Menulis ke Mahir Literasi di Sekolah Menengah

Dari pelatihan ke budaya: PR besar sekolah lain

Pelatihan di SMAN 8 baru pertemuan pertama dari tiga sesi yang direncanakan, sehingga belum bisa disebut tuntas. Namun, arah perubahannya sudah jelas: menulis diposisikan sebagai kompetensi inti, bukan pelengkap. Sekolah lain seharusnya membaca ini sebagai alarm. Ketika sebagian siswa sudah diminta menulis esai sebagai syarat masuk universitas, sekolah yang belum memiliki program literasi sekolah yang terstruktur sedang menunda masalah yang akan menghantam lulusannya sendiri.

Pelajaran terpenting dari pengalaman ini adalah bahwa peningkatan literasi siswa membutuhkan tiga hal: pelatihan literasi terstruktur yang berkelanjutan, kolaborasi kuat antara sekolah dan komunitas orang tua, serta ruang publikasi nyata bagi karya siswa. Coaching menulis yang mengajak siswa berdialog dan memetakan kemampuan mereka membuka jalan bagi perubahan cara pandang terhadap menulis, tetapi langkah berikutnya adalah menghidupkan budaya menulis di seluruh aktivitas sekolah. Jika menulis dibiarkan tetap menjadi “hantu” di kepala siswa, maka yang gagal bukan generasi Gen Z, melainkan orang dewasa yang enggan merancang ekosistem belajar yang memadai.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!