Angka Besar, tetapi Belum Seluruhnya Menjadi Penjualan
Ekspor UMKM Balikpapan adalah proses membawa produk usaha mikro, kecil, dan menengah dari Balikpapan ke pasar luar negeri melalui kesiapan produksi, mutu, legalitas, dan hubungan dagang yang dibangun secara bertahap.
Pada pertengahan Oktober 2026, UMKM binaan dan mitra Bank Indonesia Balikpapan meraih potensi transaksi Rp9,10 miliar melalui pameran ISEF dan TEI 2026. Capaian itu tercatat dalam 14 surat minat pembelian dan tiga pesanan pembelian senilai Rp2,75 juta. Namun, angka utama tersebut tidak boleh dibaca seolah-olah seluruhnya sudah menjadi ekspor terealisasi. Surat minat pembelian menunjukkan ketertarikan awal, sedangkan pesanan dan penjualan langsung merupakan tahap berbeda dalam proses bisnis.
Di luar potensi transaksi tersebut, penjualan langsung di lokasi pameran mencapai Rp94,04 juta. Pembedaan antara minat, pesanan, dan penjualan penting agar capaian ini dinilai secara jernih. Meski begitu, ekspor UMKM Balikpapan memperoleh modal awal yang bernilai: kontak dagang nyata, umpan balik pasar, dan peluang untuk membuktikan bahwa produk lokal Kaltim dapat bersaing di luar negeri.
Libya Menjadi Tujuan Potensial Terbesar
Trade Expo Indonesia 2026 menjadi penyumbang potensi terbesar, dengan 12 surat minat pembelian bernilai sekitar Rp8,36 miliar. Dari nilai tersebut, Libya menyumbang sekitar Rp6,68 miliar atau 79,9 persen. Vietnam, Tiongkok, Australia, dan Korea Selatan juga tercatat sebagai pasar potensial. Besarnya porsi Libya membuat transaksi ekspor Libya menjadi sorotan, tetapi konsentrasi ini juga menunjukkan pentingnya memperluas sebaran pembeli agar peluang tidak bertumpu pada satu pasar.
Tujuh UMKM binaan dan mitra BI Balikpapan mengikuti TEI, termasuk Bonles Food, Koperasi Kriya Inovasi Mandara, Mantau Fya, Salakilo, Amplang Ikan Asik, Gunaco, dan Fixty. Bonles Food mencatat potensi surat minat pembelian terbesar di antara peserta, sementara Koperasi Kriya Inovasi Mandara memperoleh empat surat minat. Di ISEF, produk fesyen HHarum dan Rumah Ampiek tampil dalam peragaan busana, sedangkan Bungas Wedang Dayak memperoleh peluang dari pembeli Belanda dan Australia. Ragam produk ini memperlihatkan bahwa daya tarik ekspor Kaltim tidak terbatas pada satu jenis usaha.
Nilai penting pameran bukan hanya ruang pajang. Pertemuan langsung membantu UMKM memahami kebutuhan calon pembeli, sekaligus memberi mereka kesempatan menguji kecocokan produk dan penawaran.

Pembinaan Harus Berlanjut Setelah Pameran
Pencapaian ini menegaskan bahwa pembinaan Bank Indonesia dapat membuka pintu pasar yang lebih luas ketika dukungan membawa pelaku usaha bertemu langsung dengan calon pembeli global. Namun, kehadiran di pameran saja tidak cukup. Minat harus ditindaklanjuti dengan sampel, harga yang sesuai,






