Gangguan Kognitif Anak: Masalah Tersembunyi di Balik Nilai Rapor
Gangguan kognitif anak adalah kondisi ketika kemampuan sehari-hari untuk memusatkan perhatian, mengingat informasi, mengolah pelajaran, dan berinteraksi sosial terganggu sehingga menghambat proses belajar dan partisipasi penuh anak di lingkungan sekolah maupun rumah.
Studi berbasis pengabdian masyarakat yang dirilis oleh Indonesia Health Development Center (IHDC) terhadap 1.007 siswa kelas 4–6 di empat SD negeri di Jakarta menemukan bahwa 68,5 persen responden memiliki fungsi kognitif harian yang kurang baik. Angka ini berarti hampir 7 dari 10 siswa SD di kota besar sedang berjuang dengan kesulitan yang tidak selalu tampak di nilai rapor. Lebih mengkhawatirkan lagi, 49,3 persen siswa juga memiliki skor harapan masa depan yang rendah. Ini bukan sekadar data; ini alarm keras bahwa kesulitan belajar siswa SD jauh lebih kompleks dari sekadar “tidak rajin” atau “kurang belajar di rumah”.
Fungsi kognitif harian yang terganggu menyentuh inti pengalaman sekolah: kemampuan memusatkan perhatian, mengingat informasi, dan mengolah materi pelajaran di kelas. Ketika hampir dua pertiga siswa berada di kategori kurang baik, kita sedang menyaksikan krisis senyap yang berpotensi menggerus kualitas generasi yang diharapkan menyongsong Indonesia Emas 2045. Pertanyaannya bukan lagi “apakah ini masalah?”, tetapi “mengapa kita baru menanggapinya sekarang?”.

Di Balik Angka 68,5%: Kesehatan dan Gizi sebagai Akar Masalah
Temuan IHDC menampar asumsi lama bahwa gangguan kognitif anak terutama soal bakat atau kecerdasan bawaan. Studi ini menunjukkan fungsi kognitif anak Jakarta sangat dipengaruhi faktor kesehatan dan gizi anak, bukan semata kemampuan intelektual bawaan. Tim peneliti mengidentifikasi empat beban utama yang menghambat performa kognitif: gangguan penglihatan, defisiensi zat besi, kurangnya asupan protein dan energi, serta gangguan kesehatan jiwa.
Sebanyak 303 siswa, sekitar 30 persen, mengalami gangguan refraksi yang membutuhkan koreksi penglihatan dengan kacamata. Anak dengan risiko gangguan penglihatan sedang hingga tinggi memiliki peluang 3,1 kali lebih besar mengalami fungsi kognitif harian yang kurang baik dibanding kelompok risiko rendah. Di sisi lain, risiko ansietas tinggi berkorelasi dengan peningkatan odds gangguan kognitif harian sebesar 3,3 kali, dan risiko depresi tinggi sebesar 2,5 kali.
Di sinilah letak masalahnya: kita sering menuntut anak fokus, menghafal, dan berprestasi, tetapi menutup mata pada mata yang buram, perut yang kurang gizi, dan pikiran yang cemas. Pemeriksaan IHDC mencakup tajam penglihatan, asupan gizi, serta skrining kesehatan jiwa dan perilaku. Hasilnya jelas: gangguan kognitif anak bukan sekadar isu akademik, melainkan cermin langsung dari kesehatan dan gizi anak yang diabaikan terlalu lama.
Dampak Nyata di Kelas: Dari Konsentrasi hingga Harapan Masa Depan
Fungsi kognitif harian tidak diukur dari nilai rapor atau skor IQ semata, tetapi dari kemampuan anak memusatkan perhatian, mengingat informasi, mengolah materi pelajaran, berinteraksi dengan teman sebaya, dan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Ketika fungsi ini terganggu, kesulitan belajar siswa SD muncul dalam bentuk yang sering disalahpahami: dianggap malas, tidak patuh, atau “nakal” di kelas.
Menurut tim peneliti, anak yang sulit fokus perlu diperiksa, bukan buru-buru dicap malas. Kesulitan melihat materi pelajaran atau kecemasan yang tidak tertangani dapat berkaitan langsung dengan kesulitan belajar sehari-hari. Artinya, gangguan kognitif anak memukul tiga aspek sekaligus: konsentrasi, memori, dan performa akademik. Anak yang tidak bisa membaca tulisan di papan tulis atau merasa cemas berlebihan akan kesulitan menyerap pelajaran, tertinggal dari teman, dan akhirnya kehilangan kepercayaan diri.
Lebih jauh, 49,3 persen siswa memiliki skor harapan dan imajinasi masa depan yang rendah. Daya imajinasi masa depan adalah modal penting untuk membentuk karakter inovatif menyongsong Indonesia Emas 2045. Jika setengah anak sudah pesimis sejak SD, maka target besar pembangunan SDM unggul yang diserukan Prof. Nila F. Moeloek menjadi rapuh sejak fondasi.
Tanggung Jawab Bersama: Sekolah, Keluarga, dan Sistem Kesehatan
Prof. Nila F. Moeloek menegaskan bahwa cita-cita pembangunan SDM unggul tidak bisa dilepaskan dari kondisi fisik dan mental anak saat belajar. Pernyataan ini seharusnya dibaca sebagai kritik halus terhadap sistem pendidikan yang masih memisahkan urusan nilai dengan urusan kesehatan. Indonesia Emas 2045, kata beliau, dimulai dari anak-anak yang duduk di bangku sekolah hari ini dan dari kemampuan mereka untuk melihat dengan jelas, belajar dengan tenang, serta yakin pada masa depan.
IHDC mendorong sinergi lintas sektor, terutama kesehatan dan pendidikan, agar hambatan belajar dapat terdeteksi dan ditangani sejak dini. Rekomendasi konkret yang diajukan antara lain skrining penglihatan berkala di sekolah, layanan pemeriksaan refraksi terintegrasi, pemberian kacamata gratis atau terjangkau, serta pemantauan penggunaannya. Selain itu, dibutuhkan jalur pendampingan kesehatan jiwa melalui akses konseling dan sistem rujukan bagi siswa dengan indikasi kecemasan atau masalah psikologis, serta pembangunan lingkungan belajar inklusif yang aman dan bebas perundungan.
Namun sekolah tidak bisa bekerja sendiri. Orang tua perlu berhenti melihat gangguan kognitif anak sebagai “kemalasan” dan mulai melihatnya sebagai sinyal gangguan kesehatan dan gizi anak. Fungsi kognitif anak Jakarta yang terganggu adalah cermin dari rumah, sekolah, dan layanan kesehatan yang belum terhubung. Tanpa kolaborasi erat keluarga dan institusi pendidikan untuk mengidentifikasi dan mengatasi masalah kognitif sejak dini, data 68,5 persen ini hanya akan menjadi angka yang diulang di seminar, bukan diubah di ruang kelas.






