Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Strategi Praktis Tetap Lancar Menyusui Setelah Kembali Bekerja

Strategi Praktis Tetap Lancar Menyusui Setelah Kembali Bekerja
Minat|Pengetahuan Parenting

Menyusui Sambil Bekerja Bukan Mimpi, Tapi Butuh Strategi

Menyusui sambil bekerja adalah upaya sadar ibu untuk tetap memberi ASI langsung atau perah kepada bayinya, sambil menjalankan tanggung jawab profesional, melalui pengaturan jadwal yang terencana, koordinasi dengan pengasuh, serta pengelolaan emosi ketika harus berpisah sementara dengan anak. Di balik foto-foto manis ibu bekerja, ada air mata di perjalanan, deg-degan meninggalkan bayi, sekaligus tekad kuat mempertahankan kedekatan lewat ASI. Pengalaman Shenina Cinnamon saat pertama kali kembali bekerja setelah melahirkan menggambarkan dengan jelas betapa campur aduknya perasaan seorang ibu ketika karier dan kebutuhan bayi bertemu di persimpangan yang sama. Menurut saya, menyusui sambil bekerja bukan soal jadi ibu sempurna, melainkan soal berani merancang hidup yang tetap memprioritaskan bayi, tanpa menghapus identitas diri.

Shenina secara jujur menulis bahwa momen pertama kembali bekerja membuatnya "rasanya campur aduk banget, degdegan ninggalin anak walaupun cuma sebentar". Kalimat ini mewakili banyak ibu yang merasa bersalah saat kembali ke kantor, padahal di saat yang sama ada kebutuhan finansial, panggilan profesi, atau sekadar keinginan untuk tetap berkarya. Warganet pun mengamini, ada yang mengaku menangis sepanjang perjalanan pertama berangkat kerja setelah melahirkan. Dari sini tampak jelas: solusi menyusui sambil bekerja bukan sekadar punya pompa ASI, tapi berani mengakui perasaan dan menjadikannya bahan menyusun strategi. Tanpa keberanian mengakui rasa khawatir dan berat hati, semua tips teknis akan terasa kaku dan sulit diterapkan dalam rutinitas nyata.

Kunci Utama: Jadwal Menyusui dan Pumping yang Realistis

Banyak ibu sibuk mengejar ASI eksklusif ibu bekerja, tapi lupa bahwa kuncinya ada pada jadwal yang realistis, bukan sempurna. Shenina memberi contoh sederhana namun efektif: sebelum berangkat kerja, ia selalu menyempatkan diri menyusui putranya secara langsung. Ini membuat bayi memulai hari dengan kenyang dan dekat dengan ibunya. Ia menulis, "Sempet dbf sebelum event" sebagai strategi awal yang ternyata sangat membantu. Menurut saya, pola seperti ini lebih sehat daripada memaksa diri pumping dalam jadwal yang tidak mungkin diikuti. Ibu bekerja butuh ritme yang mengikuti pola kerja dan tidur bayi, bukan jadwal ideal di atas kertas.

Salah satu trik penting adalah memilih waktu berangkat ketika bayi sudah tertidur, sehingga perpindahan dari pelukan ibu ke pengasuh terasa lebih halus. Shenina berangkat kerja setelah menyusui dan menunggu putranya tidur terlebih dahulu, baru kemudian meninggalkannya. Ini bentuk manajemen ASI kerja yang peka terhadap ritme bayi: direct breastfeeding (DBF) sebelum berangkat, lalu pumping atau menyusui lagi setelah pulang. Bagi ibu yang harus pumping ASI di kantor, pola ini bisa dimodifikasi: DBF pagi, pumping di jam istirahat yang konsisten, dan DBF lagi malam hari. Intinya, jadwal harus mengikuti kondisi fisik ibu dan bayi, bukan tekanan sosial bahwa ASI harus sempurna tanpa celah.

Peran Pasangan dan Keluarga: Pengasuh Bukan Sekadar Penjaga

Menyusui sambil bekerja sering digambarkan seolah perjuangan solo seorang ibu. Padahal, keberhasilannya sangat bergantung pada kualitas dukungan di rumah. Dalam kasus Shenina, peran suami begitu sentral: saat ia bekerja, putra mereka Segara ditemani oleh sang papa Angga Yunanda. Bukan sekadar menemani, selama Shenina berada di venue, Segara tidur pulas di sisi papanya. Menurut saya, ini lebih dari bantuan teknis; ini adalah bentuk kehadiran emosional yang membuat bayi tetap merasa aman meskipun ibunya tidak di ruangan yang sama. Babysitter atau anggota keluarga yang menjaga bayi di jam ibu bekerja perlu dipandang sebagai mitra penyambung ASI, bukan hanya penjaga jadwal minum susu.

Dukungan keluarga juga mengurangi rasa was-was yang banyak diceritakan warganet ketika meninggalkan anak, "padahal ada bapaknya yang jagain". Namun dukungan ini tidak terjadi otomatis, harus dinegosiasikan: jelaskan jadwal menyusui dan pumping, minta pengasuh mencatat jam tidur dan minum bayi, dan pastikan mereka tahu pentingnya menjaga stok ASI. Pola DBF sebelum dan sesudah kerja akan jauh lebih stabil jika pengasuh tidak memberi susu tambahan berlebihan di tengah hari. Di sini babysitter atau keluarga memegang peran strategis dalam menjaga kontinuitas ASI: mereka menjadi penjaga ritme, penyampai informasi ke ibu, dan penyangga emosi ketika ibu di kantor ingin memastikan bayinya baik-baik saja meski terpisah fisik.

Menghadapi Badai Emosi dan Lelah Fisik Saat Kembali Bekerja

Tidak ada strategi manajemen ASI kerja yang akan bertahan lama jika aspek emosional ibu diabaikan. Shenina mengakui perasaannya campur aduk karena harus meninggalkan bayinya, di satu sisi ada tanggung jawab pekerjaan, di sisi lain muncul rasa khawatir dan berat hati. Pengakuan ini penting, karena banyak ibu merasa gagal hanya karena menangis di perjalanan menuju kantor, padahal warganet lain mengaku mengalami hal yang sama, bahkan menyebutnya "nangis bombay" sepanjang jalan. Menurut saya, langkah pertama mengatasi badai emosi adalah berhenti menghakimi diri. Rasa kangen dan bersalah justru menunjukkan seberapa kuat ikatan ibu dan anak, bukan tanda bahwa ibu tidak profesional.

Secara fisik, kembali bekerja setelah melahirkan berarti tubuh yang masih beradaptasi dipaksa mengikuti ritme baru. Strategi cerdas yang dilakukan Shenina adalah meminimalkan jarak antara lokasi kerja dan tempat bayi berada; ia memilih kamar yang lokasinya dekat dengan venue kegiatan, sehingga setelah acara selesai ia bisa "lari sampe kamar" dan langsung menyusui putranya. Menurut saya, ini bentuk kompromi sehat: bukannya memaksa diri kuat terpisah seharian, ia mengubah logistik agar tubuh dan emosi lebih sanggup. Ibu lain bisa meniru pola ini dengan memilih daycare dekat kantor atau meminta keluarga mengantar bayi di jam tertentu. Dibanding menuntut diri tahan rindu, lebih bijak mengatur lingkungan agar memudahkan momen tatap muka dan DBF.

Menjaga Kelancaran ASI: Fokus ke Konsistensi, Bukan Kesempurnaan

Produksi ASI bukan mesin pabrik yang selalu stabil; ia sangat dipengaruhi stres, lelah, pola makan, dan kualitas tidur. Karena itu, menjaga ASI eksklusif ibu bekerja seharusnya berangkat dari prinsip konsistensi, bukan perfeksionisme. Pola yang dilakukan Shenina menunjukkan konsistensi: DBF sebelum berangkat, berangkat saat bayi tidur, lalu kembali secepat mungkin untuk menyusui lagi setelah acara selesai. Ia menceritakan, ketika ia sampai di kamar, Segara bangun dan langsung DBF. Pola terhubung seperti ini membantu tubuh ibu memahami ritme baru dan tetap memproduksi ASI sejalan dengan kebutuhan bayi. Menurut saya, konsistensi jadwal lebih berpengaruh daripada jumlah sesi pumping yang dipaksakan tanpa cukup istirahat.

Ada satu pelajaran penting dari cerita ini: ibu tidak harus menghapus semua kegiatan di luar rumah demi ASI, tetapi perlu merancang ulang rutinitas agar ASI tetap mengalir dan bayi tetap merasa dekat. Merayakan satu bulan kelahiran Segara dengan dekorasi sederhana dan kue bertuliskan "1 Month" menunjukkan bahwa keluarga ini menjaga momen penuh makna sekaligus beradaptasi dengan ritme baru setelah kelahiran. Bagi saya, kesimpulannya jelas: keberhasilan menyusui sambil bekerja bukan soal seberapa sering ibu memompa di kantor, melainkan seberapa berani ia merancang hidup yang mendukung DBF dan kualitas kedekatan dengan bayi. Pilih jadwal yang realistis, libatkan pasangan dan keluarga, akui emosi, dan terima bahwa ASI yang lancar lahir dari sistem dukungan yang hangat, bukan dari tekanan untuk menjadi supermom.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!