KuybeliKuybeli

Pasar Ponsel Global Turun 6%, Samsung dan Apple Naik Kelas

Pasar Ponsel Global Turun 6%, Samsung dan Apple Naik Kelas
Minat|Memilih dan Membeli Ponsel

Ketika Pasar Lesu, Dua Pemain Premium Malah Tancap Gas

Pasar smartphone global adalah keseluruhan permintaan dan penawaran ponsel pintar di seluruh dunia, yang diukur terutama dari volume pengiriman dan penjualan berbagai merek di semua segmen harga, mulai dari entry-level hingga flagship, dan mencerminkan kesehatan industri teknologi mobile secara umum.

Pada kuartal II, pengiriman smartphone global turun sekitar 6% menjadi 272 juta unit karena lonjakan biaya komponen dan krisis pasokan memori yang berkepanjangan. Secara sederhana: komponen memori lebih mahal, produsen ponsel murah paling menderita, konsumen menahan belanja, dan pasar menyusut. Namun di tengah pasar smartphone global yang melemah, Samsung dan Apple justru memperbesar pangsa pasarnya. Ini bukan kebetulan, melainkan konsekuensi dari pilihan strategi: saat merek lain terpukul di segmen terjangkau, keduanya menggandakan fokus pada positioning premium, pengendalian harga, dan rantai pasok yang lebih solid. Di saat mayoritas mengejar volume di bawah, mereka memilih mempertahankan nilai di atas.

Pasar Ponsel Global Turun 6%, Samsung dan Apple Naik Kelas

Krisis Memori Ponsel: Menghukum Murah, Menghadiahi Premium

Penurunan pasar kali ini punya biang keladi yang jelas: krisis memori ponsel. Lonjakan harga komponen memori menekan biaya produksi, terutama bagi produsen yang bermain di kelas menengah dan entry-level. Merek yang hidup dari volume ponsel terjangkau seperti Xiaomi dan Oppo, langsung merasakan hantaman permintaan yang melemah dan ruang margin yang menyempit. Menurut laporan Omdia, Xiaomi turun 26% dan Oppo merosot 17% secara tahunan, menunjukkan betapa rapuhnya model bisnis yang bergantung pada harga murah ketika biaya bahan baku naik. Tidak mengherankan jika Omdia memperkirakan smartphone kelas bawah akan mengalami kenaikan harga paling tajam dalam beberapa bulan mendatang seiring biaya produksi dan gangguan rantai pasok global. Artinya, keunggulan utama ponsel murah—harga—perlahan terkikis, sementara nilai merek dan ekosistem semakin penting.

Samsung: Tetap Nomor Satu Meski Laba Tergerus

Di tengah pasar yang menyusut, Samsung mempertahankan posisi sebagai vendor terbesar dengan pengiriman 60,5 juta unit dan pangsa 22%, naik dari 20% setahun sebelumnya. Volume pengiriman tumbuh 5% secara tahunan—sebuah ironi di tengah penurunan pasar smartphone global. Namun pertumbuhan ini tidak datang tanpa biaya: divisi perangkat seluler Samsung mengalami kerugian kuartalan pertama akibat meningkatnya biaya produksi yang menggerus laba operasional. Di atas kertas, hasil ini terlihat paradoks: unit terjual naik, tapi laba turun. Namun inilah konsekuensi strategi mempertahankan volume dan posisi di puncak, sambil menahan kenaikan harga agresif demi menjaga daya tarik perangkat flagship dan mid–high mereka. Yang menyelamatkan laporan keuangan Samsung adalah bisnis semikonduktor, memori dan media penyimpanan yang menikmati lonjakan permintaan dari industri kecerdasan artifisial.

Apple: Menang dengan Strategi Harga Flagship dan Loyalitas

Jika Samsung bermain di banyak segmen, Apple memilih satu kartu: premium, konsisten, dan percaya diri dengan strategi harga flagship. Pengiriman iPhone melonjak 23% menjadi 55,1 juta unit, mendorong pangsa pasar naik dari 16% ke 20% dan menjadi pertumbuhan tertinggi di antara lima besar vendor. Omdia menilai keberhasilan ini ditopang permintaan kuat terhadap seri iPhone 17 dan kemampuan Apple mempertahankan harga saat produsen lain mulai menaikkan harga jual mereka. Di tengah krisis memori ponsel, Apple tidak menjual “murah”, melainkan menjual alasan rasional untuk tetap membeli mahal: ekosistem, pembaruan perangkat lunak, dan pengalaman yang konsisten. Kutipan yang paling menggambarkan momen ini: "Menurut Omdia, kesuksesan Apple didorong oleh tingginya permintaan terhadap seri iPhone 17 serta kemampuan perusahaan mempertahankan harga produknya."

Pelajaran: Premiumisasi, Bukan Perang Harga, yang Menentukan

Polanya jelas: ketika biaya komponen naik, perang harga di bawah menjadi bunuh diri, sementara positioning premium memberi ruang bernafas. Mayoritas brand Android asal China mengalami penurunan dua digit, menandakan pergeseran permintaan ke segmen yang lebih premium. Krisis memori ponsel mengungkap siapa yang sekadar menjual spesifikasi murah, dan siapa yang menjual nilai yang bisa dipertahankan. Omdia menyimpulkan produsen yang mampu menjaga stabilitas harga, memperkuat rantai pasok, dan kreatif dalam pemasaran berpeluang lebih besar bertahan dan tumbuh hingga akhir tahun. Tren pelemahan pasar sendiri sudah berlangsung sejak akhir tahun sebelumnya dan diperkirakan berlanjut sampai penghujung tahun ini. Artinya, kemenangan Samsung dan Apple bukan momen sesaat, tetapi indikasi arah baru: pasar smartphone global sedang memasuki era premiumisasi, dan pemain yang tidak berani naik kelas akan tertinggal.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!