Ponsel Lipat 2026: Dari Niche ke Arus Utama
Ponsel lipat 2026 adalah kategori smartphone dengan layar fleksibel yang dapat dilipat, menggabungkan bentuk ponsel tradisional dengan pengalaman layar lebar layaknya tablet, yang kini berkembang dari produk eksperimental menjadi segmen premium dengan pertumbuhan pengiriman dan persaingan merek yang kian ketat.
Garis besarnya sederhana: pasar smartphone lipat bukan lagi eksperimen mahal untuk penggemar teknologi, tetapi arena strategis yang akan menentukan arah inovasi smartphone beberapa tahun ke depan. Pengiriman smartphone lipat tumbuh 21 persen dibandingkan tahun lalu, bahkan ketika industri masih bergulat dengan krisis chip memori global. Ini memberi sinyal kuat bahwa konsumen mulai melihat nilai nyata dari layar lipat, terutama untuk produktivitas dan hiburan. Dalam konteks pasar yang matang dan jenuh, pertumbuhan seperti ini adalah alarm bagi semua merek: bertahan di layar datar saja sudah tidak cukup.

Samsung Masih Raja, Tapi Tahtanya Mulai Diketuk
Samsung diproyeksikan tetap menjadi raja HP lipat, menguasai 32 persen pangsa pasar global tahun ini. Posisi ini bukan kebetulan; perusahaan telah menginvestasikan beberapa generasi produk, mulai dari lini Galaxy Z Flip hingga Z Fold, dan kini memperkuat portofolio dengan Galaxy Z Flip8, Galaxy Z Fold8, dan Galaxy Z Fold8 Ultra. Di kategori yang masih berkembang, efek pengalaman jangka panjang seperti ini sangat menentukan. Konsumen yang sudah pernah memakai generasi awal cenderung bertahan di ekosistem yang sama ketika melakukan upgrade.
Salah satu senjata utama Samsung adalah Galaxy Z Fold8, yang mengadopsi desain bergaya buku dengan bodi lebih lebar dibanding pendahulunya. Pendekatan ini membuat layar luar terasa lebih natural digunakan seperti smartphone biasa, sementara layar utama yang lebar memberi ruang lebih lega untuk multitasking, menonton konten, dan menggunakan fitur berbasis AI. Di era ketika AI dipakai untuk meringkas dokumen, mengedit konten, dan mengelola jadwal, desain layar lebar bukan sekadar estetika, tetapi keunggulan fungsional yang memperkuat posisi Samsung di pasar smartphone lipat.

Masuknya Apple: iPhone Ultra Mengubah Peta Persaingan
Ketika pasar mulai stabil dengan satu pemimpin, kehadiran penantang besar selalu mengubah permainan. Apple dikabarkan akan masuk ke segmen foldable lewat iPhone Ultra yang diluncurkan tahun ini, dan diperkirakan langsung merebut 25 persen pangsa pasar global pada 2026. Dengan angka itu, Apple otomatis menempati posisi kedua, menempel ketat Samsung dan menggeser banyak pemain lain ke belakang. Untuk kategori yang masih muda, lonjakan pangsa pasar sebesar ini akan mengubah persepsi konsumen terhadap ponsel lipat secara menyeluruh.
Associate Director Counterpoint Research, Liz Lee, menyatakan bahwa masuknya iPhone lipat akan meningkatkan perhatian konsumen terhadap kategori foldable sekaligus menaikkan standar smartphone lipat premium. Quotable ini penting: standar baru berarti perangkat lipat tidak lagi boleh terasa kompromi dibanding flagship layar datar. Namun, Liz Lee juga menekankan bahwa "Samsung masih memiliki keunggulan yang jelas dalam kematangan produk, jangkauan kanal, dan pengalaman pengguna perangkat lipat". Artinya, kehadiran Apple tidak otomatis menggulingkan Samsung, tetapi akan mendorong duel jangka panjang antara dua ekosistem besar—Samsung dan iPhone Ultra—yang akan mendefinisikan segmen ini.
Dinamika Pasar: Huawei, Motorola, dan Perebutan Sisa Kue
Di luar sorotan duel Samsung dan iPhone Ultra, pasar smartphone lipat punya peta persaingan yang lebih berwarna. Setelah dua pemain teratas, Huawei diproyeksikan menempati posisi ketiga dengan pangsa 24 persen, terutama berkat dominasinya di pasar domestik untuk kategori ini. Motorola menyusul dengan 8 persen pangsa global, sementara Honor memegang sekitar 3 persen. Sisanya adalah arena free-for-all bagi berbagai merek lain yang mencoba peruntungan di ponsel lipat 2026. Bagi mereka, celah kompetisi bukan lagi sekadar teknologi engsel atau ketahanan layar, tetapi kemampuan menawarkan nilai unik yang tidak diberikan pemimpin pasar.
Struktur pangsa pasar ini menunjukkan konsentrasi yang cukup tinggi: tiga besar menguasai mayoritas pasar, dengan Samsung 32 persen, Apple 25 persen, dan Huawei 24 persen. Dalam situasi seperti ini, pemain menengah harus memilih strategi: menjadi spesialis segmen tertentu atau menjadi alternatif harga dan fitur yang rasional. Di sisi lain, konsumen diuntungkan oleh meningkatnya pilihan form factor—dari ponsel lipat bergaya buku hingga model clamshell—serta kompetisi fitur AI yang semakin agresif. Pasar smartphone lipat sedang bergerak menuju fase di mana diferensiasi pengalaman pengguna menjadi kunci, bukan sekadar siapa paling duluan melipat layar.
Pertumbuhan di Tengah Krisis Chip: Sinyal Permintaan yang Tidak Bisa Diabaikan
Hal yang paling menarik dari pertumbuhan foldable phone saat ini adalah konteksnya: di tengah tekanan krisis chip memori secara global, pengiriman smartphone lipat justru tumbuh di semester pertama 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ini bukan sekadar data statistik; ini bukti bahwa permintaan konsumen untuk teknologi layar lipat cukup kuat untuk menembus hambatan supply chain. Counterpoint mencatat pertumbuhan global sebesar 21 persen, didorong permintaan terhadap smartphone lipat kelas premium bergaya buku, persaingan antar pabrikan yang memanas, dan masuknya Apple lewat iPhone Ultra.
Secara opini, angka ini harus dibaca sebagai sinyal bahwa ponsel lipat tidak lagi bisa dianggap sebagai produk sampingan dalam roadmap merek smartphone. Ketika konsumen berani membeli perangkat yang mengandalkan teknologi baru di tengah situasi pasokan yang tidak pasti, itu berarti mereka melihat manfaat yang jelas: produktivitas lebih baik, pengalaman hiburan lebih imersif, dan integrasi AI yang lebih masuk akal berkat layar lebar. Bagi industri, pesan utamanya adalah sederhana: siapa pun yang terlambat masuk ke pasar smartphone lipat akan tertinggal dua langkah—bukan hanya dalam teknologi layar, tetapi dalam membangun ekosistem aplikasi dan pengalaman pengguna.




