Kecakapan digital harus melampaui kemampuan memakai teknologi
Literasi digital siswa adalah kemampuan menggunakan teknologi untuk mencari, menilai, membuat, dan menyebarkan informasi secara cakap serta bertanggung jawab. Di tengah arus konten yang cepat, keterampilan ini tak cukup dibangun dengan mengajarkan cara memakai aplikasi; siswa juga perlu tahu dampak unggahan dan cara memeriksa informasi.
Dua kegiatan di sekolah kejuruan menunjukkan dua jalur praktis untuk mencapai tujuan itu. Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas PGRI Palembang (UPGRIP) mengadakan pengabdian kepada masyarakat bertema “Etika Digital dalam Media Sosial Bisnis” di SMKS Sentosa Bhakti Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu, untuk membekali siswa menghadapi kebutuhan dunia kerja dan usaha. Sementara itu, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Dwijendra menggelar pelatihan jurnalistik di SMK Negeri 2 Kuta Selatan pada Senin, 26 Oktober 2026.
Keduanya penting karena media sosial kini bukan hanya ruang pergaulan. Ia dapat menjadi etalase bisnis sekaligus saluran publikasi. Namun, akses mudah tanpa pertimbangan etis berisiko membuat promosi menyesatkan atau informasi keliru tersebar. Bekal digital yang baik harus mengajarkan siswa bukan hanya cara tampil, tetapi juga tanggung jawab atas apa yang mereka bagikan.
UPGRIP menekankan etika bermedia sosial untuk dunia kerja
Program UPGRIP berangkat dari kebutuhan yang dekat dengan masa depan siswa SMK: menggunakan media sosial secara profesional untuk membangun merek, menjangkau konsumen, dan memasarkan produk maupun jasa. Karena itu, etika bermedia sosial di sini bukan sekadar tata krama daring, melainkan bagian dari kompetensi kerja dan kewirausahaan.
Siswa diajak memahami bahwa kreativitas promosi harus berjalan bersama kejujuran dan tanggung jawab. Mereka diharapkan mampu memanfaatkan media sosial untuk kepentingan bisnis secara profesional serta menghindari promosi yang menyesatkan. Fokus ini tepat: keterampilan membuat konten dapat menarik perhatian, tetapi kepercayaan pelanggan bergantung pada informasi yang jujur dan perilaku yang beretika.
Kegiatan tersebut dilaksanakan tim dosen Program Studi Bisnis Digital FEB UPGRIP yang diketuai Muhammad Najib, bersama enam anggota dosen dan dua mahasiswa pendamping. Erdiansyah berharap siswa tumbuh menjadi generasi yang cakap digital, kreatif, dan bertanggung jawab, sekaligus siap menghadapi dunia kerja serta kewirausahaan. Harapan itu akan lebih bermakna jika prinsip etika diterapkan berulang dalam tugas promosi, simulasi bisnis, dan kebiasaan bermedia sehari-hari.

Dwijendra mengajarkan siswa menulis berita kreatif berbasis fakta
Berbeda dari program UPGRIP, pelatihan jurnalistik Universitas Dwijendra berpusat pada produksi informasi. Mengusung tema “Dari Pena ke Layar: Transformasi Jurnalistik Sekolah melalui Literasi Digital dan Produksi Konten Kreatif”, kegiatan ini mengajarkan siswa menemukan ide berita, mengumpulkan fakta, memilih narasumber, dan menyusun informasi secara sistematis.
Materinya mencakup nilai berita, unsur 5W+1H, teknik wawancara, serta pengembangan tulisan menjadi konten digital. Dengan latihan itu, menulis berita kreatif tidak berarti mengutamakan sensasi; kreativitas harus membantu pembaca memahami fakta dengan menarik dan jelas. Ketelitian membedakan fakta, opini, dan informasi yang belum terverifikasi juga menjadi bagian penting dari kerja jurnalistik.
Siswa didorong beralih dari sekadar pengguna media sosial menjadi pembuat informasi yang edukatif dan bermanfaat bagi masyarakat. Keterampilan ini melatih komunikasi, berpikir kritis, kerja sama, dan kepekaan terhadap peristiwa sekitar—bekal yang berguna di sekolah maupun saat memasuki dunia kerja. Pemeriksaan kebenaran, penghormatan terhadap privasi narasumber, dan penggunaan data secara cermat harus tetap menjadi batas yang tak boleh dikorbankan demi konten yang menarik.

Dua fokus, satu tanggung jawab
Perbedaan kedua program justru membuatnya saling melengkapi. UPGRIP mengarahkan siswa agar bertanggung jawab saat menggunakan media sosial untuk promosi dan pengembangan bisnis. Universitas Dwijendra melatih mereka menghasilkan berita dan konten kreatif dengan proses yang teratur, akurat, dan beretika. Yang satu menekankan perilaku sebagai pengguna sekaligus calon pelaku usaha; yang lain mengasah kemampuan sebagai pencari dan penyampai informasi.
Dampaknya tidak semestinya berhenti setelah sesi pelatihan. Siswa perlu mendapat ruang untuk menerapkan prinsip tersebut melalui kegiatan sekolah: merancang promosi yang jujur, mewawancarai narasumber, memeriksa fakta, dan menyunting konten sebelum dipublikasikan. Universitas Dwijendra berharap kerja sama dapat berlanjut melalui pendampingan atau kegiatan pendidikan lain, sementara UPGRIP berharap siswa siap menghadapi tantangan kerja dan kewirausahaan digital.
Kesimpulannya, pendidikan digital yang berguna bukan hanya mengajarkan siswa membuat unggahan atau tulisan yang menarik. Ia harus membentuk kebiasaan untuk bertindak jujur, memeriksa informasi, menghormati orang lain, dan mempertanggungjawabkan konten. Dengan menggabungkan etika bermedia sosial dan keterampilan jurnalistik, sekolah dapat menyiapkan lulusan yang bukan hanya mahir menggunakan media, tetapi juga layak dipercaya.






