Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

BUMDes dan BUMPes: Mesin Baru Penggerak Ekonomi Lokal

BUMDes dan BUMPes: Mesin Baru Penggerak Ekonomi Lokal
Minat|Asia Tenggara

Dari Lembaga Sosial ke Korporasi Desa: Inti Transformasi

Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan Badan Usaha Milik Pesantren (BUMPes) adalah model lembaga ekonomi lokal yang mengelola berbagai unit usaha secara profesional untuk meningkatkan omzet usaha desa, menciptakan lapangan kerja, menyerap produk warga, dan mengalirkan kembali keuntungan ke layanan sosial sehingga menjadi instrumen nyata BUMDes pemberdayaan ekonomi dan BUMPes pesantren usaha di tingkat akar rumput. Di balik lembaga yang terdengar administratif ini, sedang berlangsung pergeseran penting: desa dan pesantren tidak lagi diposisikan sebagai penerima bantuan, melainkan sebagai pelaku utama ekonomi. Pendampingan tahunan, kemitraan dengan UMKM pengembangan lokal, dan keberanian masuk ke sektor jasa serta pengolahan menjadikan mereka mirip korporasi komunitas—dengan satu perbedaan krusial: orientasi keuntungan diarahkan untuk memperkaya warga, bukan segelintir pemegang saham.

BUMDes Payang Sejahtera: Omzet Melompat Karena Pendampingan Serius

Kasus BUMDes Payang Sejahtera menunjukkan bahwa kunci pertumbuhan bukan semata tambahan modal, melainkan pendampingan yang konsisten dan terukur. Dengan dukungan PT Multi Harapan Utama (MHU), BUMDes ini mencatat omzet kumulatif Rp115,11 miliar sepanjang 2019–2025, dengan loncatan omzet tahunan dari Rp4,67 miliar pada 2019 menjadi Rp27,67 miliar pada 2023. Sulit menyebut angka itu kebetulan ketika program pendampingan telah berjalan sejak 2017 dan mencakup penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas SDM, serta pengembangan peluang ekonomi sesuai potensi lokal. "Pendampingan terhadap BUMDes Payang Sejahtera telah dijalankan MHU sejak 2017" menjadi kutipan yang merangkum satu hal: ketika desa diajak mengelola usaha secara profesional, omzet usaha desa naik bukan pelan-pelan, tetapi melonjak tajam. Diversifikasi ke 14 unit usaha—dari jasa boga, transportasi, pengelolaan perkebunan, air bersih, perikanan hingga konstruksi—memperluas sumber pendapatan sekaligus membuka ruang keterlibatan 195 warga dalam kegiatan produktif.

BUMPes Harmoni Thohir Yasin: Pesantren Sebagai Sentral Ekonomi Warga

Jika BUMDes Payang Sejahtera mematahkan asumsi bahwa desa hanya penerima CSR, BUMPes Harmoni Thohir Yasin mematahkan anggapan bahwa pesantren hanya mengurus pendidikan dan kebutuhan internal. Unit usaha yang mereka jalankan menyerap produk masyarakat sekitar dan membuka ruang kerja bagi warga. Pola kemitraan di sektor pertanian dan perikanan menghadirkan siklus ekonomi yang sehat: pesantren menyiapkan bibit dan pakan bagi pemilik kolam, membeli gabah dari petani, mengolahnya menjadi beras, lalu menjual ulang kepada masyarakat. Hasilnya bukan angka kecil—sekitar 20 ton beras terjual tiap bulan dengan nilai Rp150 juta, sementara unit perikanan menghasilkan 3–5 kuintal ikan dengan omzet Rp50 juta per bulan. BUMPes ini mengelola 16 unit usaha yang merambah pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, perdagangan, jasa, laundry hingga pengolahan makanan. Dengan 30 warga, terutama ibu-ibu, terlibat di unit laundry, jelas bahwa BUMPes pesantren usaha telah bergeser menjadi pusat kerja lokal dan bukan sekadar tambahan aktivitas di lingkungan pondok.

Mentoring, Hilirisasi, dan UMKM: Mengapa Pendekatan Terpadu Penting

Ada pola berulang yang layak dicatat: ketika pendampingan dilakukan tahunan, kapasitas usaha naik dan akses pasar terbuka. Pendampingan untuk BUMDes Payang Sejahtera tidak berhenti pada permodalan, tetapi menyentuh tata kelola, kemampuan manusia, hingga pencarian peluang ekonomi yang relevan dengan potensi warga. Di sisi lain, BUMPes Harmoni Thohir Yasin mulai membangun hilirisasi, mengelola bahan baku sampai produk akhir, termasuk melalui unit Harmoni Rasa yang memproduksi roti dan makanan olahan serta pengolahan daging ayam menjadi nugget dan pentol. Pesantren juga memproduksi pentol dengan pesanan hingga 15 ribu biji, sekaligus mempraktikkan konsep sirkular melalui pemanfaatan sekam sebagai alas kandang dan pupuk kembali ke lahan pertanian. Ketika lembaga lokal menjalin kemitraan dengan tujuh UMKM pengembangan lokal, seperti yang dilakukan BUMDes Payang Sejahtera, mereka tidak sekadar memperluas jaringan bisnis, tetapi membangun ekosistem usaha di mana UMKM tidak berdiri sendiri, melainkan tertopang oleh lembaga desa dan pesantren.

Menuju 2027: Dari Lonjakan Omzet ke Kekayaan Komunitas

Transformasi ekonomi akar rumput baru bisa disebut berhasil jika keuntungan kembali ke warga dalam bentuk yang nyata. Di BUMPes Harmoni Thohir Yasin, sebagian Sisa Hasil Usaha dialokasikan untuk pembiayaan sekitar 200 anak penerima beasiswa, sekaligus menopang operasional dan pembangunan pesantren. Di BUMDes Payang Sejahtera, kontribusi terhadap Pendapatan Asli Desa mencapai Rp1,68 miliar dan CSR desa Rp589 juta, menjadikan BUMDes pemberdayaan ekonomi bukan jargon, tetapi sumber kas yang memperkuat layanan publik. Ke depan, target BUMPes untuk menjadikan hilirisasi skala besar pada 2027 agar semua kebutuhan pondok bisa dipenuhi sendiri adalah ambisi yang patut dibaca sebagai upaya meningkatkan kekayaan komunitas, bukan sekadar membesarkan usaha. Jika pola pendampingan berkelanjutan, hilirisasi, dan kemitraan UMKM terus diperluas di berbagai daerah, desa dan pesantren berpotensi menjadi poros ekonomi lokal—menggeser pusat pertumbuhan dari kota ke komunitas, satu unit usaha demi satu.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!