Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Membangun Karakter Anak di Era Digital: Pinter, Bener, Seger

Membangun Karakter Anak di Era Digital: Pinter, Bener, Seger
Minat|Pendidikan Orang Tua dan Anak

Pendidikan Karakter Anak Digital: Bukan Sekadar Batasi Layar

Pendidikan karakter anak digital adalah upaya sadar dan terencana untuk membentuk kecerdasan, moral, dan ketangguhan anak yang hidup dengan gawai dan internet sejak dini, melalui sinergi nilai agama, literasi digital, dan keterlibatan aktif keluarga, sekolah, serta komunitas dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Inti persoalan Gen Alpha era digital bukan pada layar, tetapi pada karakter yang memegang layar. Seminar parenting bertema “Mendidik Gen Alpha di Era Digital: Dari Screen Time Menjadi Meaningful Time” yang digelar sebuah sekolah Islam internasional di Pondok Gede menegaskan bahwa mengontrol screen time tidak cukup dengan melarang, tetapi mengubahnya menjadi waktu yang berkualitas, produktif, dan bernilai ibadah. Di sini tampak jelas: pendidikan karakter anak digital gagal bila hanya berfokus pada aturan teknis tanpa fondasi nilai. Orang tua yang sibuk mengatur aplikasi, namun lupa menanamkan akidah, akhlak, dan disiplin diri, sedang membangun rumah digital tanpa pondasi moral.

Tiga Pilar Pinter, Bener, Seger: Jawaban untuk Gen Alpha

Gagasan Ketua PCNU Pringsewu tentang tiga target utama mendidik anak di era digital—pinter, bener, dan seger—layak dijadikan kompas baru parenting era digital. Anak pinter berarti menguasai ilmu dan literasi digital; anak bener berarti kokoh akhlak dan pegangan agamanya; anak seger berarti bersemangat, kreatif, dan tangguh menghadapi tekanan zaman. Tanpa keseimbangan tiga pilar ini, pendidikan karakter anak digital akan pincang: pinter tanpa bener melahirkan generasi licik, bener tanpa seger melahirkan generasi rapuh, seger tanpa pinter melahirkan generasi berisik tapi kosong.

Dalam sebuah pengajian triwulan Muslimat NU di Pagelaran, ia menegaskan bahwa anak yang diharapkan bukan hanya pintar secara akademik, tetapi juga benar akhlaknya dan segar semangat serta daya juangnya. Ini kritik halus terhadap pola asuh yang mengejar ranking, kursus, dan prestasi, namun membiarkan anak kelelahan mental dan miskin empati. Pendidikan karakter anak digital harus berani menolak obsesi nilai rapor, dan kembali pada mandat Al-Qur’an agar tidak meninggalkan generasi yang lemah iman, akhlak, pengetahuan, dan mental.

Membangun Karakter Anak di Era Digital: Pinter, Bener, Seger

Aswaja Sejak Dini: Benteng Moral di Tengah Badai Konten

Jika algoritma media sosial membanjiri anak dengan konten tanpa filter, maka nilai-nilai Aswaja adalah filter batin yang harus ditanamkan sejak dini. Dalam sebuah festival Aswaja untuk PAUD yang diikuti sekitar 500 anak dan guru pendamping di Temanggung, ditegaskan bahwa pendidikan Ahlussunnah wal Jamaah sejak usia dini penting untuk membangun karakter anak di tengah derasnya perkembangan teknologi digital. Ini bukan soal menambah hafalan, tetapi membiasakan toleransi, keseimbangan, keadilan, dan cinta tanah air dalam aktivitas sehari-hari, seperti berbagi mainan atau bermain tanpa membeda-bedakan teman.

Pendekatan ini sejalan dengan pandangan seorang praktisi parenting Islam yang menekankan pendidikan akidah dan akhlak sebagai fondasi utama, merujuk pada nasihat Luqman Al-Hakim dalam Al-Qur’an tentang pentingnya tauhid dan adab sejak dini. Tanpa benteng ini, anak mudah menjadi generasi yang lemah: bukan hanya lemah ekonomi, tetapi lemah iman, akhlak, pengetahuan, dan kemampuan menghadapi persoalan kehidupan. Pendidikan karakter anak digital yang mengabaikan Aswaja hanya akan melahirkan anak yang fasih berselancar di dunia maya, namun gagap membedakan mana kebenaran, mana sensasi.

Parenting Era Digital: Dari Keteladanan ke Kolaborasi

Parenting era digital menuntut orang tua keluar dari pola “polisi gawai” menjadi “mentor kehidupan”. Praktisi parenting Islam yang diundang dalam seminar di sebuah sekolah internasional menegaskan bahwa Islam memberi panduan komprehensif untuk setiap era, termasuk era digital: menjaga keluarga dari bahaya konten negatif, kecanduan gawai, serta dampaknya pada kesehatan mental dan fisik anak, dan mengedepankan metode keteladanan atau uswah hasanah. Orang tua yang memarahi anak karena kecanduan gawai, tetapi sendiri tidak lepas dari layar, sedang mengirim pesan ganda yang merusak wibawa nasihat mereka.

Di sisi lain, seorang tokoh agama mengingatkan para ibu agar menjadi teladan dalam prinsip tabayun, memeriksa kebenaran berita sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Pesan ini relevan untuk literasi digital: anak belajar menyaring informasi dari kebiasaan orang tuanya. Tanpa keteladanan, semua seminar parenting hanya akan menjadi wacana. Karena itu, sekolah yang menggelar seminar serupa dan membuka peluang bagi sekolah Islam serta pesantren lain untuk mengundang narasumber sejenis menunjukkan bahwa parenting era digital membutuhkan ruang belajar bersama, bukan sekadar grup WhatsApp penuh broadcast.

Kolaborasi Sekolah, Keluarga, dan Komunitas Religius: Jalan ke Depan

Pendidikan karakter anak digital tidak akan berhasil jika dibiarkan menjadi urusan tunggal salah satu pihak. Keluarga adalah pendidik pertama; sekolah adalah laboratorium nilai; komunitas religius adalah penjaga arah. Dalam pengajian Muslimat NU, ditekankan bahwa orang tua tidak cukup memenuhi kebutuhan materi, tetapi harus membekali anak dengan pendidikan agama, ilmu pengetahuan, akhlak, dan keterampilan hidup, agar lahir generasi beriman, berilmu, berakhlak mulia, dan siap menghadapi masa depan.

Di Temanggung, kerja sama organisasi, pemerintah, pendidik, dan orang tua disebut sebagai faktor penting memperkuat lembaga pendidikan yang tumbuh dari partisipasi masyarakat. Sebagai anggota Komisi VIII, seorang legislator bahkan berkomitmen mendorong pemenuhan alat peraga edukasi bagi RA melalui program dan penganggaran kementerian terkait. Ini menunjukkan bahwa negara pun diundang masuk dalam ekosistem pendidikan karakter. Kesimpulannya, membentuk generasi pinter, bener, dan seger di era digital hanya mungkin jika sekolah, keluarga, komunitas religius, dan negara berjalan seiring. Tanpa kolaborasi, Gen Alpha akan dibesarkan oleh algoritma, bukan oleh nilai.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!