Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Guru Ngaji sebagai Pilar Pembentuk Karakter Anak di Era Digital

Guru Ngaji sebagai Pilar Pembentuk Karakter Anak di Era Digital
Minat|Pendidikan Orang Tua dan Anak

Guru ngaji pembentuk karakter di tengah gempuran teknologi digital

Guru ngaji pembentuk karakter adalah sosok pengajar agama yang tidak hanya mengajarkan bacaan Al-Qur’an, tetapi secara aktif membimbing akhlak, iman, dan perilaku anak agar mampu bertahan dan berperilaku sehat di tengah paparan luas teknologi digital, media sosial, dan beragam konten online yang kerap tidak sesuai dengan usia serta kebutuhan perkembangan mereka. Di era ketika gawai menjadi teman sehari-hari anak, menempatkan guru ngaji sebatas pengajar tajwid adalah keliru. Wakil Wali Kota Tangerang Selatan Pilar Saga Ichsan tegas menekankan bahwa guru ngaji adalah bagian dari proses pembentukan akhlak, iman, dan karakter anak, bukan pelengkap seremonial pengajian. Pendidikan akhlak anak di ruang-ruang majelis taklim dan TPQ menjadi fondasi moral yang menyeimbangkan arus informasi digital yang serba cepat, sering dangkal, dan kadang bertentangan dengan nilai keagamaan.

Mengapa insentif guru ngaji penting sebagai kebijakan publik

Ketika pemerintah daerah mulai memberikan insentif guru ngaji, yang diakui sebagai pengajar ilmu agama di tengah masyarakat, sesungguhnya mereka sedang mengirim pesan politik nilai: pendidikan akhlak anak adalah urusan serius, bukan kerja sukarela yang boleh didiamkan. Di Tangerang Selatan, pemberian insentif guru ngaji disebut sebagai bentuk dukungan terhadap keberlangsungan pendidikan keagamaan di tengah masyarakat, sekaligus upaya menjaga agar guru ngaji tidak ditinggalkan dan dianggap tidak lagi dibutuhkan. Pilar Saga Ichsan bahkan mengingatkan bahwa bila guru ngaji menghilang dari ruang sosial, nilai religius yang menopang karakter di era digital akan terkikis sedikit demi sedikit. Kutipan yang patut dicermati dari dirinya: “Kita harus terus berupaya agar insentif guru ngaji bisa lebih baik lagi… dengan dukungan DPRD dan kemampuan APBD, kesejahteraan para guru ngaji juga bisa terus meningkat.” Artinya, insentif bukan akhir, tetapi pintu menuju penguatan peran mereka.

Kolaborasi guru ngaji, sekolah, dan keluarga: karakter holistik, bukan parsial

Menyerahkan urusan karakter di era digital hanya pada guru ngaji sama bermasalahnya dengan menyerahkannya hanya pada sekolah atau orang tua. Pilar secara jelas menegaskan bahwa pembentukan karakter tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah; orang tua, lingkungan masyarakat, sekolah, dan guru ngaji memegang tanggung jawab bersama dalam mendampingi anak dari paparan konten negatif. Di ranah pendidikan formal, pengalaman di sebuah SMK menunjukkan pola yang sejalan: pembentukan karakter anak dimulai dari keteladanan guru dan kepala sekolah, ditopang pembiasaan spiritual seperti doa, sholat dhuha, Dzuhur, dan Ashar berjamaah. Plt Kepala SMKN 1 Kalinyamatan, Suswanto Djony Purnawan, menegaskan bahwa pendidikan karakter membutuhkan keterlibatan semua pihak; sekolah tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan keluarga dan lingkungan. Program parenting berkala yang mempertemukan siswa, orang tua, wali kelas, dan guru BK menjadi contoh konkret bagaimana komunikasi rutin dapat memantau perkembangan karakter secara menyeluruh dan tidak terputus antara rumah dan sekolah.

Tantangan guru ngaji menghadapi pengaruh negatif ruang digital

Tantangan khusus guru ngaji di masa kini bukan lagi hanya mengatasi rasa malas mengaji, melainkan berhadapan dengan algoritma media sosial yang menyajikan konten instan, hiburan tanpa batas, bahkan nilai yang berseberangan dengan ajaran agama. Anak-anak kini memiliki akses luas terhadap media sosial dan internet; tidak semua konten yang tersedia di ruang digital sesuai dengan usia maupun kebutuhan perkembangan mereka. Ketika seorang guru memotret banyak siswa yang mengabaikan sholat pada jam pulang sekolah, seperti diobservasi di SMKN 1 Kalinyamatan, kita melihat gejala yang sama: kewajiban spiritual kalah oleh distraksi lain. Guru ngaji harus memposisikan diri sebagai pendamping yang bukan hanya menghafal ayat, tetapi mampu mengaitkan nilai Al-Qur’an dengan problem konkret anak: kecanduan gawai, perilaku kasar di dunia maya, hingga pembentukan identitas yang dangkal. Peringatan Pilar, “Jangan sampai anak-anak kita terpapar hal-hal negatif… ini tantangan kita bersama, termasuk para guru ngaji,” menggarisbawahi betapa berat beban yang mereka pikul.

Apa yang harus dilakukan selanjutnya: memperkuat posisi guru ngaji dalam ekosistem pendidikan karakter

Jika guru ngaji diakui sebagai pilar pembentuk karakter di era digital, maka konsekuensinya jelas: mereka mesti resmi masuk dalam ekosistem pendidikan karakter bersama sekolah dan keluarga, bukan dibiarkan bekerja sendiri di pinggiran masjid atau musala. Pemerintah daerah sudah membuka ruang melalui insentif guru ngaji, dengan harapan dukungan ini terus ditingkatkan sejalan kemampuan anggaran dan dukungan legislatif. Di sisi lain, praktik seperti parenting berkala, pembiasaan sholat berjamaah, dan keteladanan guru di sekolah menunjukkan bahwa karakter kuat lahir dari pola yang konsisten, bukan dari satu pihak saja. Ke depan, hasil evaluasi berkala atas perkembangan siswa dapat menjadi bahan untuk menentukan langkah pengembangan dan perbaikan yang lebih terpadu, termasuk pelibatan guru ngaji dalam forum bersama orang tua dan sekolah. Kesimpulannya, tanpa sinergi yang nyata, pendidikan akhlak anak hanya akan menjadi slogan. Dengan sinergi, guru ngaji, sekolah, dan keluarga dapat membentuk generasi yang beriman, berakhlak, menguasai ilmu, dan siap menghadapi dunia kerja maupun kehidupan di ruang digital.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!