Dua jalur pencegahan, satu tantangan
Pencegahan stunting adalah upaya memastikan anak mendapat gizi, layanan kesehatan, dan pengasuhan yang mendukung pertumbuhan sejak masa kehamilan hingga awal kehidupan. Di Lombok Barat dan Pasaman Barat, pemerintah daerah merancang program dengan titik tekan berbeda, tetapi keduanya berangkat dari gagasan yang sama: keluarga perlu dijangkau dengan intervensi yang sesuai kebutuhan. Lombok Barat memadukan bantuan langsung bagi balita dengan pengelolaan data, sedangkan Pasaman Barat menyoroti pemenuhan gizi sepanjang 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) melalui kerja sama dengan Tanoto Foundation. Perbedaan ini penting karena program penurunan stunting tak cukup dinilai dari nama atau rancangan; ukuran akhirnya adalah jangkauan dan keberlanjutan layanan. Angka yang dilaporkan kedua kabupaten memberi konteks, tetapi belum membuktikan bahwa satu program tertentu telah menyebabkan penurunan.
Wakil Bupati Lombok Barat Nurul Adha menegaskan komitmen daerah itu dalam rapat koordinasi sinergi pencegahan dan percepatan penurunan stunting pada 2 November 2026. Sementara itu, Pasaman Barat terus memperkuat pencegahan melalui kolaborasi dengan Tanoto Foundation yang berfokus pada intervensi gizi selama 1.000 HPK.

Lombok Barat: bantuan gizi disertai pembenahan data
Lombok Barat mengandalkan dua strategi yang saling melengkapi: INSTING SUPER, atau Intervensi Stunting dengan Susu Pertumbuhan, dan SEHATI, Sistem Kesehatan Balita Stunting Terintegrasi. INSTING SUPER memberi susu pertumbuhan kepada balita sasaran untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi dan mendukung tumbuh kembang. Pemerintah daerah melaporkan evaluasi tiga bulan dengan rata-rata kenaikan berat badan penerima 912 gram, di atas standar 720 gram, serta kenaikan tinggi badan rata-rata 2,7018 sentimeter, melampaui standar 2,4 sentimeter. Hasil pengukuran ini memberi alasan untuk memantau intervensi, tetapi bukan bukti bahwa program itu sendiri telah menurunkan prevalensi stunting.
SEHATI dirancang sebagai dashboard yang menghimpun data penanganan dari berbagai perangkat daerah agar sasaran, evaluasi, dan keputusan lebih terarah. Ke depan, pemantauan dan evaluasi akan diarahkan melalui sistem tersebut supaya perangkat daerah memakai rujukan yang sama. Perpaduan bantuan pangan dengan koordinasi berbasis data merupakan kekuatan pendekatan Lombok Barat. Namun, manfaatnya bergantung pada ketepatan sasaran dan mutu tindak lanjut, bukan pada keberadaan aplikasi semata.
Menurut data e-PPGBM yang dikutip pemerintah daerah, prevalensi stunting Lombok Barat tercatat 8,93 persen pada September 2026, turun dari 9,37 persen pada 2025. Angka tersebut menunjukkan perubahan pada tingkat daerah, tetapi tidak cukup untuk mengisolasi pengaruh INSTING SUPER atau SEHATI.
Pasaman Barat: perhatian sejak kehamilan
Pasaman Barat menempatkan pemenuhan gizi sejak kehamilan sebagai pusat intervensi. Pada masa 1.000 HPK, perhatian mencakup asupan seimbang bagi ibu hamil, suplementasi zat besi sesuai anjuran tenaga kesehatan, serta pemeriksaan kehamilan rutin untuk mendukung kesehatan ibu dan mengurangi risiko bayi lahir dengan berat badan rendah. Setelah bayi lahir, pemerintah daerah menekankan ASI eksklusif selama enam bulan, kemudian MPASI seimbang yang kaya protein hewani sebagai bagian dari dukungan bagi gizi balita.
Cakupannya lebih luas daripada pemberian satu produk: aksi konvergensi mengintegrasikan program lintas perangkat daerah, termasuk layanan kesehatan, pemenuhan gizi, air minum aman, sanitasi layak, dan edukasi pengasuhan. Komunikasi Perubahan Sosial dan Perilaku juga ditujukan untuk mendorong kebiasaan sehat dan pemanfaatan layanan kesehatan secara rutin. Kolaborasi dengan Tanoto Foundation, yang disebut berlangsung sejak 2021, menambah unsur kemitraan; keberhasilannya tetap bergantung pada konsistensi layanan dan keterlibatan keluarga.
Data yang dikutip menunjukkan prevalensi balita stunting Pasaman Barat sebesar 26,6 persen menurut Survei Kesehatan Indonesia pada 2024, sementara e-PPGBM mencatat 10,5 persen pada 2026. Karena berasal dari sumber dan tahun berbeda, angka-angka ini perlu dibaca hati-hati dan tidak dapat dianggap sebagai bukti bahwa kolaborasi tertentu telah menyebabkan penurunan.
Pelajaran dari perbedaan pendekatan
Kedua daerah sama-sama memerlukan koordinasi lintas sektor dan layanan yang benar-benar sampai kepada keluarga. Lombok Barat membuat intervensi balita dan sistem pemantauan data sebagai poros program; Pasaman Barat membingkai intervensi lebih luas dari kehamilan, pemberian ASI dan MPASI, hingga sanitasi serta pengasuhan. Dengan demikian, Lombok Barat lebih menonjolkan integrasi penanganan dan pemantauan, sedangkan Pasaman Barat menekankan kesinambungan dukungan gizi serta perubahan perilaku.
Perbandingan ini sebaiknya tidak berubah menjadi perlombaan angka. Data e-PPGBM Lombok Barat dan Pasaman Barat menunjukkan kondisi yang dilaporkan masing-masing, tetapi perbedaan metode, waktu, dan konteks membatasi perbandingan langsung. Bukti yang tersedia juga belum menetapkan hubungan sebab-akibat antara program dan perubahan prevalensi. Penilaian yang lebih kuat membutuhkan pemantauan berkala atas jangkauan, mutu layanan, perkembangan anak, serta konsistensi data.
Kesimpulannya, kedua strategi menawarkan pelengkap yang berguna: intervensi gizi langsung dan data yang lebih terpadu di Lombok Barat, serta perhatian sepanjang 1.000 HPK dan kerja lintas sektor di Pasaman Barat. Tantangan berikutnya ialah menjaga komitmen pemerintah, tenaga kesehatan, mitra, dan masyarakat agar layanan berlanjut dan keluarga sasaran tidak terlewat. Keberhasilan pencegahan stunting perlu dibuktikan melalui hasil yang terukur dan dapat dibandingkan, bukan diasumsikan dari rancangan program atau satu perubahan angka.






