Duet Kompetisi Menyanyi yang Mengguncang Top 37
Duet kompetisi menyanyi Azzio dan Rama adalah penampilan bersama dua peserta muda berbakat yang membawakan lagu ‘Dahsyat’ di babak Top 37 D’Academy 8 pada 7 Agustus 2026, meraih tiga standing ovation yang langka dan mengantarkan keduanya langsung ke babak Top 31 setelah melalui latihan penuh tantangan serta tampil tanpa kehadiran coach utama mereka.
Kisah mereka layak dijadikan contoh bahwa keberanian dan kerja keras bisa mengalahkan keterbatasan. Di saat sebagian peserta lain masih berjuang menemukan karakter, duet ini datang dengan identitas panggung yang jelas: enerjik, kompak, dan komunikatif. Performa lagu Dahsyat mereka bukan sekadar tayangan hiburan, tetapi pernyataan: generasi baru dangdut siap mengambil alih sorotan, bahkan ketika situasinya tidak ideal.
Performa Lagu ‘Dahsyat’: Tiga Standing Ovation Tanpa Coach
Pada Jumat malam, 7 Agustus 2026, Azzio dan Rama naik panggung tanpa sosok penting: coach Melly Lee yang absen karena berduka atas wafatnya sang ayah pada 6 Agustus 2026 dini hari. Dalam kondisi emosional seperti ini, banyak peserta bisa goyah. Namun mereka memilih jalur sebaliknya: menjadikan panggung sebagai ruang penghormatan dan pembuktian.
Didampingi dua kakak kelas, Tasya Allesia dan Zahra Sima, mereka membawakan lagu Dahsyat dengan energi yang menular. Panel juri—Wika Salim, Lesti, dan Soimah—bangkit memberi tiga standing ovation, sebuah capaian yang jarang muncul di babak standing ovation Top 37. Untuk ukuran peserta muda berbakat yang “masih kecil dan imut”, penampilan ini dinilai luar biasa dan menunjukkan bahwa format duet kompetisi menyanyi bisa sekuat solo jika digarap serius.

Latihan Ketat, Offbeat, dan Transformasi Rama di Panggung
Kesuksesan ini tidak datang mulus. Dalam gladi resik, Rama disebut masih offbeat dan ketinggalan tempo. Koreografer Gege menyerahkan satu resep kunci: progres sekecil apa pun harus tampak di mata juri. Dengan kata lain, mereka tidak menuntut kesempurnaan instan, tetapi keberanian untuk membaik dari satu sesi ke sesi lain.
Hasilnya terlihat di panggung utama. Soimah menyoroti bagaimana Rama tampak luwes saat berjoget, jauh dari citra peserta yang baru saja berjuang mengejar tempo. Rama mengaku “seneng banget” diberi ruang untuk menari, membuktikan bahwa ia tidak hanya mengandalkan vokal. Perjalanan Rama yang sebelumnya sudah menembus babak Top 37 dan terus berkomitmen memperbaiki penampilan menunjukkan bahwa dukungan dan latihan disiplin bisa mengubah offbeat menjadi sorak penonton.
Azzio, Konsentrasi Baja dan Stabilitas Vokal
Jika Rama mencuri perhatian lewat transformasi di panggung, Azzio memikat lewat konsistensi. Soimah memberi pujian khusus pada kontrol nada, power, dan konsentrasi Azzio yang dinilai sangat stabil. Di tengah koreografi dan interaksi panggung, ia tidak kehilangan fokus, sesuatu yang sering menjadi jebakan bagi peserta muda.
Inilah titik di mana duet kompetisi menyanyi ini terasa seimbang: satu peserta tumbuh cepat dari sisi ritme dan kepercayaan diri, sementara yang lain mengokohkan fondasi teknis. Kombinasi ini yang membuat performa lagu Dahsyat terasa matang meski dibawakan oleh peserta muda berbakat. Ketika juri menyebut kualitas bagus bisa hancur tanpa konsentrasi, Azzio memberi contoh bahwa disiplin mental sama pentingnya dengan suara merdu.
Dari Top 37 ke D’Academy 8 Top 31: Makna Dukungan untuk Peserta Muda
Pada akhir sesi, diumumkan bahwa Rama dan Azzio sama-sama lolos ke Top 31 Dangdut Academy 8. Lolosnya duet ini bukan hanya kemenangan pribadi, tetapi sinyal bahwa ajang besar memberi ruang nyata bagi talenta muda. Rama sendiri sebelumnya mengaku didukung penggemar lewat DM, termasuk dari sesama warga daerah asalnya yang mengikuti setiap langkahnya.
Bagi Rama, semangat yang datang baik langsung maupun lewat media sosial membuatnya tidak merasa sendirian menghadapi babak-babak kompetisi. Di sisi lain, absennya coach Melly yang berasal dari Cianjur mengingatkan bahwa di balik gemerlap panggung ada duka dan pengorbanan. Kesimpulannya jelas: duet Azzio–Rama membuktikan bahwa kombinasi latihan, dukungan publik, dan keberanian tampil di situasi sulit bisa mengantar peserta muda berbakat bukan hanya bertahan, tetapi bersinar di D’Academy 8 Top 31.






