Dukungan psikososial bencana: dari konsep ke medan gempa
Dukungan psikososial bencana adalah serangkaian layanan yang memadukan intervensi kesehatan jiwa, pendampingan sosial, dan bantuan praktis untuk membantu penyintas mengelola stres akut, trauma pasca gempa, serta menata ulang kehidupan sehari-hari setelah kehilangan dan ketidakpastian jangka panjang. Pendekatan ini menempatkan pemulihan mental korban bencana sebagai kebutuhan setara dengan layanan medis darurat, bukan pelengkap yang datang belakangan. Respons universitas terhadap gempa di NTT menunjukkan betapa gagasan itu kini mulai diterjemahkan secara serius di lapangan. Tim respons universitas tidak datang hanya dengan obat dan logistik; mereka membawa psikiater, relawan psikososial, dan instrumen asesmen yang secara sistematis memetakan luka batin para penyintas. Ini penting, karena di wilayah terpukul bencana, rasa takut akan gempa susulan dan bayangan kehancuran rumah lebih sering menghantui malam hari daripada nyeri fisik yang sudah diobati. Posisi kampus dalam ekosistem penanggulangan bencana menjadi menarik: mereka tidak terikat siklus proyek jangka pendek, tetapi reputasi akademik dan moral mendorong komitmen jangka panjang. Itulah alasan mengapa dukungan psikososial bencana dari perguruan tinggi cenderung lebih terstruktur dan bersifat berlapis, dari fase tanggap darurat hingga pemulihan.
UNDIP: menggabungkan PFA di sekolah dengan layanan klinis di dusun
Tindakan Undip melalui D-DART layak dibaca sebagai contoh serius bagaimana kampus memaknai dukungan psikososial bencana sebagai mandat ilmiah sekaligus kemanusiaan. D-DART menerjunkan Tim 2 ke wilayah terdampak gempa di NTT dengan delapan personel gabungan tenaga kesehatan dan psikososial, yang dibagi bekerja di SMPN 1 Cibal dan Dusun Nobo. Pendampingan difokuskan pada dua kebutuhan utama: pemulihan kondisi psikologis dan pelayanan kesehatan masyarakat. Di SMPN 1 Cibal, layanan Psychological First Aid kepada siswa bukan sekadar sesi menenangkan; itu adalah intervensi terukur terhadap kecemasan yang "cukup mendalam" dan pikiran berulang tentang peristiwa gempa. Guru menghadapi beban ganda sebagai penyintas dan pengasuh emosi murid, sebuah situasi yang sering diabaikan dalam skema bantuan formal. Sementara di Dusun Nobo, 52 warga mendapat pemeriksaan kesehatan umum dan tindakan klinis sesuai kebutuhan, menunjukkan bahwa pemulihan mental korban bencana harus berjalan beriringan dengan perbaikan kondisi fisik. Model Undip menegaskan bahwa trauma pasca gempa tidak bisa ditangani hanya dengan sesi konseling sekali datang. Temuan di lapangan dicatat sebagai dasar kebutuhan pelayanan tahap berikutnya, sebuah sikap yang lebih mirip riset lapangan daripada misi singkat. Inilah nilai tambah perguruan tinggi: mereka tidak berhenti pada narasi heroik kedatangan tim, tetapi merencanakan tindak lanjut berbasis data.
UNAIR: skrining trauma dan teknik relaksasi sebagai jembatan kembali ke sekolah
Langkah kampus lain menunjukkan pola yang sejalan. Dua mahasiswa PPDS Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran dikirim sebagai relawan untuk membantu pemulihan trauma pascabencana di Manggarai Timur, dengan mandat jelas: melakukan skrining tingkat stres dan trauma pasca gempa, khususnya pada anak-anak yang terdampak dan belum kembali ke sekolah. Bahwa yang dikirim adalah calon psikiater, bukan sekadar relawan umum, menandakan keseriusan universitas memasukkan kesehatan jiwa sebagai bagian inti tim respons universitas. Skrining yang direncanakan tidak berhenti pada anak; orang dewasa hingga lansia juga masuk sasaran karena mereka rentan mengalami gangguan kesehatan mental pascabencana. Pendampingan dan layanan kesehatan mental akan diberikan di posko pengungsian utama dan lokasi yang belum terjangkau, dibekali edukasi teknik relaksasi dan grounding untuk mengelola kecemasan. Di sini terlihat pendekatan yang lebih modern: intervensi berbasis keterampilan yang bisa diulang sendiri oleh penyintas, bukan ketergantungan pada hadirnya relawan. Secara politik pengetahuan, kampus ini sedang mengirim pesan: pemulihan mental korban bencana bukan urusan "nanti setelah semua beres", tetapi syarat agar anak mampu kembali belajar dan orang dewasa bisa mengambil keputusan hidup ke depan. Ketika rektor melepas relawan dengan harapan misi berjalan tanpa hambatan, itu bukan seremoni; itu pengakuan bahwa tugas akademisi hari ini meluas hingga tenda pengungsian.

UB: screening gangguan stres pascatrauma dan penguatan nakes lokal
Tim Tanggap Bencana dari kampus lain menambah lapisan penting dalam peta dukungan psikososial bencana di Manggarai. Mereka menerjunkan personel gabungan medis dan psikososial selama tujuh hari, 28 Agustus hingga 3 September, menyusul gelombang awal tim tanggap darurat yang berangkat pada 21 Agustus. Fokus layanan adalah pendampingan kesehatan jiwa, penanganan kecemasan, dan gangguan stres pascatrauma bagi warga terdampak gempa. "Cemas ya, paling sering. Dan ada kecenderungan untuk mengalami gangguan stres pascatrauma," terang dr. Frilya Rachma Putri, konsultan kedokteran jiwa anak dan remaja. Tim melakukan penapisan masalah kesehatan jiwa pascabencana dengan instrumen terukur untuk melihat skor psikologis masyarakat dan menentukan siapa yang perlu intervensi lebih intensif. Pendampingan psikososial dirancang bukan hanya untuk mengatasi gejala kini, tetapi memitigasi agar gejala tidak berulang atau memburuk. Menariknya, tim juga melakukan kunjungan rumah kepada tiga ODGJ, mengevaluasi pengobatan, serta melatih tenaga kesehatan lokal agar mampu memantau efek samping dan tanda perburukan. Di sinilah model tim respons universitas tampil paling jelas sebagai pendekatan terstruktur terhadap krisis kesehatan jiwa di daerah terpencil: ada screening, intervensi berbasis skor, home visit untuk kasus berat, dan pelatihan nakes sebagai penghubung jangka panjang. Mereka bahkan menyiapkan koordinasi dengan psikiater setempat dan pelatihan daring sebagai tindak lanjut, memastikan bahwa setelah media berhenti meliput, sistem dukungan lokal tetap berfungsi.

Mengapa kampus harus menetap lebih lama di medan bencana
Jika disusun bersama, pola kerja Undip, Unair, dan UB membentuk argumen kuat bahwa perguruan tinggi tidak lagi cukup menjadi penonton yang menulis makalah tentang bencana. Mereka hadir di medan gempa dengan tim medis dan tim psikososial terkoordinasi, melakukan skrining, PFA, intervensi gangguan stres pascatrauma, dan pelatihan tenaga kesehatan. Ongoing presence mereka bukan kebetulan; temuan D-DART dicatat untuk kebutuhan pelayanan kesehatan tahap berikutnya, sementara tim lain menyiapkan monitoring, evaluasi, koordinasi dengan nakes lokal dan psikiater, serta pelatihan daring sebagai tindak lanjut. Pendekatan ini menantang cara lama yang memandang pemulihan mental korban bencana sebagai urusan "psikolog datang sebentar lalu pulang". Kampus justru memilih menetap lebih lama, membangun kapasitas lokal agar dukungan psikososial bencana dapat berlanjut tanpa bergantung pada kehadiran mereka. Ini sikap yang patut dituntut dari semua institusi pengetahuan: jika mereka dapat mengukur trauma pasca gempa dengan instrumen dan skor, maka mereka juga punya kewajiban moral memastikan skor itu menurun, bukan hanya terdokumentasi. Kesimpulannya jelas: tim respons universitas telah menunjukkan bahwa krisis kesehatan jiwa pascabencana bisa ditangani dengan model yang terencana, terukur, dan berjangka panjang. Tantangan berikutnya adalah memastikan negara memberi ruang dan dukungan politik bagi model ini untuk berkembang, sehingga setiap tenda pengungsian di daerah terpencil tak lagi menjadi ruang sunyi bagi orang yang cemas menghadapi malam.







