Kehadiran yang dimulai dengan mendengar
Komunikasi sosial dalam TMMD adalah pendekatan langsung untuk mengenali kehidupan, kebutuhan, dan aspirasi warga melalui percakapan akrab di lingkungan mereka. Di Desa Klitih, Kecamatan Plandaan, cara ini terasa nyata ketika anggota Satgas TMMD ke-130 Kodim 0814/Jombang mengunjungi peternak mentok pada Minggu (1/11/2026). Alih-alih membatasi kegiatan pada pekerjaan fisik, anggota Satgas menyempatkan diri berbincang di tempat usaha warga dan mendengarkan pengalaman mereka. Sikap ini penting: pembangunan lebih berarti ketika pelaksana memahami keadaan sehari-hari orang yang terdampak, bukan hanya melihat sasaran di atas kertas. Bagi TMMD Jombang, kunjungan semacam ini menjadikan warga bagian dari percakapan tentang kemajuan desa, sekaligus membuka ruang untuk menyampaikan kebutuhan tanpa suasana resmi yang membuat jarak.

Sumarno mendapat ruang untuk bercerita
Peternak mentok Sumarno menyambut hangat kedatangan anggota Satgas yang berbincang langsung dengannya di lokasi usaha. Ia menyebut selama ini ternak dikelola sendiri dan ada kendala terkait pakan, pemasaran, serta perawatan. Kunjungan itu memberinya kesempatan untuk menceritakan persoalan tersebut dengan tenang, tanpa rasa canggung. Bagi peternak kecil, perhatian seperti ini bukan pengganti solusi praktis, tetapi merupakan langkah awal yang layak: masalah harus lebih dulu didengar agar kebutuhan warga tidak luput dari perhatian. Sumarno juga berharap kedekatan tersebut berlanjut setelah program TMMD selesai, supaya usaha peternakannya dapat berkembang dan membantu kesejahteraan keluarga. Harapan itu mengingatkan bahwa hubungan baik tak cukup dibangun lewat satu kunjungan; nilainya bergantung pada kesediaan untuk terus menjaga komunikasi.

Dari peternakan hingga ruang kebersamaan desa
Kedekatan Satgas dengan warga Klitih juga tampak dalam kegiatan berbeda pada Kamis (29/10/2026). Dansatgas TMMD ke-130 Kodim 0814/Jombang Letkol Kav Dicky Prasojo dan Bupati Jombang Warsubi berkumpul serta berbaur dengan masyarakat. Pertemuan itu menjadi kesempatan mempererat silaturahmi, menjalin komunikasi, dan mendengarkan aspirasi di tengah pelaksanaan TMMD. Dua momen ini saling melengkapi: percakapan bersama warga memberi ruang untuk memahami kehidupan desa secara luas, sedangkan kunjungan ke peternak membawa perhatian langsung pada mata pencaharian tertentu. Keduanya menunjukkan bahwa pendekatan kemasyarakatan bukan pelengkap bagi pembangunan infrastruktur. Di wilayah Plandaan, hubungan yang terbuka dapat membantu TNI, pemerintah daerah, dan warga menjaga gotong royong serta memastikan suara masyarakat tidak tenggelam dalam agenda pembangunan.
Kedekatan perlu dijaga setelah kunjungan
Kunjungan kepada Sumarno memperlihatkan sisi penting TMMD: anggota Satgas hadir bukan hanya untuk menjalankan program, tetapi juga untuk mengetahui kondisi dan kebutuhan warga secara langsung. Namun, mendengar kendala pakan, pemasaran, dan perawatan baru akan berarti jika perhatian itu berlanjut menjadi dialog dan tindak lanjut yang sesuai. Karena itu, harapan Sumarno agar hubungan tetap terjaga patut menjadi ukuran keberhasilan pendekatan sosial. TMMD Jombang menunjukkan bahwa kedekatan dapat tumbuh dari obrolan sederhana di tempat usaha maupun kebersamaan dengan warga dan pemimpin daerah. Kesimpulannya, pembangunan desa akan lebih kuat ketika pekerjaan fisik berjalan berdampingan dengan komunikasi sosial yang tulus. Warga yang didengar bukan sekadar penerima program, melainkan mitra dalam membangun Klitih.






