Perbaikan rumah dimulai dari kebutuhan yang nyata
Rehabilitasi rumah tidak layak huni adalah upaya memperbaiki bagian-bagian penting tempat tinggal agar penghuninya memperoleh hunian yang lebih aman, nyaman, dan layak untuk menjalani kegiatan sehari-hari. Dalam program TMMD ke-130 Kodim 0209/Labuhanbatu, pekerjaan ini menyentuh rumah milik Suroto dan Edi Harahap di Desa Aek Batu, Kecamatan Torgamba, Labuhanbatu Selatan. Bagi keluarga yang tinggal di bangunan dengan bagian rapuh atau lapuk, perbaikan bukan urusan penampilan semata: kondisi rumah menentukan rasa aman dan ketenangan di dalam rumah. Karena itu, renovasi rumah warga ini patut dilihat sebagai kebutuhan dasar yang dijawab melalui kerja lapangan. Satgas TMMD menangani tahapan rehabilitasi, sementara warga ikut bergotong royong. Perpaduan tersebut membuat bantuan terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, bukan sekadar bangunan yang diperbaiki dari luar.
Tahapan kerja bergerak dari pembongkaran ke pemasangan
Di rumah Edi Harahap, bagian depan yang lapuk dibongkar secara bertahap, papan lama dilepas, lalu material yang tak terpakai dibersihkan. Pekerjaan dipimpin Serma Tusiman dan mencakup penyiapan bagian yang akan diperbaiki serta pemasangan kusen pintu dan jendela. Pada tahap lain, Satgas dan warga memasang dinding papan, mengubah bagian rumah yang rapuh menjadi bidang yang kembali tertata. Rangkaian ini menunjukkan bahwa rehabilitasi rumah TMMD bukan satu pekerjaan tunggal, melainkan proses yang harus disesuaikan dengan kondisi tiap bagian bangunan. Ketelitian saat membongkar dan memasang penting agar hasilnya berfungsi, bukan hanya tampak baru. Di rumah Suroto, pekerjaan berlanjut ke tahap akhir berupa pemasangan daun pintu serta pengecatan pintu dan jendela. Setiap tahapan membawa rumah lebih dekat pada hunian yang layak.

Gotong royong membuat perubahan terasa bersama
Peran warga dalam gotong royong renovasi menjadi bagian penting dari pekerjaan, bukan sekadar pelengkap kehadiran Satgas. Di rumah Edi, personel dan warga bahu-membahu menangani pembongkaran serta pemasangan dinding papan. Di rumah Suroto, para prajurit bekerja sama menyiapkan material, memasang pintu, dan mengecat bagian yang diperlukan. Kerja bersama ini menunjukkan bahwa pembangunan lebih berarti ketika masyarakat ikut terlibat dalam prosesnya. Hasilnya pun terlihat nyata: rumah Suroto yang sebelumnya memerlukan perbaikan kini tampil lebih rapi, dengan dinding dicat serta pintu dan jendela terpasang. Pintu yang berfungsi baik diharapkan mendukung keamanan, sedangkan kondisi rumah yang lebih tertata memberi penghuni ruang yang lebih nyaman. Bagi keluarga penerima, perubahan tersebut bukan hanya soal bangunan, tetapi juga harapan akan keseharian yang lebih tenang.

Manfaat perlu berlanjut setelah pekerjaan selesai
Program TMMD ke-130 menempatkan rehabilitasi rumah sebagai bagian dari upaya membantu kesejahteraan masyarakat pedesaan. Namun, ukuran keberhasilannya bukan sebatas selesainya pemasangan pintu atau dinding; rumah harus memberi manfaat nyata bagi keluarga yang menempatinya. Satgas berharap rehabilitasi rumah Suroto dapat diselesaikan dengan baik, sementara pekerjaan pada sasaran pembangunan lain di wilayah Kecamatan Torgamba juga berlanjut. Perhatian pada kualitas pengerjaan dan keterlibatan warga patut dipertahankan agar hasil pembangunan berfungsi dalam kehidupan sehari-hari. Kesimpulannya, gotong royong memberi nilai lebih pada renovasi rumah warga: Satgas menyediakan tenaga dan koordinasi, masyarakat turut menggerakkan pekerjaan, dan keluarga memperoleh hunian yang lebih layak. Perubahan fisik rumah menjadi penting, tetapi kebersamaan yang terbentuk adalah alasan kuat mengapa model kerja seperti ini perlu terus dijalankan.







