Perbandingan dapat memadamkan motivasi
Membandingkan anak adalah kebiasaan menilai kemampuan, perilaku, atau pencapaiannya berdasarkan saudara maupun teman sebaya, bukan dengan memahami perkembangan dan kebutuhan pribadinya yang berbeda pada setiap tahap pertumbuhan. Niat orang tua mungkin memberi dorongan, tetapi cara ini berisiko membuat anak merasa dirinya selalu kurang. Perhatian yang terus diarahkan pada keunggulan orang lain juga mengaburkan usaha dan kemajuan yang sudah ia capai.
Membandingkan anak: dampak yang perlu diperhatikan ialah meredupnya semangat belajar. Anak yang merasa usahanya tidak pernah cukup dapat berpikir, “Untuk apa mencoba?” Akibatnya, ia mungkin menjadi pasif dan hanya mengerjakan hal-hal yang diwajibkan, tanpa rasa ingin tahu atau dorongan untuk berkembang. Dampaknya dapat menjalar ke prestasi dan perkembangan dalam jangka panjang. Karena itu, kepercayaan diri anak lebih layak dibangun dengan melihat prosesnya sendiri, bukan menjadikan pencapaian saudara atau teman sebagai ukuran.
Ganti perbandingan dengan apresiasi yang spesifik
Pola asuh positif tidak berarti memuji semua hal tanpa alasan. Orang tua dapat menunjukkan apa yang sudah dilakukan anak dengan baik—misalnya ketekunannya berlatih, keberaniannya mencoba, atau kesediaannya membantu—agar ia mengenali kemampuan yang dimiliki. Apresiasi juga sebaiknya tidak hanya tertuju pada nilai akademik atau satu bakat. Setiap anak memiliki kelebihan yang berbeda, dan mengenalinya membantu anak menghargai dirinya secara lebih menyeluruh.
Psikolog Indra Kusumawati menyarankan orang tua membantu anak memahami kemampuannya, memberi contoh sikap yang mendukung, serta mendampinginya saat mengembangkan potensi tersebut. Dalam keseharian, itu berarti mendengarkan ketika anak bercerita tentang kesulitan, mengakui usahanya, lalu menawarkan bantuan tanpa mengambil alih. Sikap mendukung membuat anak lebih nyaman mencoba sesuatu, termasuk ketika ia belum langsung berhasil. Apresiasi yang jujur dan spesifik memberi anak alasan untuk terus belajar tanpa harus merasa sedang berlomba dengan orang lain.
Bangun percaya diri lewat kesempatan mencoba
Kepercayaan diri tumbuh saat anak mendapat kesempatan melakukan sesuatu dan melihat bahwa dirinya mampu belajar. Libatkan ia dalam kegiatan sehari-hari yang sesuai usianya, seperti merapikan barang pribadi atau membantu menata meja. Berikan arahan seperlunya, lalu beri ruang untuk mencoba. Tugas sederhana semacam ini dapat menjadi latihan kemandirian anak sejak dini sekaligus kesempatan bagi orang tua untuk menghargai usaha, bukan menuntut hasil sempurna.
Setelah itu, tawarkan tantangan baru sesuai kemampuan dan tahap perkembangan anak. Jika tugas terasa terlalu sulit, pecah menjadi langkah yang lebih kecil; jika ia siap, beri kesempatan untuk mencoba lebih banyak sendiri. Anak perlu ruang untuk mencoba hal baru sesuai kemampuannya, sementara pendampingan dan contoh dari orang tua membantunya merasa nyaman dalam proses tersebut. Ukur kemajuan dari hal yang sebelumnya belum bisa ia lakukan, bukan dari pencapaian orang lain. Kesimpulannya, hentikan kebiasaan membandingkan dan pilih pendampingan yang menghormati perjalanan tiap anak.






