Gelombang Baru: Selebriti Turun ke Jalan Dukung Pedagang Kaki Lima
Selebriti dukung pedagang kaki lima adalah fenomena ketika figur publik menggunakan popularitas, uang, dan jangkauan media sosial mereka untuk membeli dagangan, mempromosikan, serta menceritakan perjuangan pedagang street food dan UMKM kuliner Indonesia secara terbuka, sehingga dagangan laku, harga diri penjual terangkat, dan publik diingatkan bahwa ekonomi rakyat dimulai dari trotoar, gerobak, dan stan kecil sederhana.
Fenomena borong donat pinggir jalan oleh figur terkenal bukan sekadar konten manis untuk menghangatkan linimasa. Dalam beberapa kasus, aksi sosial selebriti ini berangkat dari memori pahit masa kecil yang belum kering. Di satu sisi, mereka kini punya privilese—uang, kamera, dan jutaan pengikut. Di sisi lain, ingatan tentang dagangan yang tidak laku, pulang dengan tangan hampa, dan dapur yang harus tetap ngebul, menahan mereka untuk cuek. Di titik ini, dukungan terhadap pedagang street food menjadi pilihan moral: menggunakan ketenaran untuk menampilkan kemewahan, atau mengembalikan sorotan ke tangan-tangan lelah di balik kue murah meriah.

Onyo dan Donat Sepi: Empati dari Anak Penjual Bakpao
Betrand Peto, yang akrab disapa Onyo, belakangan viral setelah videonya memborong donat dari pedagang pinggir jalan menyebar luas di media sosial. Momen itu terjadi ketika ia selesai dari kampus, melihat seorang bapak penjual donat dengan lima dus dagangan yang masih utuh, lalu memutuskan: “jadi aku borong saja semuanya”. Bagi sebagian orang, ini tampak seperti aksi instan. Bagi Onyo, ini adalah kilas balik.
Sebelum dikenal sebagai penyanyi di kota besar, ia pernah berjualan bakpao dan kue-kue lain buatan oma, keliling kampung dari usia 11 hingga 15 tahun. “Kalau kue bakpao itu harganya Rp1.000 per biji. Biasanya aku membawa 100 biji kue, jadi kalau laku semua dapat Rp100.000,” ucapnya. Di waktu yang sama, ia mengikat kayu bakar seharga Rp5.000 per ikat, memikul dan menjualnya keliling kampung dengan teriakan ‘kayu-kayu’. Memori tentang kue yang tidak laku dan harus dimakan sendiri bersama keluarga membuat pemandangan donat yang sepi pembeli terasa terlalu dekat di hati.
Lebih dari Konten: Dampak Sosial Saat Donat Dibonusi Empati
Yang menarik, pembelian lima dus donat itu tidak berhenti di transaksi ekonomi. Setelah membayar lunas, Onyo memberikan kembali dua dus kepada sang pedagang untuk dibagikan lagi kepada pengemis dan orang yang membutuhkan. Dalam satu gerak, ia menguatkan tiga lapis: penghasilan penjual, martabat penerima, dan kepercayaan diri dirinya sendiri sebagai orang yang pernah berada di posisi penjual kecil. Inilah bentuk aksi sosial selebriti yang tidak menggurui, melainkan menyambung rantai kebaikan.
Efek ikutannya signifikan. Video borong donat pinggir jalan membuat pedagang itu mendapat perhatian publik, meningkatkan visibilitas yang selama ini tidak ia miliki. Ini menunjukkan bahwa ketika selebriti dukung pedagang kaki lima, mereka bukan hanya memindahkan stok dari gerobak ke rumah, tetapi juga memindahkan spotlight ke UMKM kuliner Indonesia level akar rumput. Tindakan ini menjadi kritik halus terhadap budaya pamer: alih-alih memusatkan kamera pada barang mewah, kamera diminta fokus ke wajah-wajah lelah yang selama ini menghidupi kota lewat jajanan murah.
Bowo Alpenliebe: Dari Sorotan Layar ke Stan Donat
Kisah Bowo Alpenliebe menambah lapisan lain dalam hubungan selebriti dan pedagang street food. Sosok yang dulu pernah menjadi salah satu nama besar di awal kejayaan TikTok, kini memilih menjalani hari-harinya di stan donat bersama sang istri. Ia menekuni bisnis kuliner dengan menjual berbagai varian donat, mulai dari donat Thailand hingga donat bolong dengan harga antara Rp8.000 hingga Rp15.000 per buah. Ia menegaskan bahwa meski harganya ramah di kantong, bahan yang digunakan tetap premium dan krimnya dibuat segar setiap hari.
Yang menarik, Bowo tidak sepenuhnya meninggalkan dunia digital. Ia masih membuat konten dan siaran langsung, sekaligus menjalankan usaha lain seperti menjual barang preloved. Bedanya, kini sorotan itu bukan hanya untuk dirinya, tapi untuk stan kecil yang menjadi sumber nafkah keluarga. Di sini, UMKM kuliner Indonesia tidak sekadar didukung; selebriti sendiri menjadi bagian dari ekosistem pedagang kaki lima. Narasi ini membantah anggapan bahwa popularitas dan usaha kecil adalah dua dunia yang tak mungkin beririsan. Bowo menunjukkan bahwa turun tingkat ke stan donat bukan kemunduran, melainkan bentuk kedewasaan ekonomi dan kemandirian.
Solidaritas Grassroot: Mengubah Empati Menjadi Gerakan
Benang merah dari kisah Onyo dan Bowo adalah solidaritas terhadap pedagang mikro. Onyo menegaskan bahwa instingnya membantu pedagang kecil muncul karena ia pernah berada di posisi yang sama. Bowo, sementara itu, memilih meninggalkan eksklusivitas sorotan demi berdiri sejajar dengan pedagang street food lain di kawasan perumahan. Dalam dua arah berbeda, keduanya memusatkan perhatian pada UMKM kuliner Indonesia yang sering kali hidup di pinggiran perbincangan ekonomi arus utama.
Pertanyaannya: apakah ini sekadar momen viral, atau awal gerakan? Jawabannya bergantung pada publik—bukan hanya selebriti. Jika borong donat pinggir jalan dipahami sebagai ajakan, maka setiap orang dengan sedikit kelonggaran dompet bisa mengadopsi pola yang sama: beli lebih banyak dari pedagang langganan, promosikan mereka di media sosial, atau sekadar tidak menawar berlebihan. Kesimpulannya, aksi sosial selebriti akan kehilangan makna jika berhenti di linimasa. Nilai sejatinya baru terasa ketika empati yang lahir dari bakpao dan kayu bakar itu menular menjadi budaya: menyejahterakan ekonomi rakyat dengan transaksi kecil, tapi konsisten.






