Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Pendidikan Karakter Jadi Benteng Utama Siswa di Era AI

Pendidikan Karakter Jadi Benteng Utama Siswa di Era AI
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Karakter sebagai Benteng di Tengah Gempuran AI

Pendidikan karakter siswa adalah upaya sadar dan terencana di sekolah untuk menanamkan nilai, akhlak, dan tata krama yang membentuk kepribadian, perilaku sosial, serta integritas moral peserta didik agar mampu mengambil keputusan bijak di tengah perubahan teknologi yang cepat, termasuk kehadiran kecerdasan buatan. Di Makassar, arah kebijakan pendidikan kini jelas: kecerdasan buatan boleh melesat, tetapi akhlak tidak boleh terseret arus. Wali Kota Munafri Arifuddin menegaskan bahwa penguatan pendidikan karakter, akhlak, tata krama, dan nilai budaya lokal harus menjadi prioritas di tengah perkembangan teknologi AI. Pesannya tegas: sekolah tidak boleh hanya mencetak anak yang mahir algoritma, tetapi juga berjiwa halus, tahu sopan santun, dan kuat memegang nilai kemanusiaan. Tanpa itu, AI berubah dari alat bantu menjadi ancaman.

Asesmen 464 Kepala Sekolah: Menguji Serius atau Formalitas?

Asesmen kepala sekolah yang diikuti 464 peserta SD dan SMP di Makassar bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan cermin seberapa serius kota ini menjadikan karakter sebagai prioritas. Forum ini dibingkai sebagai momentum memetakan pembenahan sektor pendidikan agar tidak tertinggal di era AI, sekaligus menguatkan budaya lokal sekolah sebagai identitas yang tidak boleh luntur. Di panggung asesmen itu, Wali Kota meminta para kepala sekolah menyampaikan persoalan krusial di satuan pendidikan, dari mutu kurikulum hingga infrastruktur, agar pembenahan tidak berhenti di dokumen administratif. Kutipan yang layak digarisbawahi: pemerintah menekankan bahwa peningkatan kualitas pendidikan tidak hanya menyangkut akademik dan kurikulum, tetapi juga pembentukan karakter serta ketersediaan infrastruktur yang memadai. Pertanyaannya kini: apakah para kepala sekolah siap mengubah asesmen ini menjadi peta aksi, bukan sekadar laporan.

‘Appaka Baji’: Contoh Konkret Integrasi Budaya Lokal dan Kurikulum Modern

Jika asesmen adalah panggung kebijakan, maka program “Appaka Baji” di SMPN 37 Makassar adalah buktinya di lapangan. Sekolah ini menggelar momen bersejarah dalam dunia pendidikan karakter dengan mengusung nilai kearifan lokal Bugis-Makassar yang menekankan kebaikan, integritas, dan gotong royong sebagai jiwa program. Pendidikan karakter di sini tidak berhenti pada slogan; ia diterjemahkan menjadi empat program prioritas: layanan Bimbingan dan Konseling, pelatihan life skill, sit in dan pembinaan oleh TNI serta Polisi, serta project dan refleksi diri. Pendekatan ini menunjukkan bagaimana budaya lokal sekolah dapat menyatu dengan kurikulum modern: disiplin diperkuat lewat mitra TNI dan Polisi, kesehatan mental didukung psikolog, dan pencegahan narkoba dibantu lembaga terkait. Inilah pendidikan karakter siswa yang menyentuh konteks nyata kehidupan mereka, bukan materi abstrak di lembar buku.

Pendidikan Karakter Jadi Benteng Utama Siswa di Era AI

AI dan Budaya Lokal: Mengapa Siswa Butuh Akar, Bukan Hanya Akses

Masalah terbesar di era AI bukan sekadar kesenjangan perangkat, tetapi kesenjangan karakter. Anak-anak tumbuh di lingkungan yang sangat dekat dengan platform digital dan kecerdasan buatan, sementara banyak guru dan kepala sekolah masih mengejar kemampuan memahami teknologi ini. Tanpa penguatan akhlak, budi pekerti, dan tata krama, akses pada AI bisa mengikis empati dan rasa hormat. Di sinilah pentingnya budaya lokal sekolah: nilai Bugis-Makassar tentang siri’, pacce, atau gotong royong mengajarkan martabat, solidaritas, dan tanggung jawab. Pemerintah kota merespons dengan menyiapkan penguatan kurikulum yang memberi porsi lebih besar pada budi pekerti, tata krama, agama, dan nilai yang relevan dengan kehidupan masyarakat. AI dan pendidikan karakter tidak boleh diposisikan sebagai dua kutub yang saling meniadakan; AI seharusnya menjadi alat yang dikendalikan oleh nilai, bukan pengganti nilai.

Pendidikan Karakter Jadi Benteng Utama Siswa di Era AI

Dari Program ke Gerakan: Konsistensi sebagai Taruhan

Semua inisiatif ini akan sia-sia bila berhenti pada seremoni dan slogan. Kepala SMPN 37 Makassar mengakui tantangannya: dibutuhkan konsistensi, komitmen, dan evaluasi berkala agar setiap program prioritas berjalan optimal. Pemerintah kota pun menekankan agar asesmen kepala sekolah tidak berhenti pada evaluasi administratif, tetapi menjadi sarana mengidentifikasi persoalan nyata dan menyusun langkah perbaikan pendidikan yang lebih terarah. Ke depan, kunci keberhasilan ada pada tiga hal: sekolah yang berani menjadikan karakter sebagai indikator utama keberhasilan, keluarga yang mau terlibat aktif, dan pemerintah yang setia mengawal kurikulum hingga infrastruktur. Pendidikan karakter siswa harus naik kelas dari program insidental menjadi gerakan bersama. Di era AI, sekolah yang kuat bukan sekolah dengan gawai tercanggih, tetapi sekolah yang paling jelas arah moral dan budayanya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!