Permainan Tradisional sebagai Jawaban atas Ketergantungan Gadget Anak
Permainan tradisional anak adalah aktivitas bermain yang berasal dari budaya lokal, diwariskan lintas generasi, dilakukan secara langsung tanpa bantuan perangkat digital, dan menggabungkan gerak fisik, interaksi sosial, serta aturan sederhana yang mengajarkan kerja sama, sportivitas, dan nilai kebersamaan sejak usia dini. Di Mojokerto, permainan tradisional sedang naik pangkat: dari sekadar nostalgia menjadi strategi kebijakan. Pemerintah kota menjadikannya alternatif screen time anak untuk menekan ketergantungan gadget anak yang kian mengkhawatirkan. Ini bukan pendekatan romantis yang ingin memutar waktu ke masa lalu, melainkan langkah sadar untuk menyeimbangkan pengaruh teknologi dengan kesehatan sosial budaya dan perkembangan mental anak. Pesannya jelas: layar perlu dibatasi, ruang bermain nyata harus dikembalikan.

Mojokerto Menggeser Fokus: Dari Layar ke Lahan Bermain
Saat banyak daerah sibuk merayakan kemajuan teknologi, Pemerintah Kota Mojokerto memilih jalur yang berbeda: menata ulang masa kecil melalui permainan tradisional anak. Dalam sosialisasi permainan tradisional di Taman Bahari Majapahit, Bunda PAUD bersama HIMPAUDI Kecamatan Prajuritkulon mengajak anak kembali bermain Kopral Sandal, Jamuran, Sluku-Sluku Batok, Cublak-Cublak Suweng, dan Gong-Gong Bolong. Di balik suasana riang, ada pesan tegas: permainan tradisional ditawarkan sebagai pengganti aktivitas di layar yang konsumtif dan pasif. Pemerintah secara terang menyebut kegiatan ini sebagai alternatif yang edukatif dan menyenangkan sekaligus mampu mengurangi ketergantungan terhadap gawai dan permainan daring. Dengan kata lain, kota ini tidak sekadar mengeluh soal screen time anak, tetapi menyediakan pilihan konkret yang lebih sehat.

Ketahanan Sosial-Budaya: Nilai yang Tak Bisa Diberikan Gadget
Ketergantungan gadget anak bukan hanya soal mata lelah atau kurang gerak; dampak utamanya adalah terkikisnya pengalaman sosial dan ikatan dengan budaya lokal. Pemerintah Kota Mojokerto terang-terangan menyebut permainan tradisional sebagai cara memperkuat ketahanan sosial-budaya anak dan masyarakat. Dari sudut pandang kebijakan, ini cerdas: setiap permainan membawa pelajaran gotong royong, kejujuran, sportivitas, disiplin, dan tanggung jawab. Gadget mungkin bisa menghibur, tetapi tidak mampu menggantikan tatap muka, negosiasi aturan, dan empati yang tumbuh saat anak berebut peran dalam permainan. Ketika wali kota melalui staf ahli menegaskan bahwa karakter tersebut adalah fondasi generasi tangguh, sebenarnya ada kritik halus terhadap budaya layar yang individualistik. Mojokerto memilih membangun modal sosial, bukan sekadar literasi digital.
Edukasi Orang Tua: No Screen Time untuk Periode Emas
Kebijakan permainan tradisional akan pincang jika rumah tetap dikuasai layar. Di sinilah peran Pemerintah Kabupaten Mojokerto yang menggerakkan edukasi orang tua melalui kegiatan Gema Pitu di Posyandu Terintegrasi Terpadu Desa Jatipasar, Trowulan. Dalam forum itu, Ning Hana menekankan bahwa pemantauan tumbuh kembang anak adalah bagian dari percepatan penurunan stunting dan harus dilakukan sejak dini. Ia tidak hanya bicara gizi dan MPASI, tetapi menegur langsung budaya screen time anak: orang tua diminta tidak mengenalkan gadget pada anak usia 0–2 tahun karena masa tersebut merupakan periode emas perkembangan otak, dengan pesan tegas, “No screen time, tidak ada dikenalkan gadget”. Sikap ini penting: pemerintah tidak memaklumi layar sebagai “pengasuh murah”, melainkan menempatkan literasi lewat buku dan stimulasi nyata sebagai prioritas.
Dari Seremonial ke Kebiasaan: Jalan Panjang Menuju Generasi Emas
Upaya Mojokerto belum sempurna, tetapi arahnya sudah benar. Menggunakan permainan tradisional untuk menekan ketergantungan gadget anak adalah langkah berani karena menantang kenyamanan orang tua dan pola konsumsi digital. Pemerintah kota sendiri mengakui bahwa pelestarian permainan tradisional tidak boleh berhenti di acara seremonial; permainan harus menjadi bagian dari keseharian di rumah dan sekolah. Visi kota layak anak yang mengarah ke Generasi Emas 2045 menuntut lebih dari sekadar infrastruktur: perlu kebiasaan bermain yang sehat, karakter kuat, dan kecintaan pada budaya. Di sisi lain, edukasi Posyandu dan pemanfaatan Buku KIA untuk memantau tumbuh kembang menunjukkan bahwa kesehatan sosial budaya dan fisik dilihat sebagai satu paket. Kesimpulannya, jika daerah lain mengikuti jejak ini, masa depan anak tidak akan ditentukan layar, melainkan oleh permainan, buku, dan komunitas.





