Koleksi yang mencerminkan kedalaman tim
Para atletik Indonesia adalah cabang olahraga yang mempertandingkan nomor atletik bagi atlet dengan ragam disabilitas, dan menjadi salah satu penyumbang penting medali kontingen di Asian Para Games. Tim ini menutup kompetisi di Aichi-Nagoya dengan 22 medali: tiga emas, delapan perak, dan 11 perunggu. Capaian tersebut layak dibaca bukan hanya sebagai hitungan podium, tetapi sebagai tanda bahwa kontribusi tim tersebar di banyak nomor dan atlet. Emas dari tiga atlet berbeda memperlihatkan bahwa hasil puncak tidak bertumpu pada satu nama saja, sementara 19 medali lainnya menunjukkan luasnya daya saing. Bagi kontingen, sumbangan para atletik memperkuat perolehan keseluruhan; bagi cabang ini, raihan tersebut memberi tolok ukur yang jelas untuk menilai kekuatan dan pekerjaan yang masih perlu dilanjutkan.
Empat medali terakhir datang pada Jumat, 23 Oktober: Partin Muhlisin meraih emas, Ansyari dan Saptoyogo Purnomo menyumbang perak, sementara Rica Oktavia membawa pulang perunggu. Partin menjadi penutup yang kuat dengan kemenangan pada lari 100 meter putra T63, mencatat 12,37 detik sekaligus memecahkan rekor Asian Para Games. Sebelumnya, I Kadek Dwi Purwana Yasa meraih emas lempar cakram putra F57 dan memecahkan rekor dunia, sedangkan Karisma Evi Tiarani menjadi juara 100 meter putri T63 dengan waktu 14,59 detik. Rangkaian ini membuat 22 medali Asian Para Games terasa lebih bermakna: prestasi tim mencakup kemenangan, rekor, dan sumbangan dari banyak atlet.
Empat medali Rifky, satu rekor yang menonjol
Di tengah kuatnya kontribusi tim para atletik Indonesia, pencapaian Maulana Rifky Yavianda menambah alasan untuk menyoroti luasnya prestasi kontingen. Mahasiswa S-2 Manajemen Olahraga Universitas Negeri Surabaya itu meraih empat medali renang di Asian Para Games 2026 di Nagoya, yang berlangsung pada 18–24 Oktober. Ia membawa pulang dua emas dari nomor 100 meter gaya bebas S12 dan 100 meter gaya punggung S12 putra, serta dua perak dari 100 meter gaya kupu-kupu S12 dan 50 meter gaya bebas S13 putra. Empat podium tersebut bukan sekadar tambahan pada daftar hasil. Prestasinya menunjukkan bahwa keberhasilan kontingen dibangun oleh atlet dari cabang berbeda, dengan capaian yang sama-sama berpengaruh terhadap nama besar tim.
Puncak kiprah Rifky hadir pada 100 meter gaya punggung S12. Ia mencatat 1 menit 3,07 detik, melampaui rekor Asia sebelumnya, 1 menit 3,46 detik, yang dipegang perenang Jepang Genki Saito sejak Mei 2026. Rifky juga mempertajam rekor Asian Para Games miliknya sendiri, yakni 1 menit 3,55 detik dari Hangzhou pada 2023. Rekor Asia atletik bukan istilah yang tepat untuk pencapaian ini karena nomor tersebut adalah renang; yang dipecahkan Rifky ialah rekor Asia nomor gaya punggung S12. Ketepatan ini penting agar sorotan terhadap prestasinya tidak mengaburkan cabang dan nomor yang sebenarnya. Empat medali dan catatan rekor itu membuat penampilannya menjadi salah satu kisah paling menonjol dari Nagoya.
Ketenangan sebagai modal menuju kompetisi berikutnya
Rekor Rifky memperlihatkan bahwa hasil besar tidak selalu lahir dari tekanan untuk mengejar gelar, melainkan dari kemampuan mengelola perlombaan. Ia mengaku sempat gugup saat melihat lawan, meski pelatih tidak menetapkan target khusus untuk meraih emas. Pada nomor gaya punggung, ia memilih menikmati perlombaan dan memusatkan perhatian pada performanya sendiri; pendekatan itu membantunya tampil lebih rileks dan mencatat rekor Asia. Ini pelajaran yang layak diperhatikan: konsistensi latihan perlu disertai kendali fokus, terutama saat menghadapi persaingan internasional. Sebagai mahasiswa S-2 sekaligus atlet nasional, Rifky juga menunjukkan bahwa pendidikan dan karier olahraga dapat berjalan beriringan. Kisahnya menambah dimensi pada empat medalinya—prestasi yang ditopang proses, disiplin, serta dukungan keluarga.
Rifky berharap meningkatkan catatan waktunya dan menyiapkan diri untuk kompetisi internasional berikutnya, termasuk Paralimpiade Los Angeles. Harapan itu memberi arah setelah Asian Para Games, sementara perolehan tim para atletik Indonesia menyediakan dasar evaluasi yang konkret: 22 medali dengan sebaran emas, perak, dan perunggu. Kesimpulannya, capaian di Nagoya patut diapresiasi sebagai hasil kolektif, bukan hanya deretan angka atau kisah satu bintang. Namun, empat medali Rifky dan rekor Asia yang ia pecahkan menunjukkan betapa satu penampilan luar biasa dapat memberi gaung lebih luas. Tantangan berikutnya adalah menjaga momentum: mengembangkan kekuatan tim, memperbaiki performa, dan membawa pengalaman dari Nagoya ke persaingan selanjutnya.






