Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Format TKA Berubah Total: Satu Mapel per Hari, Siswa Wajib Ubah Strategi

Format TKA Berubah Total: Satu Mapel per Hari, Siswa Wajib Ubah Strategi
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Apa Itu Format TKA 2026 dan Apa yang Berubah?

Format TKA 2026 adalah rancangan baru Tes Kemampuan Akademik untuk SMA/SMK/MA/sederajat yang mengatur ulang jadwal, pembagian mata pelajaran wajib dan pilihan, serta durasi ujian agar beban kognitif siswa lebih terkelola dan fokus belajar bisa diarahkan per hari. Dalam format TKA 2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mengubah pelaksanaan ujian menjadi empat hari untuk jenjang SMA, SMK, MA, dan sederajat, dengan mata pelajaran wajib dipisah ke hari yang berbeda serta durasi pengerjaan tiap mata pelajaran wajib diperpanjang menjadi 75 menit per sesi. Peserta TKA mengerjakan tiga mata pelajaran wajib—Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris—ditambah dua mata pelajaran pilihan sesuai minat, kemampuan, dan rencana studi lanjut.

Perubahan ini bukan sekadar teknis; ini sinyal bahwa pola ujian nasional bergeser dari maraton mata pelajaran dalam satu hari ke fokus mendalam per mapel. Menurut Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen, pemisahan mata pelajaran dilakukan agar beban kognitif siswa tidak menumpuk selama ujian dan mengurangi kelelahan. Artinya, cara belajar gaya lama—menumpuk semua materi sekaligus—tidak lagi cocok. Siswa yang cepat menyesuaikan diri dengan format TKA 2026 berpeluang lebih besar memanfaatkan durasi ujian 75 menit secara optimal dan mengubah waktu ujian yang lebih panjang itu menjadi keuntungan, bukan jebakan.

Empat Hari Ujian: Satu Mapel Wajib per Hari, Beban Mental Dipecah

Format TKA 2026 diubah menjadi empat hari, dan di sinilah perubahan paling besar dirasakan siswa. Setiap hari, peserta mengerjakan mata pelajaran yang berbeda: hari pertama Bahasa Indonesia yang kemudian dilanjutkan dengan Survei Karakter, hari kedua Bahasa Inggris dan Survei Lingkungan Belajar, hari ketiga Matematika, dan dua mata pelajaran pilihan digeser ke hari keempat. Secara struktur, tiga mapel wajib tidak lagi dikumpulkan dalam satu rentang waktu berdekatan, melainkan disebar agar konsentrasi siswa bisa diarahkan ke satu fokus utama per hari.

Secara psikologis, ini langkah yang patut diapresiasi. Kemendikdasmen terang-terangan mengakui bahwa pengaturan ujian sebelumnya perlu disempurnakan agar siswa tidak menghadapi terlalu banyak mata pelajaran dalam satu hari. Mereka bahkan menegaskan, “Kami tidak ingin semua peserta TKA menumpuk beban kognitifnya kemudian lelah,” kata Rahmawati, Kepala Pusat Asesmen Pendidikan. Namun, di sisi lain, siswa sekarang menghadapi empat hari ujian berturut-turut. Kelelahannya bukan lagi dari banyak mapel dalam satu hari, melainkan dari konsistensi performa beberapa hari. Yang siap secara stamina belajar dan mental akan menang; yang menganggap empat hari ini ringan bisa terjebak rasa aman palsu.

Durasi Ujian 75 Menit: Waktu Lebih Panjang, Tekanan Juga Berbeda

Kebijakan durasi ujian 75 menit per mata pelajaran wajib adalah pedang bermata dua. Di atas kertas, Kemendikdasmen menyebut perpanjangan durasi ini dilakukan agar peserta memiliki waktu yang lebih optimal dalam mengerjakan soal. Bahasa Indonesia diberi 30 soal dengan durasi 75 menit, Bahasa Inggris juga 30 soal dalam 75 menit, sementara Matematika terdiri atas 25 soal dengan waktu sama 75 menit. Tujuannya jelas: memberi ruang lebih besar kepada siswa untuk memahami dan menyelesaikan soal tanpa tergesa-gesa.

Namun, tambahan waktu bukan otomatis kabar baik jika siswa tidak mengelola ritme pengerjaan. Waktu yang lebih panjang bisa berubah menjadi zona nyaman, membuat sebagian peserta terlena, mengulang-ulang bacaan, dan berakhir menumpuk soal di menit-menit terakhir. Kemendikdasmen berharap dengan pembagian ini siswa “lebih fokus, lebih berkonsentrasi, tidak lelah, dan bisa mengerjakan soal-soal mata pelajaran wajib secara optimal”. Kuncinya sekarang bergeser: bukan lagi seberapa cepat mengerjakan soal, tetapi seberapa cerdas membagi 75 menit untuk membaca, menganalisis, dan mengecek ulang tanpa membuang waktu.

Jadwal, Gelombang, dan Konsekuensi Bagi Manajemen Belajar

Perubahan format TKA 2026 tidak berhenti di struktur mapel. Kemendikdasmen memajukan jadwal pendaftaran yang semula direncanakan mulai 18 Agustus dimajukan menjadi 27 Juli, dengan masa pendaftaran berlangsung sampai 27 September. Mereka menegaskan percepatan pendaftaran dilakukan agar satuan pendidikan memiliki waktu lebih panjang untuk verifikasi dan pembaruan data peserta. Setelah itu, rangkaian jadwal cukup padat: simulasi pada 21–27 September, gladi bersih 5–18 Oktober, pelaksanaan utama 26 Oktober–8 November, pelaksanaan susulan 16–29 November, dan pengumuman hasil pada 23 Desember.

TKA juga dibagi ke dalam beberapa gelombang: gelombang 1 pada 26–29 Oktober, gelombang 2 pada 2–5 November, dan gelombang khusus pada 31 Oktober–1 November serta 7–8 November. Artinya, siswa tidak punya alasan untuk datang ke ujian tanpa persiapan karena jadwal jelas dan berlapis. Bagi yang cermat, rentang waktu dari simulasi hingga pelaksanaan utama adalah kesempatan emas untuk menguji strategi belajar dan mengoreksi kelemahan. Bagi yang abai, jadwal panjang ini bisa terasa melelahkan dan menambah kecemasan. Format baru TKA memaksa siswa disiplin dari jauh hari, bukan hanya menjelang ujian.

Strategi Persiapan TKA Baru: Atur Ulang Pola Belajar dan Waktu

Dengan format TKA 2026 yang memisahkan mata pelajaran wajib per hari dan memberi durasi ujian 75 menit, siswa perlu mengubah cara belajar. Kemendikdasmen menerima aspirasi agar siswa hanya menghadapi satu mata pelajaran wajib setiap hari supaya persiapan dan konsentrasi lebih terarah. Ini artinya, persiapan ideal bukan lagi belajar semua mapel sekaligus setiap hari, melainkan menyusun jadwal harian yang meniru format ujian: satu fokus utama per sesi belajar, ditambah latihan manajemen waktu 75 menit per set soal. Ajakan untuk mulai mempersiapkan diri dan menyusun strategi mengerjakan TKA dari sekarang bukan basa-basi; ini peringatan dini.

Secara praktis, siswa perlu membagi persiapan menjadi tiga blok besar: penguasaan materi tiap mapel wajib dan pilihan, latihan soal berbasis waktu dengan simulasi 75 menit, serta penguatan stamina belajar empat hari berturut-turut. Jadikan simulasi resmi dan gladi bersih sebagai ajang uji strategi, bukan sekadar formalitas. Format TKA 2026 dirancang untuk mengurangi kelelahan mental melalui pemisahan mapel wajib dan pilihan, tetapi hanya akan terasa adil bagi mereka yang disiplin mengatur pola tidur, jam belajar, dan fokus harian. Kesimpulannya sederhana: format berubah mendukung siswa, tetapi hasil akhir tetap ditentukan oleh seberapa serius mereka menata ulang strategi persiapan TKA baru sejak sekarang.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!